Selasa, 23 Oktober 2012

IKHLAS ITU MEMANG MENAKJUBKAN




Oleh : pak Agus Balung

Dalam tulisan saya terdahulu dalam blog ini juga yang berjudul Beda Thariqah dan Ilmu Hikmah  sudah saya sebutkan, bahwa menurut kacamata thariqah, ilmu Hikmah itu bisa menjadi hijab bagi para penempuh jalan sufi. Mengapa demikian, karena kalau kita berdzikir pada Allah agar supaya dapat rizqi yang banyak, maka tujuan berdzikir itu tidak lillahi ta’allah,  karena tujuan  kita adalah agar supaya mendapatkan rizqi yang banyak, nah, ketika kita terbayang akan rizqi yang banyak, maka kita  akan kehilangan Allah, ya kan ?
Nah, untuk memperkuat tulisan saya tersebut diatas, maka berikut ini saya sajikan tulisan dari Saudara saya Sun go kong, yang diposting dalam sebuah kolom comment tanggal 19 Oktober 2012, oleh Rishang Mukthi,  berikut ini tulisannya :

Suatu ketika saya membaca sebuah koment, yang isinya : “Saya sudah lama mencoba mengamalkan amalan tersebut, tapi koq gak ada hasilnya, ya ?”
Dan mungkin masih banyak lagi pertanyaan  yang senada, apa kurang khusyuk, atau bagaimana, dan sebagainya, dan sebagainya

 Disini Saya (penulis ini),  akan menceritakan pengalaman pengalaman saya, tanpa bermaksud ujub. Yang sedikit banyak sudah saya ceritakan di posting Pengalaman mistis.
Banyak dari kita mengamalkan suatu amalan, dzikir, mantra, hanya untuk semata mata  mengejar hikmah saja.  Dengan amalan ini maka kita akan bisa begini, bisa begitu, dan seterusnya dan seterusnya.
Dulu sayapun begitu, saya ingin punya kemampuan ini itu, bisa begini bisa begitu, yah, bisa sakti lah, bisa tampil beda dibanding dengan orang kebanyakan  lainnya. Tetapi ternyata apa yang saya dapat ?    Semakin dikejar, semakin menjauh.  Semakin besar keinginan kita untuk memetik sesuatu, justeru semakin dalam kekecewaan yang didapat.


Sehingga sampai pada puncaknya, saya berkata dalam hati : “Persetan dengan ilmu ilmu itu…!!”.  Lalu sayapun bertekad dalam hati, dzikir, cuma dzikir, yang penting dzikir, titik.  Tidak ada lagi mau begini, mau begitu, hanya dzikir.
Pada titik inilah, justeru terjadi perubahan dalam diri saya. Saya mulai mendapatkan hikmah atas dzikir saya.  Saya mulai bisa melihat alam ghaib,  ini awal hikmah yang saya dapatkan.  Ketika saya tanyakan pada guru, beliau hanya tersenyum, dan berkata : “Nak, itulah ikhlas”

