Kamis, 01 Agustus 2013

KAWIN DENGAN JIN...KARENA PINGIN KAYA



KAWIN DENGAN JIN KARENA PINGIN KAYA

Oleh : pak Agus Balung

Menurut kabar yang beredar ditengah masyarakat, di Gunung Salak, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat,  kerap dilakukan ritual perkawinan manusia dengan jin. Perkawinan ini dilakukan oleh orang-orang yang kepepet atau terdesak kebutuhan ekonomi. Namun menurut kabar yang lain, perkawinan manusia dengan jin ini juga kerap dilakukan untuk mendongkrak bisnis atau usaha seseorang agar lebih maju.  Tulisan ini hanya  sekedar untuk membukan dan menambah wawasan kita saja, tidak untuk ditiru. Bagaimanapun juga perbuatan yang menggantungkan pada selain Allah, adalah perbuatan syirik.  Berikut ini kisahnya.

 Menjelang Maghrib, beberapa oarang baru tiba di rumah sang spiritualis yang sering mengawinkan manusia dengan jin ini. Jauh dari keramaian dan hingar bingar, rumah spiritualis itu berada di kaki gunung Salak, Cidahu, Sukabumi.
Meski jauh dari keramaian kota besar, rumah-rumah di kampung ini nampak permanen, tertata rapih dan terkesan megah untuk ukuran orang kampung. Tak hanya itu, hampir di setiap rumah terparkir sebuah mobil dan motor baru yang mensiratkan status sosial penduduk kampung ini. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.

Tak lama berselang, seorang Ustad, spiritualis yang didatangi muncul dari balik ruang keluarga rumahnya. Seperti layaknya orang kampung, ustad menyambut kedatangan dengan hangat. Sejumlah kalimat dan kata-kata sambutan pun keluar dari mulut ustad tersebut.
Ternyata ustad yang kerap mengawinkan manusia dengan jin ini masih cukup muda, usianya diperkirakan belum genap 40 tahun. Meski begitu dari gaya bicara dan auranya nampak jelas bahwa ustad muda ini memiliki ilmu kedigjayaan yang cukup.

Setelah cukup basa-basi, beberapa orang tersebut langsung mengutarakan maksud kedatangan kali ini. Nampak ustadz seperti berpikir sejenak, entah apa yang ada di kepalanya. Namun sesaat kemudian dia pun berkomentar.
“Saya memang sering mengawinkan orang dengan Jin Islam, tapi saya tidak sependapat jika ini dikatakan musyrik. Perkawinan ini hanya sebatas usaha manusia untuk memperbaiki kehidupannya,” tutur sang ustad.
Untuk melihat lebih jelas ritual perkawinan manusia dengan Jin ini, ustad mengajak rombongan ke lokasi dimana dia sering melakukan ritual. Kebetulan malam itu ada 3 orang yang minta dikawinkan dengan jin.

Ternyata untuk menuju lokasi tempat perkawinan manusia dengan jin ini cukup jauh, sekitar 2 atau 3 kilometer di belakang rumah ustad. Melintasi perkampungan menuju sebuah lembah di perbatasan kampung dengan hutan gunung Salak, tibalah kami pada sebuah rumah di pinggir kali.
Aura mistik kontan menyengat seketika tiba di rumah itu. Jelas sekali aura rumah dengan 8 ruang besar ini penuh dengan kekuatan gaib yang menyelimutinya. Tanda-tanda kekuatan gaib dan aura mistik itu dapat dirasa dan dilihat dengan kasat mata.

Dari pengamatan, kekuatan gaib dan aura mistik yang nampak jelas ini terjadi akibat seringnya proses ritual perkawinan dengan jin di rumah ini. “Di rumah inilah prosesi ritual itu dilakukan. Kami akan memanggil jin dari manapun untuk dikawinkan disini,” Ujar ustadz muda tersebut.

Sambil berkeliling di dalam rumah dan sekitar halaman, ustad menjelaskan syarat dan proses ritual perkawinan dengan jin. Dalam rumah itu ada 8 orang yang malam ini akan dikawinkan dengan Jin. Menurut ustad, umumnya orang menikah dengan jin karena terjepit masalah ekonomi. Ada yang terbelit utang, perusahaannya bangkrut dan ada pula yang ingin perusahaannya lebih maju.

