Senin, 22 April 2013

PERJALANAN PANJANG SEORANG PEMBURU ILMU HIKMAH




Oleh   :   pak  Agus  Balung

Menjadi orang sakti itu mahal harganya. Banyak hal yang harus dikorbankan. Bila pengorbanan itu hanya sebatas materi, waktu dan tenaga tidaklah mengapa. Semua itu hanya bersifat sementara, sekali lagi bersifat sementara.  Tapi kalau harus mengorbankan akidah, maka  jangan coba-coba untuk punya keinginan menjadi orang sakti. Derita berkepanjangan di akhirat segera menanti. Karena untuk menjadi sakti, mau tak mau harus bekerja sama dengan jin, seperti dituturkan Dida, sebut saja demikian, karena bukan nama sebenarnya,  mantan dukun yang bertaubat dan telah menamatkan hafalan al-Qur’an.
Berikut petikan kisahnya.


SEJAK KECIL, aku memang punya cita-cita ingin menjadi orang yang sakti mandraguna. Ditembak lakak-lakak, ditombak cengengesan. Darah orang sakti mengalir deras dalam diriku. Kakek terbilang orang sakti. Di kampung ku dia sangat terkenal. Untuk mendapatkan kesaktian itu, kakek rela berpuasa selama empat puluh hari dengan tetap bertengger di atas pohon kelapa.
Puasa empat puluh hari saja, banyak yang sudah tidak sanggup, karena bukan sembarangan. Tapi kakek sanggup melakukannya dengan tetap bertahan di atas pohon kelapa selama empat puluh hari. Semangat yang membaja-lah yang membuat kakek mampu bertahan, semua itu dilakukan untuk mewujudkan impian menjadi orang sakti. Karena itu, ketika kusampaikan keinginanku menjadi orang sakti, ibu tidak melarang. Toh, lelakon ngelmu itu bukan barang asing bagi ibu.

Pergulatanku dengan dunia kesaktian dimulai sejak aku duduk dibangku SMP. Awalnya, aku bergabung dengan perguruan silat di kampungku bersama teman-teman. Latihan-latihan fisik menjadi menu harian. Selain itu, aku juga nyantri di beberapa tempat. Lelakon dengan mulai puasa pun mulai kulakukan.
Sebenarnya, aku belum diperbolehkan puasa. Masih kecil, katanya. Hanya karena keinginan menjadi orang sakti begitu kuat, larangan itu tidak kuhiraukan. Aku nekat puasa yang terbilang berat untuk anak seusiaku.
Selama tiga hari, aku hanya berbuka dengan tiga suap nasi. Nasi dikasih air kemudian diaduk. Air nasi kemudian diminum seteguk, dua teguk. Kemudian nasinya dimakan tiga suap. Tidak boleh lebih. Setelah itu tidak boleh makan lagi, hingga sahur. Memang tidak ada larangan untuk sahur, tapi karena mulut terasa pahit, aku pun malas sahur. Praktis tiga hari hanya makan tiga suap nasi setiap buka.
Tiga hari pertama aku lulus. Dilanjutkan dengan puasa tujuh hari. Meski badan terasa lemas, tapi aku masih sanggup menyelesaikannya. Terakhir puasa dua puluh satu hari.
Puasanya memang berat sekali. Apalagi orang disekitarku tidak ada yang berpuasa. Hanya aku sendiri. Cobaannya begitu berat kurasakan. Susah tidur. Ketika ibu menggoreng ikan asin saja, aku sudah ngiler. Karena saking pinginnya. Setelah menyelesaikan puasa dua puluh satu hari, aku bisa melakukan gerakan-gerakan silat yang selama ini tidak pernah kupelajari.
Sukses berpuasa selama tiga puluh hari, membuat tekadku semakin kuat. Aku pun mulai berkelana dengan beberapa teman. Sesekali aku berguru ke Jawa Tengah. Tetapi aku tinggal di JawaTimur yang berbatasan dengan Jawa Tengah.

Kalau ada orang sakti, kudatangi. Biasanya aku datang bersama teman-teman seperguruan. Pernah, ketika bertandang ke ’orang sakti’ aku diisi dengan tenaga dalam tingkatan menengah. Setelah diisi langsung dicoba. Memang, ketika ada teman yang memukulku, dia langsung terpental. Waktu itu aku heran, kok bisa begitu. Aku pun menganggap itu adalah kelebihan yang diberikan Allah.

