Kamis, 16 Mei 2013

GHOIB MENURUT ISLAM





Oleh  :  pak  Agus  Balung



“Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”.  (QS. An-Naml: 65).


Definisi Ghaib

Ghaib secara bahasa adalah sesuatu yang tidak tampak. Sedangkan ghaib menurut istilah adalah sesuatu yang tidak tampak oleh panca indra tapi ada dalil tertulis yang menjelaskan akan keberadaannya. Apabila ada dalil yang jelas dari ayat atau hadits yang shahih akan keberadaan sesuatu yang ghaib itu lalu diingkari, maka pengingkaran itu bisa menjadikan pelakunya kafir. Karena dia telah mengingkari bagian dari ajaran agama yang penting.

Misalnya keberadaan makhluk Allah yang bernama jin. Allah telah menginformasikan kepada kita semua akan keberadaan jin di dalam al-Qur’an, bahkan salah satu dari surat al-Qur’an ada yang bernama surat jin, yaitu surat ke 72.
Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Adz-Dzariyat: 56).

Begitu juga dalam hadits Rasulullah telah bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah)”. (HR. Muslim).

Dalam ayat dan hadits di atas dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan jin sebagaimana Dia telah menciptakan manusia dan malaikat. Berarti keberadaan jin tidak boleh kita ingkari, walaupun kita tidak bisa melihat wujud dan keberadaan mereka, sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah “Sesungguhnya ia (iblis) dan teman-temannya melihat kamu (manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”. (QS. Al-A’raf: 27).


Oleh sebab itu makhluk Allah yang bernama jin itu dikategorikan sebagai makhluk ghaib, yang informasi keberadaannya ada dalam nash (teks), tapi kita tidak bisa melihatnya dengan panca indra kita.

Al-Quran sendiri telah menyebutkan kata “ghaib” kurang lebih sebanyak 56 kali. Dan di permulaan surat al-Baqarah, Allah meyebutkan salah satu dari karakter orang-orang yang bertaqwa adalah, orang-orang yang beriman kepada yang ghaib. “Alif Lam Mim. Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan di dalam padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib...”. (QS. Al-Baqarah: 1-3).

Ayat tersebut sebagai dalil akan pentingnya mengetahui hal yang ghaib secara benar, lalu mempercayainya dan menjadikannya sebagai pilar-pilar keimanan. Kalau kita salah dalam memahami hal yang ghaib, berarti salah pula pilar iman yang kita miliki.

Maka dari itu untuk memahami hal yang ghaib kita membutuhkan referensi yang valid dan akurat, agar tidak menghasilkan pemahaman yang salah dan menyimpang. Dan referensi itu bernama al-Qur’an dan al-Hadits.

Seorang ahli tafsir yang bernama Abul ‘Aliyah berkata, “Yang dimaksud dengan ghaib pada ayat tersebut adalah Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari akhir, Surga dan Neraka-Nya, pertemuan dengan-Nya serta hari kebangkitan dan kehidupan setelah kematian”. (Tafsir Ibnu Katsir: 1/ 45).

 Dan kalau kita kalkulasi jumlah prosentase hal yang ghaib di sekitar kita terutama masalah akidah, maka akan kita dapatkan prosentase hal yang ghaib dan harus kita percayai akan lebih banyak jumlahnya dari pada yang nyata. Tapi karena keberadaannya ada dalam al-Qur’an dan disebutkan Rasulullah dalam haditsnya yang shahih, maka kita sebagai orang yang beriman dan bertaqwa harus mempercayainya dan meyakini dengan seyakin-yakinya tanpa keraguan sedikitpun.

Jadi, kita tidak boleh bicara tentang suatu yang ghaib hanya berdasarkan akal pikiran belaka, atau bersumber dari bisikan-bisikan ghaib, mimipi-mimpi, atau mitos-mitos yang berekembang. Kesemuanya itu harus kita filter dengan syari’at Islam. bila sesuai dan disahkan oleh syariat, berarti kita terima dan kita jadikan sebagai pilar keimanan. Tapi bila menyimpang dari syari’at atau bertolak belakang, maka harus kita tolak kebenarannya.

