Minggu, 06 Januari 2013

JIN.....DALAM TAYANGAN TELEVISI & BIOSKOP




Oleh  : pak Agus Balung

Dalam keseharian sering kita dapati tayangan kesalahan/kekeliruan di media massa, entah itu setak atau elektronik, terutama televisi dan film layar lebar yang mengangkat tema tentang Jin. Yang kita maksud dengan kekeliruan di sini adalah penggambaran jati diri jin yang tidak sesuai dengan syari’at Islam atau menyimpang darinya.  Sudut pandang kita adalah syari’at Islam, bukan seni acting, teknik ambil gambar, atau asumsi yang berkembang di tengah masyarakat. Meskipun tayangan-tayangan tersebut disajikan dalam kemasan hiburan dan tontonan. Di antara kekeliruan media massa, terutama televisi atau layar lebar dalam memaparkan kehidupan jin adalah, antara lain sebagai berikut “

1. Setiap Orang Mati Secara Tidak Wajar Ruhnya akan Gentayangan.
Syari’at Islam tidak mengenal istilah arwah gentayangan. Karena roh orang yang baik atau yang jahat ketika dicabut dari jasadnya, keduanya telah kembali ke tempat yang telah disediakan Allah. Mereka telah pindah alam, dari alam dunia ke alam Barzakh. Roh orang-orang yang shalih disediakan tempat terpisah dari roh orang-orang jahat. Sebagaimana yang termaktub dalam shahih Muslim 4/2202 no. 2872 dalam hadits tentang tempat kembalinya roh mukmin dan kafir.
Dalam riwayat tersebut disebutkan nama kedua tempat kembalinya, yaitu akhirul ajal. Tetapi Qodhi ‘Iyadh menjelaskan bahwa kedua kata itu berbeda arti. Roh orang mukmin akan kembali ke al-Malaul A’la atau ‘Illiyyin (tempat yang paling tinggi), dan roh orang kafir kembali ke Sijjin (tempat yang paling bawah). Pernyataan beliau didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari Abu Said al-Khudri yang jelas menyebut Sijjin sebagai tempat kembali roh orang kafir. Jadi, tidak ada roh gentayangan dalam kajian Islam.
Kalau begitu siapa yang menampakkan diri dan menyerupai sosok orang yang telah meninggal dunia?   Penampakan itu ada karena halusinasi orang yang melihat, atau memang benar-benar penampakan yang dilakukan oleh jin. Adapun halusinasi tidak masuk dalam pembahasan kita kali ini, yang kita bahas adalah penampakan jin. Memang jin mampu merubah dirinya dalam bentuk yang dikehendaki Allah sesuai dengan izin-Nya, hanya saja mereka tidak bisa menyerupai sosok Rasulullah. Sesungguhnya syetan bisa menyerupai siapapun, tapi ia tidak akan bisa menyerupaiku, begitulah Rasulullah menegaskannya dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
Jadi kalau ada penampakan seperti sosok orang yang telah meninggal, itu bukan roh orang tersebut yang penasaran lalu gentayangan. Tapi itu ulah syetan untuk menyesatkan manusia. Dan kelihatannya misi mereka berhasil, karena kenyataannya banyak masyrakat yang termakan oleh persepsi yang salah tersebut. Buktinya tayangan tentang arwah penasaran dan gentayangan yang diyakini sebagai roh manusia masih gentayangan’ dan digemari banyak pemirsanya.
Kalau penampakan yang ada itu persis dengan orang yang telah meninggal, tindakan dan tutur katanya sama, biasanya pelakunya adalah jin qorin.  Jin qorin adalah jin pendamping yang mendampingi seseorang semenjak dilahirkan, sehingga ia tahu betul akan kebiasaan dan kekhasan dari manusia yang didampinginya. Rasulullah bersabda, Tidaklah seorang pun di antara kalian kecuali disertakan untuknya qorin dari jin dan qorin dari malaikat.” (HR. Muslim dan Ahmad).