Selama berkelana, orang tuaku berpesan, agar aku tidak bekerja sama dengan jin. ”itu ngga boleh,” katanya. Sepengetahuan orang tuaku dukun-dukun itu bekerja sama dengan jin. Tapi apa tang kupelajari berbeda dengan ilmu perdukunan. Aku wiridan dengan ayat-ayat Al-Qur’an atau doa yang berbahasa Arab. Jadi, mereka tidak melarang.

Wiridan dalam hitungan yang banyak
Masa-masa SMA tidak jauh berbeda. Aku masih bergelut dengan dunia kesaktian. Entah sudah berapa tempat yang kudatangi. Selain itu, aku juga mulai membiasakan diri bermalam di kuburan. Lebih dekat dengan orang-orang sakti yang jasadnya terbaring di dalam tanah, pikirku. Bagi kebanyakan orang, kuburan adalah tempat yang angker. Jangankan bermalam disana, untuk melintas siang hari saja banyak yang tidak berani. Rasa takut itu seakan sudah hilang dari diriku. Bagiku, bermalam di kuburan tidak berbeda dengan bermalam di rumah sendiri. Aku merasa nyaman saja disana. Terlebih aku merasa dapat lebih dekat dengan orang-orang sakti disana.

Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur. Aku masuk fakultas sastra Inggris. Awalnya, kujalani masa perkuliahan dengan senang. Hingga suatu ketika, teman-teman di fakultas mengadakan kegiatan yang bernuansa islami. Saat itulah, aku tertegun dengan bacaan al-Qur’an yang di perdengarkan di awal acara. Terasa ada desiran-desiran halus yang merasuk ke dalam jiwa. Ada dorongan yang mengarahkanku untuk menjadi seorang penghafal al-Qur’an.
Dorongan yang kuat itu tak mampu lagi kutahan. Hingga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan sastra Inggris dan bergelut dengan al-Qur’an. Ketika kusampaikan keinginanku itu kepada orang tuaku, mereka tidak melarang. Mereka hanya berpesan, agar aku serius dengan keputusanku. Menjadi seorang penghafal al-Qur’an tidaklah semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan tekad yang membaja agar tak luntur di tengah jalan.
Nasehat orang tua kusanggupi. Aku pun meninggalkan rumah dengan satu tujuan. Mencari pondok tahfidz. Pilihanku adalah Banten, Jawa Barat. Meski di Jawa Tengah juga ada pondok tahfidz, tapi aku lebih memilih Banten. Lokasinya yang jauh dari rumah menjadi alasan tersendiri mengapa aku memilih Banten. Biar tidak pulang terus, jawabku ketika ditanya bapak.
Waktu pertama ke Banten itu seakan ada yang membimbing. Bukan ke pondok tahfidz, tapi aku diarahkan ke pesantren yang mengajarkan ilmu kesaktian.
Ceritanya begini. Aku belum pernah ke Banten. Sementara wilayah Banten itu luas dan banyak pesantrennya. Ketika sampai di terminal Kalideres Jakarta Barat, kondektur bertanya, ”mau kemana” kujawab saja ”Banten” sambil kuserahkan uang dua ribu lima ratus rupiah.
Ternyata aku diturunkan di Cadasari. Disana ada pesantren yang terkenal. Ongkos bis pun juga pas. Dua ribu lima ratus rupiah. Sebenarnya, ketika tiba di daerah Cadasari, rasanya aku sudah ingin turun saja. Sepertinya, hatiku cocok dengan daerah tersebut. Padahal aku belum mendapat informasi apa-apa tentang Cadasari. Apakah ada pondok tahfidz atau pondok yang mengajarkan ilmu-ilmu islam lainnya.
Setelah bertanya kesana kemari, aku disarankan untuk mondok disebuah pesantren terkenal disana. Kupikir, tidak ada salahnya bila aku belajar di pondok tersebut. Toh, banyak juga santri dari daerah lain yang juga punya tujuan yang sama denganku.
Masalahnya, pondok tersebut tidak mengkhususkan diri dalam hafalan al-Qur’an. Ia tak ubahnya seperti pondok-pondok lain yang bergaya salaf yang mengajarkan kitab kuning. Kitab kuning adalah sebutan untuk kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak berharakat.
Di sanalah aku berlabuh. Meski di pondok tersebut tidak ada hafalan al-Qur’an, aku tidak terlalu kecewa. Karena aku mendapat gantinya. Cita-citaku menjadi ’orang sakti’ dapat kembali terasah. Lelakon puasa atau wiridan-wiridan tertentu kembali menjadi menu harianku.