Jin yang dinikahinya itu akan menjadi istri atau suami di alam gaib. Sebagai istri atau suami, jin itu juga punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Maka jin itu pun diminta untuk bisa menghasilkan uang bagi orang yang menikahinya. “Jadi jin itu akan membantu kita menghasilkan uang,” tutur ustad.

Hanya orang Muslim saja yang bisa menikah dengan jin. Karena menurutnya jin yang dipanggilnya adalah dari golongan muslim yang tinggal diberbagai penjuru dunia. Misalnya jin dari Baghdad, Turki, Mesir, Kuwait, Mekkah, Banten, Demak dan sebagainya.
Selain itu, orang yang bisa dikawinkan dengan jin juga harus mempunyai pekerjaan atau kegiatan bisnis. Karena jin itu tidak mendatangkan uang dalam bentuk cash. “Jin itu akan membantu kita mencari uang dari jerih payah kita sendiri,” jelas ustad.

Usai menjelaskan panjang lebar soal prosesi perkawinan dengan jin, ustad langsung mengajak kami ke satu kamar tempat dia melakukan ijab kabul. Di kamar gelap berukuran 5 kali 5 meter itu sudah ada 3 orang menunggu. Mereka adalah seorang saksi nikah, medium dan orang yang akan dinikahkan dengan jin.

Udara pengab dengan aroma kemenyan dan bunga setaman menyengat hidung. Jelas sekali lelaki yang akan dinikahkan dengan jin itu terlihat gugup. Sesekali dia menyeka wajahnya dengan sapu tangan. Namun sesaat kemudian dia menoleh ke kiri, kadang ke kanan dan ke belakang, seperti ada yang dilihatnya.

Sesaat kemudian, ustad mulai membacakan doa-doa khusus, tawasul dan mengirim doa.  Dia mengirim doa untuk para nabi, leluhur dan para penghuni gaib yang menguasai bumi ini. Terakhir ustad kemudian mengirim doa khusus untuk leluhur Tanah Banten dan penghuni gaib Masjid Agung Banten. Ternyata malam itu ustad akan menikahkan seorang tamunya dengan jin wanita dari Masjid Agung Banten yang bernama Salsabila Su’a Binti Syech Humaid Kazman.
Setelah sepuluh menit ustad membacakan doa-doa dan mantra suasana kemudian hening. Hanya sesekali ustad terdengar mengucap nama Salsabila Su’a. Nampak mata ustad muda ini terpejam, tapi mulutnya tetap komat-kamit.
Sesaat kemudian dia kembali membuka matanya sambil mengangkat kedua belah tangannya ke atas. Tiba-tiba angin terasa berhembus entah dari mana datangnya. Tak seorang pun diantara kami yang berani berkata-kata. Namun ketegangan nampak jelas dari raut wajah semua orang yang mengikuti prosesi ritual ini.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba seorang perempuan yang duduk persis di samping orang yang akan dinikahkan dengan jin menjerit melengking. Tentu saja jeritan perempuan itu membuat seisi kamar kaget bukan kepalang. Kejadian tersebut hampir saja membuat beberapa orang beringsut ke belakang saking kagetnya mendengar suara lengkingan itu.
Tak cukup disitu saja, perempuan paruh baya itu kemudian menceracau seperti orang kesurupan. Suranya yang tadi tenang kini berubah tak karuan. “Jin Salsabila Su’a itu sekarang sudah merasuki tubuh wanita itu. Berarti kita sudah siap melakukan prosesi ijab kabul pernikahan,” tutur ustad.
Seperti layaknya pernikahan manusia dengan manusia, ustad Yusuf kemudian membacakan sighot taqliq. Kedua pengantin, saksi dan wali nikah bersiap untuk ijab kabul. Doa-doa nikah dan Kalimat Syahadat pun dibacakan sebagai pertanda bahwa yang dinikahkan itu adalah Jin Muslim.
Pengantin pria yang dinikahkan dengan Jin Salsasbila Su’a ini masih nampak gugup dan takut. Berkali-kali dia salah mengucapkan nama Jin Salsabila Su’a. Berkali-kali pula dia mengusap wajah dan merubah posisi duduknya.
“Salsabila Su’a binti Syech Humaid Kazman, apakah kamu bersedia dinikahkan dengan….?” Tanya ustad dengan suara berat bergetar.
“Saya bersedia,” tutur Jin Salsabila dengan suaranya yang melengking nyaring.
“Jin Salsabila Su’a binti Syech Humaid Kazman, apakah kamu bersedia membantu masalah ekonomi suamimu?” tanya ustad Yusuf kemudian.
“Saya bersedia, tapi suamiku juga harus memenuhi semua syaratku,” jawab Jin Salsabila Su’a lagi.
Usai itu, Jin Salsabila Su’a ini kemudian menerangkan semua persyaratan yang harus dipenuhi oleh suaminya dari bangsa manusia. Kurang lebih sepuluh menit berlangsung, prosesi itu pun selesai dan berjalan sesuai aturan. Kini pengantin pria itu berhak atas Jin Salsabila Su’a dan boleh memperlakukannya sebagai istri.

