Rabu, 07 Mei 2014

JANGAN LIBATKAN AHLI KUBUR DALAM PEMILU



JANGAN LIBATKAN AHLI KUBUR DALAM PEMILU
 
Oleh  :  pak Agus Balung


Hingar bingar Pemilihan Legislatif 2014 kemaren masih menyisakan berbagai cerita, banyak kisah sedih yang kita dengar dari para caleg kita yang gagal menggapai cita, namun ada juga kisah manis dari para caleg kita yang berhasil melenggang duduk di kursi legislative.

Hampir setiap menjelang pemilihan umum (pemilu), ada perilaku aneh yang ditunjukkan penduduk negeri ini. Menjelang Pemilu 2004 lalu, di Jawa Timur,  ada orang mengaku bertemu Sunan Ampel, salah seorang Wali Songo yang wafat kurang lebih enam abad lalu.

Pertemuan ini menurutnya dalam keadaan terjaga, tidak dalam keadaan mimpi. Ia mengklaim mendapat pesan dari Sunan Ampel untuk disampaikan kepada umat Islam Indonesia. Yakni agar dalam pemilu, mereka memilih calon legislatif (caleg) dari partai anu dan calon presiden bernama fulan.


Dalam pemilu berikutnya, perilaku aneh seperti itu juga muncul termasuk menjelang dan saat kampanye Pemilu 2014 ini. Sekurang-kurangnya, ada tiga tokoh yang sudah meninggalkan dunia ini, gambarnya banyak dipasang di berbagai tempat.

Mereka itu adalah Bung Karno (presiden pertama Republik Indonesia), KH Muhammad Hasyim Asy’ari (pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dan Rais Akbar Partai Masyumi), dan KH Abdurrahman Wahid alias  Gus Dur (presiden keempat Republik Indonesia).

Gambar mereka banyak dipasang bersama calon caleg dan atau partai peserta pemilu. Pemasangan gambar tokoh-tokoh ahli kubur ini setidaknya memiliki beberapa tujuan. Pertama, memberikan kesan tokoh ahli kubur itu mendukung dan merestui caleg dan atau partai peserta pemilu.

Kedua, caleg dan atau partai peserta pemilu adalah pelanjut perjuangan tokoh-tokoh ahli kubur tersebut. Dalam sebuah syair bahasa Arab disebutkan, “Bukanlah pemuda sejati orang yang membanggakan orang tuanya, pemuda sejati adalah orang yang mengatakan, ‘inilah saya!”

Maka pengusungan gambar tokoh-tokoh ahli kubur yang dilakukan sejumlah caleg menunjukkan yang bersangkutan tidak memiliki modal untuk bertarung dalam pemilu. Mestinya, para caleg menyodorkan program-programnya kepada rakyat yang akan memilihnya.

Bila program-program itu menarik dan dapat menjanjikan kesejahteraan rakyat, tentulah rakyat akan memilih para caleg itu. Namun tampaknya, mereka tidak memiliki program seperti itu. Mereka juga tidak mempunyai kepercayaan diri.

Jadi, untuk merebut hati para pemilih tidak ada cara lain bagi mereka kecuali menjual nama dan gambar tokoh-tokoh ahli kubur. Seharusnya, para tokoh ahli kubur itu tidak perlu dilibatkan dalam politik praktis apalagi pada saat kampanye.

Biarlah mereka tenang di alam baqa sana, dengan diiringi doa-doa kita agar Allah menerima amal ibadah mereka dan mengampuni segala dosa dosanya.

Politik memang terkadang menjungkirbalikkan hukum dan norma-norma sehingga kita terkadang sulit membedakan acara keagamaan dengan kampanye politik.

Mengawali kampanye pemilu tahun ini, ada partai peserta pemilu mengadakan acara haul (doa bersama) untuk seorang tokoh yang partai itu ikut melengserkannnya dari jabatannya. Sehingga masyarakat sulit membedakan sebuah acara keagamaan dengan kampanye politik.

Di sisi lain tampaknya masyarakat juga belum meninggalkan budaya emosional dalam mengikuti pemilu. Tampaknya rakyat belum mau bersikap kritis dalam memilih calon wakil mereka. Akibatnya kualitas anggota legislatif yang mereka pilih masih jauh dari harapan.

Kampanye yang dilakukan sejumlah caleg sebelum waktu kampanye yang telah ditentukan menunjukkan  yang bersangkutan memiliki kecenderungan melanggar aturan.

Tidak mustahil, apabila mereka menjadi anggota legislatif, mereka akan melanggar aturan-aturan yang berlaku. Selagi perilaku caleg dan calon pemlih masih seperti itu maka kualitas demokrasi di negeri ini masih jauh dari harapan.

(Terinspirasi dari tulisan : KH Ali Mustafa Yaqub)


Selasa, 06 Mei 2014

S O M B O N G



SOMBONG

Oleh  :  pak Agus Balung


Diriwayatkan oleh Abi Hurairah R.a,  bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bercerita, suatu ketika ada tiga orang dari kabilah Bani Israil, ketiganya menderita penyakit. Ada yang kusta, botak, dan buta. Lalu Allah mengutus malaikat untuk menguji ketiganya.

Pertama, malaikat mendatangi orang yang menderita kusta dan malaikat menanyainya, “Apa yang paling kamu inginkan?” Orang kusta itu menjawab, “Aku ingin wajah tampan dan kulit tubuh yang indah,  dan tidak akan ada lagi sesuatu dariku yang dibenci oleh banyak orang.”

Kemudian malaikat membasuh kulit orang tersebut, dan wajahnya berubah sesuai permintaan. Malaikat menanyainya lagi, “Lantas, harta apa yang kamu inginkan?” “Unta,” jawab si Kusta. Akhirnya si kusta diberi unta hamil. Dan malaikat mendoakan semoga membawa berkah.


Yang kedua, malaikat mendatangi orang yang botak. Dan menanyainya dengan hal sama seperti si kusta. Si botak menginginkan rambut yang bagus, serta tidak ada lagi sesuatu darinya yang dibenci oleh banyak orang.

Lalu malaikat membasuh kepala si botak, dan tumbuhlah rambutnya sesuai yang diinginkan. Malaikatpun bertanya lagi, “Harta apa yang paling kamu inginkan?” “Sapi hamil,” jawab si botak. Malaikat memberikan apa yang dimintanya.

Malaikat pun mendoakan semoga harta tersebut membawa berkah. Peristiwa yang sama juga diberi kepada orang cacat yang ketiga, yaitu orang buta. Si buta menginginkan agar Allah mengembalikan penglihatannya lagi, agar dapat melihat manusia.

Kemudian, keinginannya pun dikabulkan, si buta dapat melihat seperti sebelumnya. Malaikatpun menanyainya, “Harta apa yang kamu inginkan?” “Kambing yang beranak,” jawab si buta. Permintaanpun dikabulkan.

Setelah waktu yang lama, malaikat mendatangi mereka lagi dengan menyamar sebagai sosok pria miskin. Pertama, malaikat mendatangi orang yang sebelumnya mengidap kusta.

Malaikat berkata, “Aku telah kehabisan bekal perjalanan, dan daku tidak mampu bertahan lagi kecuali mendapat pertolongan dari Allah dan kamu yang telah diberi wajah tampan dan harta. Aku minta satu ekor unta paling kecil saja untuk bekal perjalanan.”

Orang yang awalnya kusta tadi mengecoh dan menanggapinya, “Peminta itu banyak. Dan ini semua berkat warisanku yang banyak.” Akibatnya, malaikatpun mendoakan, sehingga dia kembali kusta dan miskin. Begitu juga yang terjadi pada orang yang awalnya botak.

Tetapi, tidak pada orang yang awalnya buta. Ketika malaikat mendatanginya, orang tersebut menghargai kedatangan malaikat, dan menyuruh sosok miskin tadi mengambil apa yang dia minta. Namun, sebenarnya tujuan malaikat bukan mengambil harta, karena semua hanyalah ujian dari Allah.

Kisah yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah  keangkuhan,  kesombongan   bukan mengantarkan pada seseorang kepada kebaikan, melainkan membawa ke jurang keburukan.

(Terinspirasi dari tulisan  :   Khoirul Anwar Afa)




Sabtu, 26 April 2014

RASA NYERI PADA KULIT.....BUKTI KEBENARAN AL-QURAN



RASA NYERI PADA KULIT…….BUKTI KEBENARAN AL QURAN

Oleh  :  pak Agus Balung



Allah berfirman :  ''Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.'' (QS. An-Nisa: 56)

Bagi sebagian besar umat Islam, ayat di atas terdengar seperti ayat-ayat serupa dalam Alquran yang menjelaskan pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman. Namun tidak demikian bagi Tagatat Tejasen, seorang ilmuwan Thailand di bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.




Konferensi Kedokteran Saudi ke-6 di Jeddah yang diikuti Prof. Tejatat Tejasen, Ketua Jurusan Anatomi, Universitas Thailand, Chiang Mai,  pada Maret 1981 menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban itu. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, sejumlah ilmuan Muslim menyodori Tejatat Tejasen beberapa ayat Alquran yang berhubungan dengan anatomi.

Prof. Tejatat Tejasen yang beragama Buddha kemudian mengatakan bahwa agamanya juga memiliki bukti-bukti serupa yang secara akurat menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para ilmuan Muslim yang tertarik mempelajarinya meminta profesor asal Thailand itu untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut pada mereka.

Setahun kemudian, Mei 1982, Tejatat Tejasen  menghadiri konferensi kedokteran yang sama di Dammam, Arab Saudi. Saat ditanya tentang ayat-ayat anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru meminta maaf dan mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pernyataan tersebut sebelum mempelajarinya. Ia telah memeriksa kitabnya, dan memastikan bahwa tidak ada referensi darinya yang dapat dijadikan bahan penelitian.

Ia kemudian menerima saran para ilmuan Muslim untuk membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore, seorang profesor bidang anatomi asal Kanada. Makalah itu berbicara tentang kecocokan antara embriologi modern dengan apa yang disebutkan dalam Alquran.

Tejasen tercengang saat membacanya. Sebagai ilmuwan di bidang anatomi, ia menguasai dermatologi (ilmu tentang kulit). Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri dari tiga lapisan global, yakni Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan yang terakhirlah, Sub Cutis, terdapat ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf.

Penemuan modern di bidang anatomi menunjukkan bahwa luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan syaraf-syaraf yang mengatur sensasi. Saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus Sub Cutis), seseorang tidak akan merasakan nyeri. Hal itu disebabkan tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent pengatur sensasi yang rusak oleh luka bakar tersebut.

Makalah itu tidak saja menunjukkan keberhasilan teknologi kedokteran dan perkembangan ilmu anatomi, namun juga membuktikan kebenaran Alquran. Ayat 56 surah An-Nisa’ mengatakan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru setiap kali kulit itu hangus terbakar, agar mereka merasakan pedihnya azab Allah.

Jantung Tejasen berdebar. “Bagaimana mungkin Alquran yang diturunkan 14 abad yang lalu telah mengetahui fakta kedokteran ini?”


Sebelum berhasil mengatasi keterkejutannya, Tejasen disodori pertanyaan oleh para ilmuan Muslim yang mendampinginya, “Mungkinkah ayat Alquran ini bersumber dari manusia?”

Ketua Jurusan Anatomi Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak, kitab itu tidak mungkin berasal dari manusia. Ia kemudian termangu dan melanjutkan responsnya, “Lalu dari mana kiranya Muhammad menerimanya?”

Mereka memberitahu Tejasen bahwa Tuhan itu adalah Allah, yang membuat Tejasen semakin ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah itu?” tanyanya.

Dari para ilmuan Muslim tersebut, Tejasen mendapatkan keterangan tentang Allah, Sang Pencipta yang dari-Nya bersumber segala kebenaran dan kesempurnaan. Dan Tejasen tak membantah semua jawaban yang diterimanya. Ia membenarkannya.

Profesor yang pernah menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai lalu itu kembali ke negaranya, tempat ia menyampaikan sejumlah kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya itu. Informasi yang dikutip oleh laman special.worlofislam.info menyebutkan bahwa kuliah-kuliah profesor yang masih beragama Buddha itu, di luar dugaan, telah mengislamkan lima mahasiswanya.

Hingga akhirnya, pada Konferensi Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh, Tejasen kembali hadir dan mengikuti serangkaian pidato tentang bukti-bukti Qurani yang berhubungan dengan ilmu medis. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, Tejasen banyak mendiskusikan dalil-dalil tersebut bersama para sarjana Muslim dan non-Muslim.

Di akhir konferensi, 3 November 1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh peserta konferensi, ia menceritakan awal ketertarikannya pada Alquran, juga kekagumannya pada makalah Keith Moore yang membuatnya meyakini kebenaran Islam.

“Segala yang terekam dalam Alquran 1.400 tahun yang lalu pastilah kebenaran, yang bisa dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah menerimanya sebagai cahaya yang diwahyukan oleh Yang Maha Pencipta,” katanya. Tejasen lalu menutup pidatonya dengan mengucap dua kalimat syahadat.

Subhanallah…….


(Sumber  :  Republika.co.id)



Minggu, 06 April 2014

Panggil Saya....."HAJI MANSYUR"



Panggil Saya…..”HAJI MANSYUR”

Oleh  :  pak Agus Balung



Untuk kesekian kalinya saya mendapatkan ilham sebagai  bahan tulisan buat artikel saya dari tamu yang datang untuk konsultasi ke tempat saya. Hari itu tamu saya datang dari Pamekasan, Madura. Sebenarnya keluhan beliau cuma stroke ringan dan selalu pusing. Ditengah tengah kosultasi, beliau berceloteh, bagaimana kalau saya ganti nama saja, biar sehat, gak sakit-sakitan, begitu kata beliau. Beliau berkata demikian, karena terinspirasi  saat nonton acara metafisika di salah satu stasiun televisi, nara sumbernya mengatakan bahwa dengan mengganti nama, dapat mengubah nasib sial menjadi bernasib baik. Saya gak jawab, diam saja. Tapi rekan kerja saya bilang, :  “Bisa saja, contohnya setiap selesai ibadah haji, selalu diganti namanya.”


Jawaban rekan kerja saya itu membuat saya penasaran. Lalu saya teringat peristiwa yang terjadi seminggu yang lalu. Saat itu saya shalat maghrib di Masjid jami’ Ubi 8. Saya bertemu dengan seorang kawan yang berasal dari tetangga desa, Bangsalsari, yang sudah saya kenal sebelumnya, tetapi belum tau namanya.  Karena merasa sama sama berasal dari Jember, maka saya cepat sekali merasa akrab, profesi kawan baru saya itu penarik becak. Nah, begitu kami bertemu lagi dimasjid untuk sama sama shalat maghrib, dia dengan rasa percaya diri yang tinggi mengulurkan tangannya, menjabat tangan saya dengan erat, sambil mengenalkan diri : “Haji Mansyur”.  Saya agak terperangah mendengarnya,  sampai saya lupa menyebutkan nama saya.


Suatu peristiwa yang mungkin sangat sederhana, bisa terjadi pada siapa saja, dan kapan saja. Tetapi tidak bagi saya. Bagi saya, itu lebih cenderung sebagai proklamasi diri dari teman saya itu, bahwa dia adalah seorang haji, walaupun dia seorang penarik becak.  Rupanya teman saya itu butuh pengakuan dari teman-temannya, terlebih lebih teman yang baru, seperti saya ini, bahwa dirinya sudah haji, dan menurutnya saya harus tau itu.


Fragmen sebabak diatas memaksa saya untuk buka buka literature tentang  : “Perlukah kita ganti nama setelah menunaikan ibadah haji”


Di antara kebiasaan jama’ah haji Indonesia sepulang dari menunaikan ibadah haji adalah mengganti nama yang menurut mereka lebih Islami.  Selain itu, setelah pulang ke kampung halamannya mereka langsung mendapatkan gelar “Haji/Hajjah” di depan namanya.

Lalu bagaimanakah yang sesungguhnya Islam memandang itu ?

Untuk  menjawab itu,  mari kita simak fatwa dari Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’ ketika diajukan pertanyaan : Apa hukum mengganti nama sepulang dari haji sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan jama’ah haji Indonesia? Mereka mengganti nama-nama mereka ketika di Makkah Al-Mukarramah atau di Madinah Al-Munawwarah, apakah amalan seperti ini sunnah atau bukan?
Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta’  memberikan fatwanya sebagai berikut :
Dahulu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengganti nama-nama yang buruk dengan nama-nama yang baik.  Nah, Jika penggantian nama yang dilakukan oleh jama’ah haji Indonesia itu karena faktor tersebut (mencontoh seperti yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), maka ini boleh,
Jadi bukan karena yang lain, misalnya karena selesainya mereka dari ibadah haji ataupun ziarah ke masjid Nabawi untuk shalat di dalamnya.
Adapun jika mereka mengganti nama-nama mereka itu disebabkan karena mereka sedang di Makkah atau Madinah, atau karena selesai dari melaksanakan ibadah haji misalnya, maka ini termasuk bid’ah, bukan sunnah.


Nah, selain itu, di Indonesia biasanya orang yang sudah pernah melakukan ibadah haji, setelah pulang ke kampung halamannya langsung mendapatkan gelar “Haji/Hajjah” di depan namanya. Bagaimana sebenarnya hukum menggunakan gelar “Haji/Hajjah” dalam islam?
Untuk yang satu ini, mari kita simak penjelasan beikut ini.
Menurut  Fatwa Asy Syaikh Shalih As Suhaimi hafizhahullah      
Begini fatwa beliau :  gelar Haji/Hajjah yang dipasang didepan namanya adalah perkara yang berbahaya sekali, sebagian menggantungkan tanda di rumahnya, dengan harapan agar  ia dipanggil “Haji Fulan”. Tidak diragukan lagi, bahwa perbuatan seperti ini tidak boleh, dan dikhawatirkan akan menyeretnya kepada perbuatan riya’.
Para shahabat yang berjumlah 120.000 orang, mereka juga telah menunaikan haji, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang menggunakan gelar “Haji/Hajjah”.
Penting bagi kita untuk mengetahui,  bahwa pada dasarnya amalan yang diharapkan padanya pahala di sisi Allah, adalah amalan yang dilakukan seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu harus disembunyikan. Tidak mengandung harapan untuk dipuji atau disanjung dan yang semisalnya, agar mendapatkan pahala di sisi Allah.
Maka, jika seseorang yang pergi haji kemudian ingin dipanggil “Haji/Hajjah”, yang jelas dan telah dimaklumi bahwa panggilan “Haji” di sini mengandung pujian. Apalagi kalau sampai dia sudah pergi haji dan tidak mau dipanggil kecuali dengan sebutan “Pak Haji”.
Dikhawatirkan gugur amalannya, tiada pahala di sisi Allah.
Kemudian, selain hal tersebut,  haji itu kalah utama dibandingkan shalat, shalat jauh lebih utama dibandingkan haji. Zakat jauh lebih utama dibandingkan haji, puasa lebih utama dibandingkan haji. Toh, Shalat tidak pernah digunakan sebagai gelar didepan nama orang yang ahli shalat, begitu juga dengan zakat, zakat tidak pernah digunakan sebagai gelar, didepan nama orang yang gemar mengeluarkan zakat.

Wallahu a’lam bisshowab