Untuk menjadi orang yang ’sakti’ aku mengamalkan Hizb Nashr yang diawali dengan puasa tujuh hari. Hari pertama, berbuka dengan tujuh suap nasi. Hari kedua dengan enam suap, begitu seterusnya hingga hari ketujuh, aku tidak makan sama sekali.
Berat memang. Tapi karena tekad yang membaja, semua hambatan itu seakan tidak ada artinya. Bersamaan dengan puasa itu, aku juga harus wiridan ayat dan do’a-do’Aceh tertentu setiap selesai solat. Nah, saat mewirid Hizb Nashr itu ada keanehan.
Dari hidung, mata dan pori-poriku keluar darah. Tapi anehnya, aku tidak merasakan sakit. Menurut penjelasan yang kudengar, katanya, darah itu keluar sebagai akibat dari suhu panas dalam badanku yang meningkat saat merapal wirid Hizb Nashr.
”kamu tidak usah khawatir. Itu tidak berbahaya. Kalau ingin menghentikannya, bacalah al-Qur’an, maka darah akan terhenti dengan sendirinya,” kata guru memberi wejangan sebelum aku mulai lelakon Hizb Nashr.
Aneh memang. Darah tidak lagi keluar dari hidung, mata dan pori-pori begitu kubacakan al-Qur’an. Entahlah mengapa hal itu bisa terjadi. Waktu itu aku tidak begitu memperdulikan. Aku hanya ingin menguasai Hizb Nashr, tanpa banyak mempertanyakan keanehannya.
Hizb Nashr hanya sebagian dari ilmu kesaktian yang kupelajari. Terkadang, aku harus memasang telinga lebar-lebar dimana ada guru yang sakti di Banten. Bila sudah dapat kesanalah aku berguru.
Untuk menguasai sebuah ilmu aku pernah wiridan sebanyak dua juta kali. Jumlah yang sangat besar memang. Untuk menyelesaikannya, aku tidak keluar kamar selama empat puluh hari.
Mencuci pakaian saja, aku tidak sempat. Aku meminta tolong salah seorang temanku. Keluar kamar pun aku hanya sesekali. Itu pun hanya untuk berwudhu. Selebihnya aku duduk bersila diri di kamar dengan terus wiridan.
Orang kampung yang lama tidak melihat kehadiranku ditengah-tengah mereka penasaran. Mereka hanya mendengar kabar dari teman-teman bahwa aku lelakon di kamar. Mereka semakin penasaran. Kok lama sekali, kata mereka. Aku memang akrab dengan warga sekitar. Tidaklah mengherankan bila mereka penasaran.
Mereka ingin masuk, tapi tidak kutanggapi. Pintu tetap kukunci rapat. Akhirnya mereka menjebol jendela kamar. Begitu jendela kamar terbuka mereka langsung lari terbirit-birit.
Padahal aku hanya melihat sekilas kearah mereka. Katanya, mereka melihat seekor macan yang hendak menerkam. Sementara dari wajahku terpancar cahaya yang menyilaukan.
Selama wiridan, aku merasakan ada cahaya yang senantiasa menerangi kamar. Siang dan malam, cahaya itu tak pernah redup. Cahaya itu berasal dari sumber yang berbeda-beda. Terkadang, ada cahaya yang berasal dari sinar lampu. Sering kali cahaya itu berganti seperti cahaya bulan.
Pada saat lain berganti dengan cahaya lain. Tepat diatas kepala. Wajar memang bila ada yang membuka jendela kemudian terkejut.
Selain itu, aku juga sering didatangi orang. Ada yang mengaku guruku. Ada pula yang mengaku Sultan Hasanuddin atau cewek setengah badan. Mereka mengajakku dialog, tapi tak pernah kuhiraukan. Kubiarkan mereka bicara semaunya, hanya kutatap sepintas sebelumnya akhirnya aku larut dalam wiridan. Bagi orang yang terbiasa lelakon seperti diriku, pemandangan seperti itu bukan barang baru. Itu sudah lumrah.
Setelah menyelesaikan wiridan dua juta selama empat puluh hari, dilanjutkan lagi dengan puasa selama 49 hari. (yang sedang kupelajari itu adalah ilmu tafsir maghrobi dan saiful maslul)
.
Menjadi Dukun Sejak di Pesantren
Lima tahun setengah aku mondok di Banten. Dalam rentang waktu itu banyak ilmu kesaktian yang kukuasai. Ilmu kebal, halimunan (menghilang dari pandangan orang), tenaga dalam maupun ilmu pelet.
Khusus untuk ilmu halimunan, sejatinya orangnya tidaklah menghilang. Hanya saja, ia tidak nampak di mata orang lain. Seakan ada pembatas transparan yang menutup pandangan mereka. Meski demikian, ilmu halimunan ada pantangannya. Ia tidak boleh dipakai untuk mencuri. Kalau pantangan tersebut dilanggar, maka ilmu halimunan akan hilang.