2. Roh Penasaran Bisa Menampakkan Diri.
Roh adalah suatu yang ringan dan lembut yang bergerak dan mengalir dalam tubuh, sebagaimana air mengalir dalam tumbuhan atau api dalam sekam. Islam tidak mengenal reinkarnasi. Setiap jasad ada rohnya masing-masing, yang akan bertanggung jawab atas perbuatannya selama di dunia. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadialaqah selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah selama itu juga. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Roh yang ditiupkan oleh malaikat ke dalam jasad adalah salah satu dari permasalahan ghoib yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah. Maka dari itu ketika Rasulullah ditanya tentang roh, Allah memberinya jawaban, Dan mereka bertanya kepada-mu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85).
Tidak ada satupun ayat atau hadits yang menjelaskan bahwa roh yang telah keluar dari jasadnya, bisa berubah wujud menjadi sosok jasad yang ditinggalkannya, apalagi merasuki jasad orang lain. Yang bisa berubah wujud atau menyerupai sesuatu atau sosok seseorang adalah malaikat dan jin. Dan roh yang ditiupkan ke jasad seseorang, bukanlah malaikat atau jin, yang ketika telah lepas dari jasadnya bisa berubah wujud atau menampakkan diri.

3. Jin yang menampakkan diri tidak bisa disakiti.
Sering kita lihat dalam tayangan Televisi yang memberitakan suasana ketakutan yang dialami oleh seseorang yang didatangi syetan saat menampakkan diri. Dalam ketakutannya, orang tersebut berusaha melakukan perlawanan, menembak penampakan itu dengan senjata api, membabatnya dengan senjata tajam, atau melemparinya dengan benda-benda yang ada di dekatnya. Akan tetapi usaha tersebut sia-sia belaka, penampakan itu malah tertawa keras dan dengan sombongnya melecehkan perlawanan orang tersebut.
Tidak satupun senjata yang bisa melukainya, semuanya hanya tembus begitu saja seperti melempar ruang hampa. Karena seringnya kita dicekoki oleh tayangan salah seperti itu, akhirnya kita berkeyakinan bahwa syetan itu hebat dan sakti mandra guna, karena tidak bisa disakiti ataupun dibunuh.
Informasi itu jelas bertentangan dengan syari’at Islam, yang telah menceritakan bahwa syetan yang berubah wujud dan menampakkan diri ternyata bisa disakiti bahkan dibunuh. Simaklah kejadian yang diceritakan oleh Abu Sa’id al-Khudri. Bahwa ada seorang shahabat Rasulullah yang membunuh seekor ular di rumahnya, ketika bangkainya mau dibuang, ternyata ular itu masih hidup lalu mematuknya, akhirnya kedua-duanya (ular dan shahabat tersebut mati).
Ketika peristiwa itu diceritakan kepada Rasulullah, beliau bersabda, Sesungguhnya di Madinah ini ada sekelompok jin yang telah masuk Islam. Oleh sebab itu, jika kalian melihat salah satu dari mereka di rumah kalian, maka usirlah sebanyak tiga kali. Jika setelah itu ia masih terlihat, maka bunuhlah karena ia adalah syetan.” (HR. Muslim, no. 4151).
Aisyah berkata, Ketika Rasulullah shalat, datanglah syetan kepadanya. Lalu Rasulullah menangkapnya, membanting dan mencekiknya. Rasulullah bersabda, “Sampai aku rasakan lidahnya yang dingin di tanganku.” (HR. Nasai).
 Dari dua riwayat di atas, jelaslah bagi kita bahwa syetan yang menampakkan diri akan berlaku baginya hukum penampakan, bisa kita sakiti atau kita bunuh sebagaimana yang telah dilakukan oleh seorang shahabat Rasulullah di atas.

4. Jin Mengetahui Perkara Ghoib.
Termasuk yang sering diekspose di televisi, layar lebar atau media massa lainnya seputar kehidupan jin adalah, kehebatannya dalam mengetahui hal-hal yang ghoib. Bahkan terkesan berlebihan dan dibesar-besarkan. Sehingga ketika ada masalah yang berkaitan dengan keghoiban, cara penyelesaiannya tidak jauh dari praktik perdukunan. Karena mereka yakin setiap dukun (apalagi dukun yang sudah punya nama atau terkenal, punya piaraan Jin atau akses dan koneksi dengannya). Seperti untuk menyingkap nasib seseorang yang akan datang, jodohnya atau untuk mengungkap marabahaya yang akan datang. Tayangan dan tontonan seperti itu sangat berpotensi untuk mengikis sifat tawakkal pemirsanya kepada Allah, bahkan menggiring mereka untuk menggantungkan nasibnya kepada selain Allah.
Secara umum jin itu seperti manusia, punya keterbatasan. Termasuk pengetahuan mereka tentang masalah keghoiban, mereka tidak mengetahui hal ghoib yang hakiki. Jin telah mengakui hal itu dalam al-Qur’an, Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.(QS. Al-Jin: 10).
Bahkan Allah telah menunjukkan kepada kita akan ketidaktahuan jin tentang perkara yang ghoib. Misalnya, kematian seseorang. Allah berfirman, Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, jin baru mengetahuinya. Kalau sekiranya mengetahui hal yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan”. (QS. Saba’: 14).
Para jin itu baru mengetahui kematian Nabi Sulaiman, setelah rayap tanah memakan tongkatnya, sehingga tongkat itu patah lalu Nabi Sulaiman jatuh tersungkur. Inilah bukti konkrit atas tidak tahunya jin mengenai hal yang ghoib. Tidak seperti yang digambarkan dalam tayangan-tayangan selama ini, seakan jin bisa mengetahui isi hati dan nasib manusia, ramalan masa depan dan yang sejenisnya. Itulah opini yang salah dan menyesatkan dan harus segera diluruskan.

5. Jin Takut Pada Jimat.
Inilah persepsi yang berhasil dibangun oleh televisi atau media massa lain, merekalah yang selama ini sering menampilkan beragam jimat yang digunakan anak manusia untuk mengusir jin jahat atau syetan. Merekalah yang memberitahu masyarakat luas bahwa dukun bersama jimat yang dimilikinya bisa menghalau syetan, bahkan menyiksa dan membunuhnya. Itulah cerita klenik dan menyesatkan banyak orang. Orang-orang yang menyajikan materi seperti itu di media bertanggung jawab atas penyesatan ini.
Disadari atau tidak, tayangan seperti itu telah mengajak pemirsanya untuk pergi ke dukun, paranormal dan orang yang sejenis mereka. Kita diajak untuk memakai jimat atau benda keramat lain agar selamat dari gangguan syetan. Padahal Rasulullah telah menegaskan, “Barangsiapa yang memakai (menggantungkan) jimat maka ia telah syirik”. (HR. Ahmad dan dishahihkan al-Albani).
Yang menciptakan syetan adalah Allah. Dan Allah-lah yang paling paham tentang apa saja yang disukai syetan atau apa saja yang ditakutinya. Tidak ada satu ayat pun atau hadits Rasulullah yang menjelaskan bahwa syetan takut pada jimat, isim, wifiq. rajah atau benda-benda pusaka dan yang sejenisnya. Yang diberitahukan oleh Rasulullah adalah syetan takut terhadap bacaan ayat-ayat suci atau doa-doa yang telah beliau ajarkan.
Seperti yang disabdakan Rasulullah, Sesungguhnya syetan pergi dan kabur dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat al-Baqarah. (HR. Muslim).
Atau hadits lain, Apabila kamu hendak tidur di pembaringan, bacalah ayat kursi sampai tuntas, karena Allah senantiasa menjagamu dan syetan tidak akan mendekatimu sampai pagi. (HR. Bukhari, dari Abu Hurairah).
 Itulah cara mengusir syetan dan cara membentengi diri dari gangguan syetan secara benar, alias sesuai dengan syari’at Islam, bukan dengan mengoleksi jimat atau minta disembur ludah dukun.

6. Jin Bisa Dilihat Manusia.
Ada beberapa stasiun Televisi yang menyajikan tayangan reality show dan banyak digemari pemirsanya. Sebelum sesi uji nyali dengan menghadirkan seseorang untuk menghadapi ‘kekuatan ghaib’ yang ada di lokasi tersebut, dihadirkanlah seorang dukun yang diberi lebel praktisi spiritual atau ahli supranatural. Setelah melakukan penerawangan, dia menyebutkan kekuatan ghaib yang ada di lokasi, disertai dengan menyebut sosok dan tampangnya. Bahkan dia berani mengklaim bahwa dirinya bisa menggiring atau mendatangkan makhluk ghaib dari luar lokasi.
Kesaktian yang didemonstrasikan para dukun itu telah menyesatkan banyak pemirsa. Karena bertentangan dengan informasi yang ada di dalam al-Qur’an. Allah telah berfirman, Sesungguhnya ia (syetan) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.” (QS. al-A’raf: 27).
Rasulullah juga telah bersabda, “Jika kalian mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai di malam hari, maka berlindunglah kepada Allah. Karena mereka sedang melihat apa yang selama ini tidak bisa kalian lihat (syetan).” (HR. Abu Daud).
Ayat dan hadits tersebut secara jelas memberitahukan kepada kita bahwa jin dalam bentuk aslinya tidak bisa dilihat oleh mata atau ditangkap kamera, kecuali kalau jin tersebut menampakkan diri. Maka dari itu Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah berkata, “Sesungguhnya syetan bisa menampakkan diri dan melakukan penyerupaan yang bisa kita lihat wujudnya. Sedangkan firman Allah pada surat al-A’raf: 27, berlaku apabila jin dalam wujud asli penciptaannya.” (Fathul Bari: 9/ 55).
Sehingga Imam Syafi’i pernah mengatakan, Barangsiapa mengaku dirinya bisa melihat keberadaan jin (dalam bentuk aslinya) maka kami tolak kesaksiannya,  kecuali kalau dia seorang Nabi.” (Fathul Bari: 4/ 489). Kalau kita tidak bisa melihat bentuk aslinya, lalu bagaimana mungkin kita bisa memburu dan menangkapnya kemudian memasukkannya ke dalam botol…???

7. Jin Takut pada Sinar Matahari.
Beberapa tayangan televisi yang melibatkan jin dalam alur cerita mereka, sering menggambarkan bahwa jin atau syetan itu takut pada sinar matahari. Digambarkan ada sosok jin yang menampakkan diri lalu mendatangi seseorang. Dengan berbagai cara dia menakut-nakuti orang tersebut, manampakkan mukanya yang rusak, badannya yang bunting, wajah yang remuk dan berdarah-darah, serta bentuk mengerikan lainnya.
Dan ketika ada ayam yang berkokok pertanda fajar akan menyingsing dan matahari akan terbit, maka si syetan pun ketakutan lalu segera kabur meninggalkan orang tersebut. Mungkin itu termasuk akulturasi dari agama yang menjadikan matahari sebagai sesembahan dan mereka percaya bahwa Matahari punya kekuatan yang ditakuti syetan?           Sebagaimana kepercayaan Ratu Bilqis istri Nabi Sulaiman dan kaumnya sebelum mereka masuk Islam, yang kisahnya diabadikan al-Qur’an di surat an-Naml ayat 24
.
Tapi benarkah syetan takut terhadap sinar matahari? Dalam haditsnya Rasulullah bersabda, Sesungguhnya matahari terbit antara dua tanduk syetan, dan tenggelam antara dua tanduk syetan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bagaimana kita bias mengambil kesimpulan bahwa syetan itu takut pada sinar matahari, padahal matahari terbit dan tenggelam antara dua tanduk syetan?
Manusia itu senantiasa belajar dari apa yang dilihat, dibaca, didengar, dan yang dirasakan. Maka janganlah menganggap enteng terhadap tayangan televisi atau media massa yang ada. Karena sedikit banyak tindakan dan pola pikir kita akan terwarnai dengan informasi-informasi yang berseliweran di sekitar kita. Orang yang suka melihat tayangan mistik dan perdukunan, maka cara dia menyelesaikan masalah yang dihadapi tidak jauh dari materi tontonannya. Tontonan yang mengkultuskan kesaktian dukun akan membentuk keyakinan dalam diri kita bahwa dukun itu hebat. Sampai-sampai tersebar pameo dalam masyarakat, terutama di kalangan remaja “Cinta ditolak, dukun bertindak”, betul-betul slogan yang menyesatkan. 

Alam Jin adalah alam ghoib, dan tidak ada yang mengetahui secara mendalam kecuali Allah. Sedangkan Rasul kita, Muhammad bin Abdullah mengetahui sebatas wahyu yang beliau terima dari Allah. Al-Qur’an menegaskan, “Katakanlah, ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghoib selain Allah.” (QS. An-Naml: 65). 

Maka dari itu, jagalah diri kita dan keluarga kita, terutama anak-anak kita yang masih polos. Jangan sampai termakan oleh opini dari tayangan, tontonan serta bacaan yang menyesatkan, agar kita tidak menjadi teman syetan di neraka Jahannam.
 “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6).
 Agar iman kita kepada yang ghoib tidak salah, maka gunakanlah al-Qur’an dan al-Hadits sebagai parameternya. Ingat, iman kepada yang ghoib termasuk ciri pertama orang yang bertaqwa. Lihat Surat al-Baqoroh ayat 1-3.

Semuga ini bermanfaat bagi kita semua, anda dan saya. Insya Alllah, amin.


Jumat, 04 Januari 2013

SIKLUS AIR MENURUT AL QURAN



 
Oleh  :  pak Agus Balung

Sekarang sudah memasuki musim hujan.  Intensitas hujan yang paling tinggi menurut BMG adalah pada bulan ini, yaitu bulan Januari, sehinggan timbul guyonan dalam masyarakat, bahwa “januari” diplesetkan menjadi hujan sehari hari.   Dan sebagai efeknya, banjir terjadi dimana, di Makassar, Medan, Bandung, dan juga tak ketinggalan kota langganan banjir, Jakarta. Sampai sampai Gubenrnur DKI yang fenomenal, Jokowi, memprogramkan proyek raksasa Deep Tunnel, yang memakan beaya 7 triliun,  dan Restorasi kali ciliwung untuk ,mengatasi banjir di Jakarta.

SIKLUS AIR
Kita tidak berbicara tentang proyek penanggulangan banjir di Jakarta, namun kita coba menyimak materi banjir itu sendiri, yaitu air dan siklusnya menurut Al Quran.
Dalam surat Al-Waqiah ayat 68 dan 69 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?”
Dalam ayat lain disebutkan, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dialahyang menurunkan air dari langit ….” (Al-Baqarah :22)
Dalam ayat tersebut tegas dikatakan bahwa air yang kita minum adalah air yang diturunkan dari langit.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa air tawar yang kita minum berasal dari hujan. Air tersebut turun melalui siklus peredarannya sehingga tersedia air tawar di hulu pegunungan. Awalnya ia berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan es, dan salju, hujan gerimis atau kabut.
Hasil deteksi radar cuaca menunjukkan bahwa pembentukan hujan berlangsung dalam tiga tahap, yaitu: “bahan baku” hujan naik ke udara, lalu awan terbentuk, hingga curahan hujan terlihat.
Tahap-tahap ini dijelaskan dalam al-Qur’an yang memberikan informasi yang tepat mengenai pembentukan hujan. “Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya,   dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira  (Ar-Rum :48)

Al-Qur’an tidak langsung mengatakan air yang kita minum berasal dari sungai, sumur, atau danau. Tapi ia diturunkan berupa air hujan. Dan dari hujan inilah terbentuk sumber-sumber air yang akan mengaliri sungai-sungai, mengisi sumur-sumur, dan memenuhi danau. Tanpa air hujan, siklus air di planet bumi ini tidak akan berjalan. Secara ilmiah siklus ini dinamakan siklus hidrologi.
Sedang mengenai air laut, Allah berfirman dalam surat Al-Waqiah ayat 70, yang artinya: “Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”
Allah memilih kata asin dalam ayat tersebut karena masih berhubungan dengan siklus air. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa air sungai membawa bermacam-macam mineral ke laut, salah satunya adalah sodium klorida (garam). Ketika air laut menguap, hanya airnya (H2O) saja yang menguap sedang garam tetap tertinggal. Melalui proses siklus yang berulang selama jutaan tahun, maka air laut menjadi asin seperti sekarang. Di seluruh pelosok dunia, sungai mengirim sekitar 40 milyar ton garam ke laut setiap tahunnya.
Bukti ilmiah tersebut membuktikan bahwa ayat-ayat yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) yang hidup di jazirah Arab yang kering kerontang adalah benar-benar firman Allah. Di tengah kondisi geografis yang didominasi oleh padang pasir yang sangat jarang disiram air hujan, beliau bisa memberikan penjelasan sangat ilmiah tentang siklus air. Padahal orang di sekitarnya hanya mengenal air minum yang mereka konsumsi berasal dari sumur atau sungai Nil yang menjadi sumber air utama bangsa Arab waktu itu.
Semoga bukti ini semakin meyakinkan kita bahwa ajaran Rasulullah SAW adalah ajaran yang datang dari Pencipta Alam ini. Amin.
Subhanallah…..maha suci Allah

Kamis, 03 Januari 2013

DAN JANINPUN MENANGIS TERTAWA DALAM RAHIM IBU





Oleh  :  pak Agus Balung

Selama ini kalangan medis berpendapat bahwa janin tidak memiliki ekpresi apa pun sampai enam minggu kelahiran. Setelah itu, barulah ia belajar tersenyum dengan meniru ibunya. Namun hasil penemuan terbaru mementahkan pendapat tersebut. Ternyata melalui teknologi ultrasonografi 4 Dimensi (USG 4D) diketahui bahwa janin bisa tersenyum dan menangis saat masih dalam rahim.
Tentu saja fakta ini mengejutkan banyak ilmuwan. Mereka kemudian bertanya, siapakah yang mengajarkan janin itu menangis dan tersenyum, padahal ia belum melihat ibunya?
Profesor Stuart Campbell mengatakan, “Ada apa di balik senyum itu? Tentu saja, saya tidak bisa menjawabnya. Tapi, faktanya muncul sudut dan tonjolan di pipi. Aku pikir itu pasti ada indikasi kepuasan dalam sebuah lingkungan yang bebas stres.”

Bagi orang yang memahami al-Qur`an tentu pertanyaan itu akan terjawab. Dalam kitab suci tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
(An-Najm : 43)
Ayat ini merupakan indikasi yang kuat bahwa yang memberikan kemampuan tertawa dan menangis janin tersebut adalah Allah.
Sebelumnya, al-Qur`an juga dengan tepat menjelaskan proses kejadian manusia yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. Keajaiban penciptaan manusia tersebut terungkap melalui tahap-tahap perkembangan janin yang digambarkan oleh Al Quran.
Ia dimulai dengan pembentukan sel-sel germinal pada orang tuanya. Ketika sperma bertemu dengan ovum, keduanya membentuk zigot (nutfah amsyaj) yang kemudian menjadi gumpalan seperti lintah (‘alaqah). Selanjutnya ‘alaqah tersebut berubah menjadi segumpal daging sekunyahan (mudghah), lalu berubah lagi menjadi tulang yang tertutup dengan daging.
Dalam jangka waktu yang telah ditentukan, sel-sel itu tumbuh menjadi makhluk lain yang dinamis dan bergerak dalam rahim ibunya, dengan ekspresi wajah terlihat jelas.
Kini, setelah ditemukan sebuah alat canggih, ternyata janin bisa tersenyum dan menangis dalam perut ibu sebelum mereka melihat cahaya di bumi. Tentu saja yang bisa melakukan hal itu hanyalah Allah Ta’ala sebagaimana termaktub dalam ayat di atas tadi.
Penemuan ini sekaligus membuktikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak cuma sejalan dengan al Quran,   akan tetapi ternyata al Quran juga mampu menjawab pertanyaan pertanyaan yang membingungkan para ilmuwan.
Subhanallah, maha suci Allah.