Subhanallah, Ikhlas, satu kata yang sederhana, mudah diucap, ternyata sulit dikerjakan. Lalu kata guru saya selanjutnya : “Itulah buah yang kamu dapatkan, terawangan, itu hanya sekedar buahnya.  Nah, satu pelajaran yang telah kamu dapat, yaitu keikhlasan.    Saat itu, saya begitu takjubnya dengan perkataan beliau, begitu indah ditelinga, begitu berharga pelajaran yang saya dapatkan.
Suatu ketika, guru kedatangan seorang tamu yang minta tolong, bapaknya, yang seorang pejabat, terkena guna guna hingga lumpuh dalam hitungan 3 hari. Gurupun menyuruh saya untuk berangkat kerumah orang yang sakit itu. Sayapun patuh pada guru, berngkatlah saya, padahal hikmah yang saya dapatkan Cuma baru bisa melihat yang ghoib saja, tidak lebih. Sebelum berangkat saya dipanggil guru ke musholahnya. Beliau berkata : “ Nak, berangkatlah kamu kesana, tapi ingat, kalau kamu mengandalkan ilmu kamu, mengandalkan dzikir kamu, saya pastikan 90 % kamu akan mati. Tapi kamu harus berangkat, dan ingat lagi, saya tidak akan menolongmu. Kalau kamu tidak mau berangkat,  maka saya yang akan membunuhmu”
Mendengar perkataan guru, berbagai macam perasaan campur aduk jadi satu, dalam hati saya berkata : “Guru koq kejam amat sih, menyesal saya berada disini, berguru padanya.”
Dengan perasaan yang tidak menentu saya terpaksa berangkat ketempat orang yang sakit. Berada ditempat orang yang sakit saya cuma bingung dan bingung dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh keluarga pasien, dan oleh hal hal lainnya. Hari pertama dan kedua tidak terjadi apa apa, disitu saya cuma berdzikir dan dzikir mohon pertolongan Allah. Pada hari ketiga, saat saya shalat dhuhur, saya merasa dibelakang saya ada sesuatu yang mengamati saya, dan memang benar. Begitu selesai shalat saya melihat ada satu makhluk yang luar biasa besarnya, saya hanya sebesar jempol kakinya, dia memandang saya dengan marah. Tiba tiba makhluk itu menggenggam tubuh saya, hingga saya tak bisa bernapas, sakit seluruh tubuh saya, begitu takutnya saya, apakah saya akan mati ?
Saya mencoba menerapkan dzikir saya, tapi anehnya makhluk itu malah tertawa dan berkata : “Apa yang kamu baca, aku sudah amalkan ratusan tahun, percuma !”
Hati dan pikiran saya jadi gelap mendengar perkataan makhluk itu, kalau sudah demikian adanya saya harus bagaimana lagi, apa yang harus saya perbuat, kenapa guru tidak mau menolong saya, mengapa guru menginginkan saya mati. Berbagai pertanyaan muncul dalam hati saya.

Sampai pada titik klimaks ketakutan saya, saya bersumpah serapah pada mkhluk itu : “Ayo  bunuh aku !  semua orang pasti mati, sekarang mati besok juga mati,  ayo cepat bunuh aku !!”
Tapi anehnya, makhluk itu malah melepaskan saya, dan menjauh,  dari  wajahnya terpancar ketakutan yang amat sangat. Sayapun heran kenapa ini bisa terjadi. Saya sudah tidak takut lagi pada makhluk itu, saya tidak takut mati, sayapun menemukan pencerahan.  Inilah yang ditakutkan  oleh makhluk itu,  ketika rasa takut saya hilang, berganti dengan rasa pasrah pada dzat yang Maha Kuasa,  shalatku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, oleh karena itu terserah Allah kapan mau mengambil aku, kapan saja. Itulah kuncinya.  Kemudian saya mencoba membaca Basmallah dengan komposisi batin pasrah, melepas semua ‘ke-egoan’ diri. Dan, apa yang terjadi, tiba tiba makhluk itu lebur menjadi abu, Subhanallah.  Saya tertegun bingung tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi, sampai keluarga yang sakit memanggil manggil saya, mereka berkata bapak sembuh dengan tiba tiba.  Allahu Akbar, hanya itu kata yang terucap dari bibir saya.
Hari itu juga saya pulang ketempat guru, sampai disana, kembali guru tersenyum : “Bagaimana nak, apakah kamu mati ?”
Saya ceritakan kembali pada guru apa yang saya alami di rumah pasien dengan detail tak kurang satupun.
Lalu kata beliau : “Satu lagi buah yang kamu dapatkan dari ikhlas dan pasrah.  Hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai seorang hamba Allah. Kita pasrahkan hidup kita pada yang memberi  hidup.  Dan satu hal lagi, yaitu sikap penghambaan kita pada Allah, lepaskan sifat ke-egoan kita, karena sesungguhnya kita ini tidak mempunyai daya apa apa.

Semoga yang sedikit ini membawa manfaat pada kita semua, bahwa sikap yang ikhlas dan pasrah hanya untuk Allah semata akan berbuah sesuatu yang sama sekali tak terduga,  kalaupun  toh  karena hikmah kita kebetulan dikaruniai oleh Allah sesuatu yang lebih dari orang kebanyakan, maka ingatlah sesungguhnya kita ini dihadapan Allah makhluk yang lemah dan tidak mempunyai daya, kecuali atas kehendakNya.  