Dari berbagai ilmu kesaktian itulah aku bertahan hidup di pesantren. Terus terang, aku tidak pernah meminta kiriman uang dari orang tua di kampung. Sementara kebutuhanku terbilang besar. Kalau sekedar untuk makan, memang tidak seberapa. Tapi pengeluaranku terbanyak adalah untuk belajar ilmu kesaktian.
Untuk menguasai satu jenis ilmu saja dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Aku harus membayar mahar yang kadang berupa emas sampai seratus gram. Semakin besar mahar yang diberikan, maka keampuhan ilmunya makin hebat. Hizb Nashr misalnya. Sebelum memulai puasa tujuh hari, aku harus menyembelih seekor kerbau. Dagingnya memang untuk dimakan ramai-ramai. Tapi tetap saja, aku harus menyediakannya. Bila belum tersedia kerbau, tentu aku tidak bisa mempelajarinya.
Lalu dari manakah aku dapatkan uang? Bagi orang sepertiku, untuk mendapatkan uang tidaklah terlalu sulit. Terlebih aku sudah dikenal sebagai ’orang sakti’ sejak merantau ke Banten. Entah bagaimana ceritanya, ada saja orang datang kepadaku. Macam-macam alasannya.
Ada yang ingin diisi tenaga dalam. Ada pula yang ingin belajar ilmu kesaktian atau juga minta dibantu agar cepat dapat jodoh. Dari merekalah, aku bertahan. Enaknya mondok di Banten itu satu orang menempati satu kamar. Jadi aku tidak perlu khawatir bila tamu-tamuku mengganggu orang lain.
Ada yang datang dari Lampung, Jakarta atau Banten dan sekitarnya. Tidak jarang pula ada yang mengundang ke rumahnya. Aku sendiri tidak tahu awalnya, bagaimana mereka tahu bahwa aku bisa mengobati.
Setelah lima tahun setengah di Banten, aku kemudian merambah ke pesantren-pesantren di sekitar Banten. Ke Cianjur, Bandung, Garut maupun pesantren lainnya. Aku pernah pindah ke sebuah pesantren di Cianjur, Jawa barat hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Uang pun hanya cukup untuk bekal perjalanan. Selebihnya, tidak tahu. Tapi yakin bahwa Allah itu Maha Kaya.
Waktu menamatkan shahih Bukhairi di Bandung pun begitu. Kok, tiba-tiba ada yang datang. Ia minta diajari ilmu kesaktian. Orang tahu saja, kalau aku punya ilmu. Padahal aku tidak bilang apa-apa kepada teman-teman baruku. Dengan modal begitu, aku berkelana dari pesantren ke pesantren lain. Kadang, sampai kelelahan mengobati pasien.
Terkadang, ada kyai yang berguru kepadaku. Waktu itu, aku mondok di pesantren yang mengajar kitab fiqih. Kiai yang juga guruku itu pun datang ke kamarku. Ia minta dikasih ilmu kesaktian. Awalnya, aku menolak. Aku merasa tidak enak. Tapi kiai sedikit memaksa. ”Mas,” katanya. Kiai memanggilku dengan panggilan Mas. ”Mas, kalau tahu dari dulu, dari dulu, Aa belajar sama Mas,” katanya. Kutolak dengan halus, tapi kiai tetap memaksa. Akhirnya aku ajarkan ilmu kesaktian dan pengobatan. Lengkap dengan wirid dan cara puasanya.
Perjalanan Menuju Taubat
Tahun 2003, aku berpindah lagi sebuah pesantren di Tanggerang, Jawa Barat. Tepatnya di pondok pesantren tahfidzul Qur’an. Setelah sepuluh tahun berkelanan dari satu pesantren ke pesantren lain, barulah aku bertemu dengan pesantren tahfidz.
Aku diingatkan kembali dengan tujuan awal merantau ke Banten. Tak lain, adalah ingin menghafal al-Qur’an. Ternyata selama sepuluh tahun itu, aku belum bertemu dengan pesantren yang tepat.
Disana, aku tidak bertahan lama. Karena tidak ada teman seusiaku yang juga menghafal al-Qur’an. Kebetulan, saat itu ada seorang teman menunjukkan sebuah lembaga tahfidz di Jakarta yang pesertanya bukan lagi anak-anak. Rata-rata mereka sudah lulus SMA.
Kuputuskan untuk bergabung bersama mereka. Nah, di lembaga tahfidz tersebut, wawasanku tentang keislaman mulai terbuka. Aku mulai banyak membaca sirah nabawiyah atau buku-buku lain yang mengupas keghaiban.

Hatiku tergugah, ketika aku merenungkan firman Allah dalam surat al-Jin ayat enam. Kubaca berulang-ulang. Kuresapi artinya secara mendalam. Hingga akhirnya aku menarik kesimpulan bahwa apa yang kupelajari selama ini ternyata menyimpang dari tuntunan.
Ayat keenam dari surat al-Jin mengatakan bahwa ada beberapa orang manusia yang meminta bantuan kepada jin, dan itu hanya menimbulkan penderitaan semata.
Padahal ilmu kesaktian yang kupelajari selama sepuluh tahun itu tidak terlepas dari bantuan jin. Misalnya ketika wiridan dua juta itu, aku menggunakan apel jin atau kemenyan yang dibakar. Kutaruh apel jin di depan tempat duduk. Lain kali, aku juga menggunakan hio seperti yang digunakan orang Cina. Aku membaca wiridan dengan kemenyan mengebul.
Selain itu, aku baru menyadari bahwa ada sebagian doa permintaan bantuan kepada jin. Meski lafadznya berbahasa Arab. Tapi tetap saja doa itu terlarang.
Sejak itu, aku menghentikan wiridan-wiridan yang biasa kubaca setiap saat. Kuganti dengan ayat-ayat al-Qur’an, yang menyejukkan jiwa. Selama mempelajari ilmu kesaktian hingga saat menghafal al-Qur’an aku memang tidak merasakan adanya gangguan secara fisik maupun psikis. Tapi hal itu bukan berarti dalam diriku tidak ada jinnya. Aku memiliki sekian banyak jin sebagai hasil dari wiridan dan puasa yang kulakukan.
 Jin-jin tersebut yang membantuku dalam pengobatan. Aku yakin, ketika ilmu kesaktianku tidak lagi aku asah dengan membaca wiridan-wiridannya, maka ilmu tersebut secara perlahan akan menghilang. Seperti pisau yang tidak pernah diasah, maka pisau tersebut makin lama makin tumpul.
Untuk itu, aku senantiasa melakukan penjagaan diri dengan membaca doa-doa perlindungan maupun mendengarkan kaset ruqyah terbitan ghoib pustaka. Tak lupa pula aku senantiasa melakukan ruqyah mandiri dengan ayat-ayat al-Qur’an yang telah kuhafal.
Alhamdulillah setelah tiga tahun di lembaga tahfidz, aku berhasil menyelesaikan setoran hafalan. Kini, tinggal bagaimana aku bisa membagi waktu, agar hafalan al-Qur’an tidak menguap begitu saja.


Praktik perdukunan itu telah kutinggalkan di belakang. Kini, jika ada pasien yang datang berobat, aku tidak lagi menggunakan ilmu-ilmu kesaktian yang pernah kupelajari selama sepuluh tahun. Tapi justru aku meruqyahnya dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadist yang shahih.
Dalam beberapa kesempatan, aku juga diundang mengisi kajian membongkar kesesatan ilmu kesaktian yang selama ini sebagiannya diajarkan di pesantren.

Demkianlah, semoga apa yang aku tulis diatas, tentang perjalanan panjang saudara kita Dida dalam berburu Ilmu Himah,  memberikan manfaat bagi kita semua. Insya Allah, amin

1 komentar:

rhk mengatakan...

apakah ruqyah tidak melibatkan bangsa jin? apakah tidak melibatkan bangsa ruhaniah, apakah tidak melibatkan bangsa malaikat ? jangan dipukul rata bangsa jin Pak, tidak semua Jin itu kafir. salam santun, hehehe