Masalah ghaib tidak hanya seputar kehidupan jin dan syetan sebagaimana yang banyak diekspos oleh media massa akhir-akhir ini. Karena jin dan syetan hanya bagian kecil dari masalah keghaiban yang sangat luas cakupannya. Kita belum pernah melihat suratan taqdir kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini, tapi kita harus percaya akan adanya taqdir yang telah digariskan Allah untuk kita, yang baik maupun yang buruk.
 Begitu juga dengan umur kita, Allah telah menentukan batasannya dan kita harus mempercayainya, walaupun kita belum tahu berapa lama ketentuan umur kita.


Dan masih banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan kita, yang termasuk kategori ghaib karena tidak bisa kita indra dengan panca indra kita. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tiada suatu pun yang basah dan kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Al-An’am: 59).


Jenis keghaiban dalam kehidupan kita

Secara umum jin itu seperti manusia, mereka tidak mengetahui hal yang ghaib sebagaimana manusia. Kelemahan itu diakui sendiri oleh jin, “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”.(QS. Al-Jin: 10).
 Keghaiban yang ada dalam kehidupan kita ada empat jenis, sebagian bisa diketahui oleh jin dan manusia dengan usaha-usaha mereka, dan sebagian lain tidak bisa dijangkau oleh mereka. Ragam dari keghaiban itu sebagai berikut:


1. Al-Ghaibul Madhi (Ghaib karena sudah berlalu),

yaitu segala sesuatu atau kejadian yang terjadi pada zaman dahulu, yang mana kita tidak hidup sezaman dengannya sehingga kita tidak bisa melihat keberadaannya. Sebenarnya keghaiban jenis ini bukan suatu ghaib yang tidak bisa diindra, tetapi karena keterbatasan indra kita untuk melihatnya dan karena berlalunya waktu, akhirnya masuk kategori ghaib.

Keghaiban jenis ini bisa ditembus oleh jin dan kroninya, ataupun manusia itu sendiri. Misalnya, telah terjadi perang Diponegoro dan pasukannya melawan penjajah Belanda. Bagi orang yang lahir setelah kemerdekaan negeri ini 1945, perang Diponegoro adalah kejadian yang ghaib, karena kejadian itu terjadi beberapa tahun silam. Kita sebagai manusia yang lahir setelah Tahun 1945 bisa melihat kejadian perang tersebut dengan melihat film dokumenter atau baca sejarahnya.


2. Al-Ghaibul Hadhir (Ghaib yang terjadi sekarang),

yaitu segala sesuatu yang ada atau kejadian yang terjadi pada zaman sekarang tapi ghaib bagi kita. Karena jauhnya kejadian dari posisi kita atau karena pandangan kita terhalang untuk bisa mengetahui kejadian itu.

Keghaiban jenis ini bisa dijangkau oleh jin ataupun manusia. Misalnya, ada seseorang yang datang ke dukun untuk mencari solusi dari permasalahan hidup yang menghimpitnya (usaha ini dilarang oleh Islam). Begitu orang itu masuk rumah dukun, si dukun langsung menebak dan membeberkan maksud orang tersebut sebelum orang tadi berkata sepatah katapun. Padahal orang tadi rumahnya sangat jauh dengan tempat tinggalnya dukun, tapi apa yang dikatakan dukun ternyata persis dan tidak melenceng.
Janganlah heran dengan fenomena itu, karena jin piaraan dukun telah bertanya atau diberitahu oleh jin qarin (pendamping) orang tersebut. Lalu dibisikkan ke telingan dukun, dan dukun pun nyerocos menebak maksud dari pasiennya yang datang. Bisa juga dengan cara yang sederhana, yaitu dukun tersebut mencari informasi dari orang bayarannya, atau para intel yang telah disebarnya seputar maksud dari pasien yang datang melalui telepon rumah atau HP nya.


3. Al-Ghaibul Istintaji (Ghaib yang bisa diprediksi),

 yaitu suatu kejadian yang belum terjadi, tapi bisa diketahui hasilnya dari pengamatan dan analisa atas fenomena, lalu ditarik kesimpulannya sesuai hukum sebab akibat. Dikategorikan ghaib karena hal itu belum terjadi. Tapi kalau sudah terjadi sesuai yang diprediksikan atau tidak, hal tersebut bukan ghaib lagi.