(Sumber  :  Sun go kong, posting by Rishang Mukhti, tgl.19 Oktober 2012)

Rabu, 17 Oktober 2012

KETIKA JIN TIDAK TAKUT PADA ORANG YANG BACA AL QURAN





Oleh  :  pak Agus Balung
Sering kita jumpai dalam realita kehidupan bahwa banyak orang yang membaca al qur’an tapi masih bisa diganggu oleh jin.  Lalu sering pula kita saksikan  dalam tayangan dunia lain atau uji nyali alam gaib,  peserta uji nyali malah keder atau ketakutan walaupun sudah membacanya ayat ayat Qur’an misalnya ayat kursyi, surat yasin, atau surat surat yang lain.
Apakah Al Qur’an sudah tidak ampuh lagi? Atau jin setan sudah kebal terhadap bacaan Al Qur’an?
Fenomena ini sering terjadi dan kadang sering membuat orang-orang menjadi galau, menjadi tidak percaya lagi pada ayat-ayat Al Qur’an, dan akhirnya malah lari dari ayat-ayat Al Qur’an, dan malah mencari selain ayat-ayat Al Qur’an karena iming-iming yang luar biasa dari suatu amalan atau mantera atau ajian tertentu yang bila diamalkan atau akan bisa mengalahkan bahkan mengendalikan jin setan.
Bahkan kadang dengan bisa mengendalikan jin ada bonus lain, misalkan rejeki lancar atau kaya, bisa sakti atau di hormati orang lain, bisa mempengaruhi orang lain dan banyak lagi bonus yang memanjakan nafsu anak manusia.
Hal-hal tersebut sangat tidak baik apalagi jika ditonton oleh anak kecil yang masih bersih.
Bila anak-anak kecil menonton hal tersebut pasti akan mempertanyakan kenapa jin tidak takut pada orang yang membaca ayat-ayat Al Qur’an,  lebih parah lagi jika sudah menonton tayangan pemburu hantu, pasti dalam benaknya tertanam bahwa orang-orang yang bisa mengalahkan atau mengusir hantu atau jin harus dengan acara mengeluarkan tenaga dalam dan lain sebagainya.
Mungkin anda pernah mendengar ketika ada orang yang kesurupan dan coba diobati atau dibacakan ayat kursyi tapi  jin dalam tubuh orang yang kesurupan tersebut malah mentertawakan dan bahkan menyalahkan tajwid dan mengajari ngaji.
Pernah suatu ketika ada kejadian  didekat rumah teman yang biasa kami jadikan tempat untuk dzikir.  Didekat rumah teman tersebut terjadi kesurupan.
Orang-orang yang ada dirumah tersebut mencoba menolong dan membacakan ayat kursyi namun malah ditertawakan karena tajwidnya salah dan malah diajari ngaji yang benar oleh jinnya.
Karena gaduh teman saya keluar rumah. Setelah tahu bahwa terjadi kesurupan, teman saya menyuruh orang yang kesurupan untuk dibawa masuk kedalam rumahnya, dan dibawalah orangyang kesurupan itu masuk keruma teman,  namun baru sampai didepan pintu halaman saja jinnya sudah meronta dan pamitan mau kabur dan benar orang yang kesurupan tersebut akhirnya sadar hanya dibawa masuk kehalaman rumah teman saja.
Hal-hal tersebut terjadi adalah karena imannya tidak seratus persen untuk Allah.  Ada beberapa bagian imannya yang diberikan untuk selain Allah, jin setan misalnya.
Jika orang tersebut percaya bahwa jin setan mempunyai kekuatan dan bisa mencelakakan seseorang maka jin dan setan akan masuk kedalam tubuh orang tersebut dan menguasainya.
Dan bila sudah menguasai tentu saja akan dibuat semua bergantung pada mereka, dan tidak pada Allah.
Orang yang beriman sudah pasti tidak akan  memberi  ruang dalam hatinya untuk selain Allah.
Dia tidak takut pada gangguan jin atau setan karena ia bersama Allah dan yakin bahwa jin atau setan itu lemah. Orang yang beriman atau yakin kepada Allah, apa yang ia ucapkan semua didasari oleh iman, iman kepada Allah.
Orang yang beriman tidak akan pernah  bermain-main dengan jin atau setan seperti para dukun atau paranormal itu. Dalam kasus orang kesurupan yang saya ceritakan diatas, insya Allah karena iman.
Rumah orang yang beriman ditakuti oleh jin. Tidak perlu menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk mengusir jin seperti pada kasus diatas.
Percuma saja membaca ayat-ayat Al Qur’an bila ada rasa takut kepada selain Allah. Jin atau setan hanya takut pada orang yang benar-benar takut kepada Allah bukan takut kepada mereka.
Takut kepada Allah berarti mempunyai iman dan takut pada jin dan setan berarti tidak beriman.
Percuma saja mengaji setiap hari atau menjalankan syariat islam bila hatinya tidak islam.
Percuma saja mengaji tapi ngajinya bukan sebagai amal ibadah namun hanya untuk mempertahankan atau memperdalam ilmunya yang berkolaborasi dengan jin atau setan.
Percuma saja orang beribadah tapi tujuannya bukan Allah. Sesungguhnya antara iman dan syirik adalah sangat tipis. Disinilah orang sering tertipu.
Baju muslim, kefasihan berbahasa Arab, kepanjangan janggut, dan ornamen islam lainnya bukanlah ukuran iman seseorang.
Lamanya mondok atau belajar agama tidak menjamin ketebalan iman seseorang. Bahkan gelar ustadz atau kyai tidak menjamin seseorang beriman kepada Allah.
Sering terjadi kesalahan fatal dalam melihat keimanan seseorang dalam masyarakat. Belum tentu orang yang tidak fasih Al Qur’an imannya tipis.
Belum tentu orang yang berpakaian ala kadarnya dan jauh dari baju gamis dan surban itu tidak beriman.
Bila ada orang membaca Al Qur’an namun tanpa di dasari iman, tentu saja jin atau setan akan menertawainya sefasih apapun dia.
Namun walaupun seseorang yang tidak fasih namun beriman, dia akan ditakuti jin dan setan.
Orang yang beriman, insya Allah segala tindak tanduknya akan ditakuti oleh jin atau setan walaupun dalam tidur sekalipun, karena tidurnya orang beriman adalah ibadah, sedangkan tidurnya orang yang tidak beriman dan bodoh tidak akan ditakuti walaupun orang tersebut dalam keadaan menjalankan ibadah.
Orang beriman itu tentu saja akan menjalankan syariat islam sepenuhnya. Dia tidak mungkin keluar dari syariat karena syariat adalah pagar yang akan melindungi dia dari terkaman nafsu setan yang banyak bekeliaran diluar pagar syariat dan akan membawa kepada jalan dosa yang tentu saja dibenci oleh Allah.
Semoga bermanfaat .
(Sumber : Sun go kong, diposting oleh Rishang Mukhti, Sbm)

KHODAM, WHAT IS IT ?




Oleh  :  pak Agus Balung

Khodam,  secara definitive  adalah merupakan manifestasi energi pintar yang terlahir dari sebuah doa, mantra dan tatalaku ritual spiritual tertentu yang mengandung tingkatan konsentrasi yang tinggi kepada sang pencipta alam dibarengi doa doa atau cita – cita agar terkabulnya suatu maksud dan tujuan.
Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh orang yang melakukan olah batin seperti puasa, bertapa, semedi, membaca mantra atau wirid amalan tertentu sebetulnya adalah dari Khodam. Disadari ataupun tidak, setiap olah batin yang dilakukan manusia selalu menimbulkan energi-energi yang memiliki kesadaran/kecerdasan sendiri. Inilah peran dari khodam.   Mereka diciptakan Tuhan sebagai perantara yang membawa kekuatan supranatural bagi orang-orang yang dikehendaki.Sebagian orang beranggapan bahwa memiliki khodam (atau ilmu spiritual yang ada khodamnya) adalah sebuah kesyirikan atau dosa besar. Bagi kami, pendapat ini adalah pendapat yang “membabi buta” karena pengertian khodam sangat luas. Sedangkan khodam sendiri terdiri dari berbagai jenis yang tidak mampu disamakan. Berikut ini pembahasan panjang mengenai khodam.
Istilah khodam  berasal dari bahasa arab yang berarti pembantu, penjaga atau pengawal yang selalu mengikuti. Dalam bahasa arab pembantu rumah tangga, sopir, tukang kebun dan satpam juga bisa  disebut sebagai khodam.    Namun dalam konteks ilmu spiritual, istilah khodam digunakan khusus untuk menyebut makhluk gaib yang mengikuti pemilik ilmu spiritual atau yang mendiami suatu benda pusaka. Dalam konsep spiritual jawa, khodam disebut sebagai  prewangan  yang artinya adalah orang yang membantu.
Khodam dalam konsep mistik islam dan jawa diyakini sebagai jiwa  suatu ilmu.   Khodam memberi energi pada pemilik ilmu sehingga mampu melakukan hal-hal diluar kewajaran. Tentu saja ada khodam yang minta imbalan ada pula yang “gratis” karena khodam ini datang karena kehendak Allah, bukan dipaksakan oleh manusia. Yang dimaksud dipaksakan  adalah khodam ini datang karena seseorang melakukan ritual pemanggilan yang ditujukan untuk meminta tolong kepada khodam dari golongan jin.
Mengenai siapakah sebernarnya khodam, para spiritualist berbeda pendapat.  Kelompok pertama mengatakan khodam adalah jenis makhluk tertentu yang khusus diciptakan Allah  sebagai pembawa kekuatan bagi para pemilik ilmu dan benda pusaka. Kelompok ini tidak punya dalil yang kuat untuk mendukung pendapatnya, jadi pendapat ini boleh kita abaikan.
Kelompok kedua berpendapat bahwa khodam hanyalah sebutan atau julukan bagi Jin, Qorin dan Malaikat yang membantu manusia.  Seperti istilah setan yang sebetulnya bukanlah jenis mahluk, melainkan hanya julukan bagi jin atau manusia yang suka berbuat kejahatan.   Dalam kitab Al-Quran pun diterangkan bahwa Tuhan hanya menciptakan hambanya yang berakal dalam tiga bentuk saja, yaitu: malaikat, manusia, dan jin