Meski hampir sama dengan proses pernikahan manusia dengan manusia, proses pernikahan dengan jin ini tentu saja ada bedanya. Sebab tujuan utama manusia menikah dengan jin ini tentu saja bukan dilatarbelakangi oleh syahwat.
Tapi lebih dikarenakan permintaan manusia agar sang mempelai jin bisa membantu menyelesaikan masalah ekonomi pengantin manusia. Saat proses ritual terjadi, pengantin manusia ditanya mengapa dia mau menikah dengan jin Salsabila Su’a. “Saya terbelit utang ke bank, saya ingin membayar hutang itu dan mempunyai harta yang cukup,” tutur pengantin manusia.

Usai prosesi ritual itu ustad Yusuf menjelaskan, tidak semua proses ritual ini berjalan mulus karena ada kalanya pengantin jin menolak dinikahkan. Misalnya karena jin itu tidak suka dengan penampilan manusia yang tidak sesuai.
Atau ada kalanya jin itu menolak karena minta mas kawin yang tak sanggup dipenuhi manusia. “Tapi pada umumnya semua jin yang saya panggil mau dinikahkan dengan siapa saja,” jelas ustad mengakhiri perbincangan . 

(Sumber : rumahruqyaindonesia.blogspot.com)





Rabu, 31 Juli 2013

THE POWER OF "SHALAWAT"



THE POWER OF  “SHALAWAT”

Oleh : pak Agus Balung

Apabila  kita sedang sedih,  suntuk,  pengap,  resah, gunda gulana, tidak ada gairah hidup,  dikarenakan berbagai masalah,   yang sedang menerpa……..maka banyak-banyaklah bershalawat kepada Rasulullah Saw.     Bershalawatlah,  karena bershalawat dapat menghilangkan keresahan dan kesuntukan.     Bershalawat kepada Nabi artinya meminta agar perhatian Rasulullah tercurah kepada kita.

Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”  (Q.S. Al-Ahzaab: 56)

Ayat ini turun bukan hanya untuk sahabat Nabi, namun ayat ini turun sampai dengan manusia di akhir zaman. Ini artinya bahwa ayat ini memerintahkan kita juga untuk bershalawat kepada Rasulullah, sekalipun Rasulullah sudah meninggal 14 abad yang lampau.
Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, berapa banyak saya harus mengucapkan shalawat untukmu?”
Rasulullah menjawab, “Sesukamu.”
Lalu Ubay bertanya lagi, “Apakah seperempat atau dua pertiga?”
Rasulullah menjawab, “Sekehendakmu. Dan jika engkau tambahkan, maka itu lebih baik.”
Jadi, makin banyak kita bershalawat kepada Nabi, maka akan semakin bagus. Ini adalah jaminan dari Rasulullah Saw.
Lalu Ubay kemudian bertanya lagi, “Apakah shalawatku untukmu seluruhnya?”
Rasulullah menjawab, “Karena itu, dosamu akan diampuni, dan kesedihanmu akan dihilangkan.”
Berarti Rasulullah proaktif memintakan untuk orang yang suka bershalawat terhadapnya agar Allah mengampuni dosa orang tersebut.  

Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisaa: 64)
Rasulullah bersabda:
Jadi, jika kita rajin bershalawat kepada Rasulullah Saw, maka dosa kita akan diampuni, dan kesedihan akan dihilangkan. (H.R. Tirmidzi).

Jangan pernah merasa rugi bershalawat terhadap Rasulullah. Dua dalil menguatkan mengenai hal ini. Dengan bershalawat, maka rasa sedih dan duka bisa hilang. Jadi, jika kita malas bershalawat, maka akan ada dua poin yang akan kita rasakan:

1) Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan membalas dengan sepuluh shalawat baginya. Jika seseorang tidak bershalawat sekalipun, maka itu artinya dia tidak akan mendapat shalawat dari Allah.
2) Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, kata Rasulullah, pada malam Jum’at dan hari Jum’at. Sebab shalawat kalian diperlihatkan kepadaku.
Ini semakin memperkuat kita, bahwa meskipun Rasulullah sudah tiada dan meninggal, dia tetap secara rohani menyaksikan siapa di antara umatnya yang paling rajin mengingatnya, mencintainya, dan membacakan shalawat terhadapnya.

Ibnu Taimiyah berkata: “Shalawat yang paling sempurna adalah shalawat Ibrahimiyah,” yaitu yang sering kita baca ketika tahiyat:
Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammad. Kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim. Wa baarik ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammad. Kama baarakta ‘ala Ibrahim, wa ‘ala aali Ibrahim. Fil ‘alamina innaka hamiidun majid.
Inilah shalawat yang paling kuat, yang paling afdhal, menurut Ibnu Taimiyah. Karena itulah, Rasulullah mencontohkan bacaan ini.

Shalawat terhadap Nabi akan memberikan dampak langsung kepada diri kita sendiri. Akan memberikan dampak pencerahan terhadap batin kita. Karena itu, pembacaan shalawat Nabi dengan cara penghayatan bagaimana nikmatnya shalawat itu, maka itu akan membekas di dalam batin kita. Perasaan jadi tenang, rindu kita kepada Rasulullah Saw. Dan untuk itu, marilah kita bershalawat terhadap Rasulullah, kita lantunkan dengan suara dalam kita sendiri.
Ya abbazzahra…
Melantunkan bait-bait ini adalah sama dengan shalawat Nabi. Bahkan suara batin kita sendiri yang kita suarakan terhadapnya, itu akan langsung menyentuh diri kita sendiri, dan insya Allah Rasulullah Saw akan memberikan syafa’at nantinya ketika di akhirat.

Marilah dengan penuh senang hati dan penuh rasa cinta kepada junjungan kita Rasulullah Saw, kita memberikan shalawat terhadapnya. Semoga shalawat yang telah kita bacakan akan mendpatkan manfaat bagi diri kita sendiri, tentunya juga dengan mengenang Rasulullah Saw.
Di dalam kitab-kitab kuning banyak sekali menganjurkan untuk kita membaca shalawat nabi. Bahkan Rasulullah Saw bersabda:
“Alangkah kikirnya umatku manakala namaku disebutkan, tapi tidak mengingat aku, tidak bershalawat terhadapku.”

Di dalam Kitab Irsyadul ‘ibad dikisahkan, bahwa ada seorang ibu yang wirid rutinnya itu dia tidak baca wirid-wirid lain karena tidak hapal, namun yang paling simpel yang ia baca adalah shalawat nabi. Mungkin ia juga tidak pintar membaca Al-Qur’an sehingga jarang mengaji. Tapi yang selalu ia ulang-ulangi kalimat yang ia hafal adalah shalawat nabi. Ketika ibu itu setiap kali mencuci pakaian di pinggir sumur, setiap kali sikat pakaiannya bergetar, setiap itu pula ia bershalawat nabi. Jadi gerakan tangannya diikuti dengan shalawat nabi. Ketika timbanya naik juga diikuti dengan shalawat nabi. Tiba-tiba anaknya terperosok masuk ke dalam sumur tersebut, kemudian ia refleks mengucapkan, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad”. Ia membutuhkan waktu memanggil orang, dan akhirnya anak itu diangkat ke atas. Masya Allah, ternyata anak itu tidak tenggelam, bahkan rambutnyapun tidak basah.

Banyak keajaiban-keajaiban yang sering dialami oleh orang-orang yang banyak zikirnya, termasuk menzikirkan membaca shalawat nabi.
Rasulullah sendiri mengatakan kepada kita, “Kalau kalian sering bershalawat terhadapku, maka dosanya akan diampuni dan dadanya akan dilapangkan.”

Banyak jenis shalawat, mana yang paling afdhal?
Menurut Ibnu Taimiyah, shalawat yang paling sempurna adalah shalawat Ibrahimiyah. Ini pendek, semua kita pasti hapal karena sudah pasti kita membacanya setiap shalat. Kalau kita shalat mayyit, Shalawat Ibrahimiyah ini saja dibaca, kalau kita tidak bisa menghapal shalawat yang lebih panjang, karena bertingkat-tingkatnya shalawat nabi tersebut.

Kalau kita mendapatkan kegelisahan, keresahan, kegundahan dan kegersangan hati, bacalah Shalwat Nabi. Di dalam sebuah kitab disebutkan, bahwa kalau suatu waktu kita melupakan sesuatu, maka kita dianjurkan membaca Shalawat Nabi.

Shalawat Nabi juga bagus dibaca ketika telinga kita mendengung. Diriwayatkan, bahwa kalau telinga kita mendengung, entah kanan atau kiri, maka bacalah Shalawat Nabi.
Kemudian, zakarallahu bikhairin wa zakarani.

Ada juga yang senantiasa mewiridkan Shalawat Nabi ketika kakinya sedang kesemutan. Bahkan ada yang mengatakan, sekalipun kita di kamar mandi, kalau ketika itu kita mendengarkan nama Nabi Muhammad disebutkan, kita juga boleh bershalawat di kamar mandi atau kakus tersebut.

Lafadz-lafadz shalawat itu betapa banyak memberikan manfaat untuk ketenangan jiwa dan kelapangan dada, bahkan juga berfungsi sebagai pengampunan dosa dan menghibur Rasulullah Saw.

Lafadz-lafadz lain yang perlu kita perhatikan juga adalah lafadz: “Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mal nashir, wa la haula wala quwwata illa billahi hal ‘aliyyul ‘azim.” Jadi, di dalam Wirid As-Syifa kita ditutup dengan lafadz ini.

Di dalam Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali disebutkan, bahwa kata-kata ini: “Hasbunallah wa ni’mal wakil …” diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke dalam api, sehingga api itu tiba-tiba menjadi dingin dan tidak mematikan Nabi Ibrahim.

Juga lafadz tersebut diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam Perang Uhud, lalu Allah menolongnya. Kita tahu, bahwa pada Perang Uhud itu Kaum Muslimin mengalami kekalahan, terdesak, terjebak, dipukul mundur, dikepung, namun kemudian ada keajaiban yang menyelamatkan pasukan Kaum Muslimin ketika itu, walaupun harus melangkah mundur. Beliau (Rasulullah)  mengucapkan lafadz tersebut  (hasbunallah wa ni’mal wakil…).
Dalam riwayat juga disebutkan, lafadz ini (hasbunallah wa ni’mal wakil…) juga diucapkan oleh Nabi Musa ketika ia melihat lautan terbentang di depan matanya, sedangkan musuh mengejar di belakangnya. Maka dengan izin Allah, ia kemudian menjadi selamat.

Dalam kondisi ketika kita terdesak oleh suatu problema yang sangat besar, maka kita tidak boleh kosong, kita tidak boleh tidak ada upaya, dan ingatlah bahwa lafadz-lafadz tersebut penting untuk diucapkan.
Seperti difirmankan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa ketika Nabi Adam sedang terdesak, diajarkan: “Wa ‘allama adama al-asma-a kullaha.” Allah mengajari Nabi Adam ketika ia sedang terdesak dengan sebuah kalimat (al-asma).

Di dalam kitab-kitab tafsir disebutkan, bahwa al-asma tersebut adalah Shalawat Nabi. Jadi, Nabi Muhammad belum lahir, namun sudah ada perintah kepada Nabi Adam untuk membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw.

 Kalau kita lihat di dalam buku-buku tasawuf, mengapa Nabi Adam bershalawat kepada Nabi Muhammad, sedangkan Nabi Muhammad ketika itu belum hadir (belum dilahirkan) ke dunia ini. Nabi Adam itu adalah “Abul basyaril ula” (Bapak biologis pertama). Sedangkan Nabi Muhammad adalah “Aburruuhil ula” (Bapak roh manusia pertama). Karena itu sering diistilahkan, bahwa Nabi Muhammad itu sesungguhnya adalah Nabi Pertama sekaligus Nabi Terakhir. Secara biologis Nabi Muhammad adalah Nabi Terakhir, tapi secara rohani ia adalah Nabi Pertama. Nabi Adam secara biologis adalah Nabi Pertama, tapi bukan secara rohani.
 Wallahu a’lam.

Karena itu, para nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad sudah tahu bahwa Nabi Muhammad Saw akan hadir. Inilah kemuliaannya Nabi Muhammad Saw.
Jadi, kalimat-kalimat penting tersebut di atas penting juga untuk kita ingat ketika kita dalam keadaan terdesak. Jangan sampai kita memanggil Bapak kita,  “Aduh, bapak”,  “Aduh emak”, memanggil suami, atau siapa saja makhluk Allah, tapi panggillah Allah ketika kita terdesak itu. Bagaimana memanggil Allah tersebut?   “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal nashir wa la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim”

“Ketika hamba menyadari bahwa semua ini adalah perlindungan rabbani, tentunya ia juga akan menyadari bahwa di sana ada Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Penolong, Maha Pelindung, dan Maha Pengasih.”

Ketika kita membutuhkan pertolongan kepada Tuhan, seandainyapun kita terlempar, tercebur ke tengah samudera tanpa penolong, pada saat itu juga harus kita mengingat Allah, tidak boleh putus asa. Dalam kondisi seperti apapun kita tidak boleh putus harapan, putus asa terhadap Allah. Sekalipun kita diceburkan ke tengah samudera tanpa penolong siapapun juga, tetap kita tidak boleh putus asa. Kita pasrahkan total diri kita kepada Allah.
Allah berfirman:
Wallahu khairun hafidzan, wa huwa arhamarrahimin
“Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang
.”

Ada yang hafidz, tapi tidak rahman dan rahim. Sedangkan Allah adalah Al-Hafidz (Pemelihara) yang sekaligus Al-Rahman (Pengasih) dan Al-Rahim (Penyayang). Banyak sekali orang yang memperhatikan, banyak juga orang yang memelihara, serta banyak juga orang yang bertanggungjawab, tapi tidak memiliki kasih dan sayang. Beda halnya dengan Allah, menjadi pemelihara dan juga menjadi pengasih dan penyayang terhadap yang dipelihara-Nya. Karena itu, kalau kita sudah serahkan diri kita kepada Allah Swt dalam kalimat, “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal nashir wa la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim”, mau kemana lagi kita.

Kalau Allah menghendaki, laut itu tidak mau menenggelamkan sahabat Tuhan. Laut memang mematikan, tapi ada contoh kalau laut itu takut juga terhadap Tuhan. Kalau laut yang mematikan, maka matilah Nabi Musa. Mengapa Nabi Musa tidak tenggelam di lautan? Berjalan di atas air, tidak tega air itu membunuh sahabat-Nya. Tidak tega ikan itu menelan dan memusnahkan sahabat-Nya yang bernama Nabi Yunus. Tidak tega api itu membakar sahabat-Nya, yaitu nabiullah Ibrahim.  Dan tidak tega kuman, virus itu mematikan kekasih-Nya, nabi Ayyub.

Semoga bermanfaat. Amin



Jumat, 26 Juli 2013

SEBUTIR BUAH KURMA YANG DAHSYAT



SEBUTIR BUAH KURMA YANG DAHSYAT

Oleh  :  pak Agus Balung

Dalam sebuah majelis “jagong bayi” dirumah salah seorang warga kampung yang baru saja menerima anugerah kelahiran seorang bayinya, wak kaji Alimun melemparkan sebuah pertanyaan pada yang hadir di majelis itu.  Saudara-saudaraku, maukah anda mendengar sebuah cerita tentang “keajaiban sebutir buah kurma” yang mampu menolak sebuah doa ?.  Dengan serta merta para hadirin menjawab “Mauuuuu…..”. Baik, kalau begitu……begini ceritanya :

Ibrahim bin Adam, seorang ahli ibadah yang zuhud dan wara’ sedang  menunaikan ibadah haji,  Seusai menunaikan ibadah haji, ia berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.       Empat Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Disana ia shalat dan berdoa dengan khusyuk sekali.

Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya. “Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan Allah SWT,” kata malaikat yang satu.
“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram,” jawab malaikat yang satu lagi.


Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama empat bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullahal adzhim” ibrahim beristighfar.Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “Empat bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya ibrahim.
“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.
“Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”.
Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.
“Nah, begitulah” kata ibrahim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?”.
“Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya sebelas orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”
“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.”
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga menemui sebelas ahli waris pedagang kurma itu.  Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.

Empat  bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.”
“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

Oleh sebab itu marilah kita berhati-hati dengan  makanan yang masuk ke tubuh kita, sudah halal-kah ?
Lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…
Semoga bermanfaat.