Keghaiban jenis ini juga bisa ditembus oleh jin, ataupun manusia biasa. Karena keghaiban ini berkaitan erat dengan hukum alam sebab akibat yang sudah diciptakan oleh Allah. Misalnya, orang yang normal kesehatannya dan pada suatu malam dia dia tidak tidur semalam suntuk. Kemudian ada temannya mengatakan, “Besok pagi kamu pasti ngantuk deh”. Setelah paginya datang, ternyata orang tersebut ngantuk berat. Dalam hal ini bukan berarti temannya tadi tahu sesuatu yang akan terjadi (ghaib), tapi itu adalah hasil dari sebab yang ada, yang secara sunnatullah akan berakibat seperti itu.
Jadi, ngantuk yang akan dialami orang yang bergadang semalaman itu adalah hal yang ghaib, karena belum terjadi dan hasilnya belum bisa dilihat oleh mata kita. Tapi setelah rasa ngantuk betul-betul menyerang orang tersebut, maka terbuktilah apa yang diucapkan temannya tadi. Walaupun bisa saja orang yang bergadang tadi melakukan suatu aktifitas atau minum ramuan tertentu yang bisa menahan rasa kantuk atau menghilangkannya, untuk mematahkan kesimpulan yang telah diambil oleh temannya.

Ketiga jenis keghaiban diatas sering juga disebut dengan ghaib nisbi atau semu dan relatif, karena sebenarnya tidak masuk dalam kategori ghaib. Hanya karena keterbasan indra manusia saja, akhirnya tidak bisa menembus dimensi ruang dan waktu. Tapi dengan cara-cara tertentu manusia terkadang bisa juga untuk mengetahui keghaiban yang nisbi, entah itu dengan menggunakan peralatan teknologi modern atau dengan cara mistik dan sihir. Apalagi jin, yang memang struktur tubuhnya berbeda dengan manusia dan bisa bergerak cepat, lebih cepat dari gerakan manusia. Maka sangatlah mudah bagi mereka untuk menembus tiga jenis keghaiban di atas.


4. Al-Ghaibul Muthlaq (Ghaib yang benar-benar ghaib),

atau sering juga disebut dengan Ghaib Hakiki. Yaitu, sesuatu yang ada atau peristiwa yang betul-betul terjadi, tapi panca indra kita tidak mampu menjangkau keberadaannya atau menangkap kronologi kejadiannya. Misalnya, Allah itu ada, tapi panca indra kita tidak pernah bisa melihat keberadaannya. Manusia dengan alat secanggih apapun tidak akan bisa melihat keberadaan Allah. Begitu juga jin, dengan cara apapun mereka tidak akan bisa melihat Allah.

Keghaiban jenis ini hanya diketahui oleh Allah, tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang bisa mengetahuinya, kecuali para Rasul yang telah diberi wahyu tentang keghaiban tersebut. Atau malaikat yang diberi amanah untuk menyampaikan wahyu itu kepada para Rasul-Nya. Termasuk keghaiban yang tidak diketahui jin adalah datangnya ajal pada seseorang.
Misalnya, kematian Nabi Sulaiman.
Allah berfirman, “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, jin baru mengetahuinya. Kalau sekiranya mengetahui hal yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”. (QS. Saba’: 14).


Keghaiban yang hanya diketahui oleh Allah

Banyak sesuatu yang belum bisa kita tangkap dengan indra kita di bumi tempat kita berpijak. Yang mana masih menjadi suatu misteri dalam kenidupan kita. Apalagi dengan sesuatu yang ada di langit atau kejadian-kejadian yang terjadi di sana. Memang banyak hal ghaib yang belum diberitahukan oleh Allah kepada kita, atau tidak akan diberitahukan kepada kita maupun makhluk lainnya termasuk jin. maka dari itu Rasulullah sendiri sebagai manusia yang paling sempurna dan paling dekat kepada Allah Dzat yang Maha mengetahui kunci-kunci keghaiban telah menyatakan:
“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya akau mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan yang sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf: 188).
 Inilah pengakuan Rasulullah bahwa dirinya tidak mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali yang sudah diberitahukan Allah melalui wahyu yang diterimanya.

Banyak keghaiban yang tidak diketahui oleh makhluk Allah, termasuk jin. diantaranya disebutkan Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah, hanya ada pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Luqman: 34).


Wallahu A’lam bis showab

Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua, bagi anda dan saya. Insya Allah.

Tidak ada komentar: