Rabu, 14 November 2012

THE MIRACLE OF SMILING




Oleh : pak Agus Balung

Kisah ini yang saya kutip dari 30 kisah keajaiban sedekah yang saya copy paste dari blognya mas Didik Sugiarto. Sebuah kisah yang didapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yang bermukim atau pernah bermukim di sana. Kisah ini layak untuk dibaca beberapa menit, dan untuk  direnungkan seumur hidup.  Insya Allah

Begini kisahnya :

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling”. Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu, setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran Mcdonald’s yang berada disekitar kampus.

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panic menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat dibelakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.  Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih saying. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima’ kehadirannya’ ditempat itu. Ia menyapa, “ Good Day! “ sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tanganya dengan gerakan aneh berdiri dibelakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong” nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba tiba saja sudah sampai di depan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan “kopi saja, satu cangkir, Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk didalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat. Mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat ‘ tindakan’ saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kea rah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu diatas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas penggung telapak dingin lelaki bermata biru itu, sambil saya berucap, “ Makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.” Kembali mata biru itu menatap dalam kearah saya, kini mata itu mulai basah berkaca kaca. Ia hanya mampu berkata, “ Terima kasih banyak, Nyonya.”

Saya mencoba tetap menguasai diri saya. Sambil menepuk bahunya saya berkata,” Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian.” Mendengar ucapan saya, Si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Ketika saya duduk, suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata, “ Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak anakku!”
Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar benar bersyukur dan menyadari bahwa hanya kerena bisikan-Nya-lah kami telah mampu memanfaatkan kesempatan untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang membutuhkan. Ketika kami sedang menyatap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu per satu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin berjabat tangan dengan kami.

Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap,” Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan oleh-Nya, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.” Saya hanya bisa berucap terima kasih sambil tersenyum.

Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada magnet yang menghubungkan batin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikan tangannya kearah kami.

Dalam perjalan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi. Itu benar benar tindakan yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa kasih sayang Allah itu sangat hangat dan indah sekali.  Saya kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah dengan cerita ini di tangan saya. Saya menyerahkan paper saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “ bolehkan saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya ia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca. Para siswa pun mendengarkan dengan saksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir diruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk dideretan belakang di dekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya.” Tersenyumlah dengan ‘hatimu’, dan kau akan mengetahui betapa dahsyat dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.”

Dengan cara-Nya sendiri, Allah telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang orang yang ada di Mcdonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu “penerimaan tanpa syarat”.

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara mencintai sesama dengan memanfaatkan sedikit harta benda yang kita miliki, dan bukannya mencintai harta benda yang bukan milik kita, dengan memanfaatkan sesama.

Orang bijak mengatakan, “ Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya ‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan jejak di dalam hatimu. Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan hatimu.  Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak lagi.  Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya.   Allah menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi Dia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus berikhtiar untuk bisa mendapatkannya.

Orang orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang orangtua yang ‘ cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari pengalaman mereka, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.

 Semoga bermanfaat bagi kita, anda dan saya.  Insya Allah, amin.

Senin, 12 November 2012

SAY NO......TO 'HARTA HARAM'




Oleh : Pak Agus Balung

Ini cerita dari  teman saya yang punya kerabat seorang TKI.  Sepulang dari luar negeri, kerabatnya yang TKI itu  menjadi seorang yang kaya raya di desanya. Dia bisa membeli dua rumah sekaligus dan membeli beberapa mobil dan sepeda motor. Bukan hanya itu, barang-barang di rumahnya dipenuhi juga dengan barang mewah.

Untuk ukuran seorang TKI, mendapatkan hasil sedemikian spektakuler dalam waktu beberapa tahun sangatlah mustahil. Menurut teman saya, dalam satu bulan kerabatnya itu  bisa mengirimkan uang sampai di atas 20 juta waktu itu. Padahal untuk ukuran negara dia berada, gaji dia paling banter hanya menerima 3 jutaan tiap bulan.

Usut punya usut, ternyata dia bisa mempunyai gaji besar karena bekerja pada salah seorang pejabat di negara tersebut. Bukan karena kerja pada seorang pejabat yang membuat dia kaya, tapi karena dia berselingkuh dengan istri pejabat tersebut, astaghfirullah….. Mungkin istri pejabat tersebut terpesona dengan ketampanan kerabat teman saya, sehingga dia minta apa pun selalu dituruti oleh ibu pejabat.

Kini, setelah beberapa tahun berlalu semenjak kepulangannya dari luar negeri sebagai TKI,  saya kembali bertemu teman saya, dan teman sayapun bercerita tentang kerabatnya.     Alangkah terkejutnya saya, kini kondisinya berbalik 180 derajat. Harta bendanya habis tak tersisa. Rumah, kendaraan dan semua hasil yang didapatkan ludes tak tersisa. Dia bilang, setiap kali membuka usaha, dia selalu gagal. Padahal sebelumnya dia adalah seorang pebisnis yang berpengalaman. Akhirnya dia, kerabat teman saya itu  mengungkapkan mungkin harta benda yang didapatkan dulu adalah harta haram, sehingga setiap langkah yang dia tempuh dengan harta itu tidak mendapat ridho dari Allah. Dia mengungkapkan pelajaran berharga telah dia dapatkan dari kejadian ini.  Dia telah bertobat dan ingin memulai lagi dari nol..  Dia bertekad akan mencari harta yang halal agar ridho Allah dapat selalu beserta pada harta dia nanti.

So…..mulai sekarang  mari kita tanamkan  dalam hati kita :  say no to “harta haram”

Tulisan yang singkat dan sederhana ini semoga membuka mata hati kita, dan pastinya  membawa manfaat bagi kita, anda dan saya. Amin.    Insya Allah.   



BERHATI HATILAH DALAM BERUCAP DAN B ERSIKAP



Oleh : Pak Agus Balung

Seorang ustadz menyampaikan ceramahnya dalam suatu kesempatan.  Disebutkan,  dalam ceramah tersebut seorang perempuan diadili dialam kubur. Tuduhannya gak main main, membunuh dan memperkosa.  Si perempuan protes, bagaimana ini  bisa  terjadi. Didunia, tangannya begitu lembut, gak bisa melihat ayam dipotong, ngeri dia. Lalu bagaimana mungkin dia dituduh membunuh untuk sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.  Dan lagi, dia dituduh diperkosa. Bukankan yang diperkosa itu biasanya perempuan, aneh.

Ia minta keadilan pada Allah. Tapi pengadilan kubur tetap berjalan. Siksa kubur  mulai dikenakan pada beliau, dengan standard hukuman pada pembunuh dan pemerkosa.

Rupanya, ketika didunia ternyata ia senang memakai pakaian yang minimalist dan busana  yang selalu mengundang syahwat pria. Hingga ada satu pria yang bangkit syahwatnya karena ulah dia, terangsang. Namun laki  laki itu gak berani sama perempuan ini. Celakanya, pria ini beraninya sama anak tetangga yang yatim piatu lagi miskin. Maka diperkosalah si anak yatim lagi malang ini, lalu, takut ketahuan perbuatannya, kemudian dibunuhlah anak malang itu. Nah, lengkaplah sudah, perkosaan dan pembunuhan.

Didalam urusan koneksi antar manusia dan antar perbuatan   laa hawla walaa quwwata illa billah, ternyata, si perempuan itupun  dianggap pelaku pemerkosa dan pembunuh.  Belum lagi kalau ia paham, setiap mata yang tertuju padanya adalah maksiat mata, ditambah lagi pakaian yang dia kenakan tidak menutupi auratnya dengan baik, maka diapun mendapatkan dosa dari banyaknya mata memandang untuk menikmati auratnya.

Namun, insya Allah mata rantai kebaikan  juga tak kurang kurang limpahan rizki dan pahalanya. Kalau anda tersenyum pada seseorang, lalu orang itu merasa senang dan bahagia, sehingga berefek positif pada perilakunya, maka anda akan menerima limpahan pahalanya.

Atau seorang Office Manager yang mampu memanage unit organisasi yang dipimpinnya sehingga dapat memberikan pelayanan yang prima bagi public atau kliennya, dan mereka merasa nyaman dan puas, maka pahala itu akan merambah kesemua jajaran unit kantor yang dipimpinnya, mulai dari supervisor, semua divisi dan unit, bahkan sampai ke Office Boypun akan mendapatkan  mata rantai kebaikan tersebut. Subhanallah.

Seorang ustadz/ustadzah yang sedang ceramah di media elektronilk apa itu radio atau televisi untuk menyirami qolbu orang banyak, maka yang akan mendapat mata rantai kebaikan dari  acara tersebut, adalah mulai dari owner, direktur, produser, lightman, semua crew, bahkan sampai pada office boy-pun akan mendapatkan berkah, tentu saja selain ustadz/ustadzahnya sendiri.  Insya Allah

Oleh karena itu berhati hatilah kita berucap dan bersikap  dalam kehidupan sehari hari. Jangan sekali kali kita berucap dan berucap kecuali dalam hal kebaikan. Apapun profesi kita, tukang sapu, guru, manager, pejabat, atau apapun itu, raihlah mata rantai kebaikan. Semoga yang sedikit dan sederhana ini bermanfaat bagi kita, anda dan saya. Amin.
  

Minggu, 11 November 2012

MAKE YOUR DREAMS COME TRUE



Oleh  :  pak Agus Balung

Untuk mengupas judul diatas, saya ingin mengangkat dan mengetengahkan topic yang dijadikan obyek bahasan, yaitu sebuah sekolah favorite. Dimanapun yang namanya sekolah favorite pasti menjadi impian bagi setiap orang, terutama setiap orang tua yang mempunyai anak usia sekolah. Agar tidak disangka berbau iklan untuk mengarahkan kesekolah tertentu, maka kita ambil saja sebuah sekolah favorite yang berada di sebuah kota kecil, Jember, yaitu  MAN “Indonesia Tangguh” 25 Jember. Yang jelas sekolah ini hanya rekaan saja, fiktif, yang  kalau anda mau mencarinya, sampai puyengpun, nggak akan ketemu juga.  MAN tersebut menjadi tujuan ratusan orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi putra putri mereka,   MAN “Indonesia Tangguh” 25 Jember sekaligus menjadi prestise, gengsi tersendiri bagi orang tua dan anak yang bisa sekolah disana, karena setiap tahunnya sekitar 1000 siswa yang ikut tes masuk, tapi hanya 200an saja yang diterima.

Saya tidak ingin membahas tentang MAN “Indonesia Tangguh” 25 Jember, saya ingin membahas bagaimana seorang teman saya, yang sangat ingin mempunyai anak yang bersekolah di MAN tersebut. Tentang bagaimana cara dia berdoa, bagaimana cara dia berjuang agar punya anak yang bisa bersekolah di sekolah tersebut. walaupun saat itu dia masih baru saja melangsungkan pernikahannya.

Teman saya adalah seorang alumnus perguruan tinggi dari desa, dia belum tahu apa dan bagaimana MAN “Indonesia Tangguh” 25 Jember.  Sampai suatu ketika dosennya di kampus, saat dia masih kuliah,  bercerita tentang hebatnya para alumni MAN tersebut.. Mengapa MAN “IT” 25 Jember bisa menghasilkan lulusan yang banyak menjadi orang sukses atau pejabat. Dan beberapa keuntungan lagi  bagi orang tua saat anaknya bisa bersekolah di MAN “IT” 25 Jember.

Sejak mendengar cerita itu, teman saya mempunyai keinginan yang sangat kuat, kalau nanti mempunyai anak agar bisa bersekolah di MAN “IT” 25 Jember. Sejak saat itu, setiap kali melintas di depan sekolah MAN yang favorite itu, teman saya selalu menyempatkan waktu sejenak untuk membayangkan bahwa dia kelak pasti menjemput anaknya yang bersekolah disekolah ini,  sambil berdoa agar bayangan itu bisa terwujud.

Kebiasaan berhenti di depan sekolah , membayangkan dirinya menjemput anaknya terus dilakukan sampai menikah dan anaknya lahir. Bahkan sering dia mengajak anaknya berhenti di depan sekolah dan meminta anaknya sama-sama berdoa agar dia kelak bisa bersekolah di sekolah tersebut. Akhirnya sang anak benar-benar bisa bersekolah di MAN “IT” 25 Jember  yang favorite itu. Subhanallah.

Kebiasaan yang dilakukan teman ini, biasanya disebut afirmasi dan visualisasi. Saat kita membayangkan sesuatu dengan keinginan kuat, maka seluruh potensi diri kita akan berusaha untuk mewujudkannya.   Tahukah anda?    Saat kita melakukan afirmasi kemudian berdoa dengan kesungguhan hati,   maka  Allah akan mudah untuk mengabulkannya.   Insya Allah.
Jadi…., bila anda mempunyai cita cita,  apapun cita cita itu, jangan lupa berdoa pada Allah dengan sungguh sungguh. Bukankah Allah sudah memberikan janjiNya buat kita ?     Ud’uni  astajiib  lakum, berdoalah padaKu, niscaya Aku kabulkan.   Fa insya Allah.
So……make your  dreams come true, by this way……..!!
Semoga bermanfaat, dan sukses untuk anda…..