Mengapa khodam  mau  membantu manusia, karena khodam terdiri dari tiga jenis makhluk yaitu Jin, Qorin dan Malaikat, maka alasan mereka bersedia membantu manusia juga berbeda-beda. 
 Khodam Jin
Kita persempit saja pembicaraan kita pada khodam jin,  perlu  diketahui bahwa kehidupan sosial jin, itu persis sama seperti manusia.   Mereka terdiri dari bermacam-macam ras dan kelompok yang sangat kompleks. Setiap jin punya sifat dan kebutuhan yang berbeda-beda seperti pada manusia. Begitu pula dalam dalam membantu manusia, mereka punya alasan yang berbeda-beda. Namun secara garis besar, ada 5 alasan mengapa jin mau membantu manusia.
·         Ingin menyesatkan manusia. Kelompok jin ini adalah tentara ilbis yang ditugaskan untuk membantu para tukang sihir dan penganut ilmu hitam. Orang yang ingin memiliki khodam jenis ini harus melakukan perbuatan atau ritual yang melanggar aturan Tuhan. Misalnya untuk medapatkan ilmu sihir mereka harus menyediakan sesaji, makan darah, membunuh, melakukan dosa besar dan sebagainya. Jin jenis ini sangat senang jika manusia yang didampinginya jauh dari agama.
Bukan hanya penganut ilmu hitam saja yang dibantu oleh jin tentara iblis ini. Para penganut thariqoh (orang yang menapaki jalan spiritual menuju Tuhan) dan orang soleh yang kurang waspada pun disesatkan oleh jin golongan ini. Awalnya jin mengaku sebagai guru spiritual yang sudah meninggal atau malaikat yang akan membimbingnya dan membantu segala usahanya. Seketika seorang ahli thariqoh pun memiliki banyak “kesaktian”. Namun perlahan-lahan jin cerdas ini memperdaya ahli thariqoh hingga dia melanggar aturan agama.
·         ..Ingin mendapat keuntungan dari manusia. Khodam Jin jenis ini selalu meminta imbalan dalam bentuk sesaji, persembahan, korban, bahkan ada yang mengadakan perjanjian, jika sudah sampai waktu yang ditentukan pemilik ilmu bersedia menjadi budak/pengikut di alam jin. Orang yang menjadi budak jin, meniggalkan jasadnya, kemudian jiwanya dibawa ke alam jin. Sehingga dia tampak mati bagi orang awam, padahal dia sebetulnya belum mati. Nanti ketika sudah sampai batas usianya, malaikat maut baru menjemputnya untuk dihadapkan kepada Tuhan. Oleh karena itu jangan pernah berniat untuk mendapatkan pesugihan atau “harta gaib” yang datang tiba-tiba dengan bantuan jin.
Keadaan ini sesuai dengan Al-Quran surah Al-Jin ayat 6, yang terjemahnya: Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
·         .Karena mencintai manusia. Kadang kami menemui ada jin yang mengikuti manusia dengan alasan cinta. Cinta yang kami maksud adalah seperti cinta pria kepada wanita. Umumnya jin yang seperti ini selalu berusaha membantu manusia yang dicintainya, sekaligus mengganggu. Bentuk bantuannya mampu berupa kemampuan mengobati, perlindungan dari kejahatan, kemampuan mengetahui rahasia orang dan sebagainya. Sedangkan gangguannya biasanya berupa: merasa diikuti seseorang, sulit mencintai, hubungan cinta selalu gagal, kesurupan/kerasukan dan sering mimpi bersetubuh. Bahkan kadang ada jin yang datang dalam wujud manusia untuk menyetubuhi manusia dalam keadaan sadar.

·         .Persahabatan. Bagi sebagian orang yang memiliki ilmu spiritual tertentu, bersahabat dengan jin bukanlah hal mustahil. Idealnya hubungan persahabatan adalah saling membantu dan berbagi. Namun kenyataannya hubungan persahabatan dengan jin mampu menguntungkan atau merugikan Anda, bahkan kadang juga menyesatkan Anda. hal ini sama jika kita bersahabat dengan sesama manusia. Jika sahabat kita adalah orang baik, maka kita pun terbawa menjadi baik. Tapi jika kita berteman dengan penjahat, maka kita pun mampu dirugikan atau malah bergabung menjadi penjahat. Semua itu tergantung sifat dan kepribadian Anda. Hubungan persahabatan inilah yang menjadi dasar.    Wallahu a’lam bisshowab
Nah, semoga  anda, saya,  kita semua  dapat mengambil hikmah  dari apa sudah disampaikan diatas. Amin.

Senin, 15 Oktober 2012

ENERGI AL QURAN BISA MENGHANCURKAN GUNUNG




Oleh : pak Agus Balung

Tentang  bagaimana hebat dan dahsyatnya  al Quran, Allah telah memberikan informasi kepada kita melalui firmanya  : “ Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya gunung itu akan tunduk hancur berantakan disebabkan ketakutannya kepada Allah.  Dan perumpamaan perumpamaan  itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir’’    [QS. Al Hasyr: 21]

Begitu  hebat dan dahsyatnya al Quran,  sebagaimana  informasi Allah tersbut,  namun ternyata banyak saudara saudara kita,  umat Islam yang memperlakukan  Al Quran dengan salah kaprah, sehingga kitab suci  yang amat hebat ini tidak ditempatkan atau tidak  difungsikan sebagaimana mestinya.
Para  ustadz  sering menyebutnya dengan istilah ‘umat Islam jauh dari Al Qur’an’.  Meskipun,  kenyataannya  secara fisik kitab suci itu dibawa kemana-mana.  Seorang kawan protes dengan istilah ‘jauh dari Al Qur’an’ itu.   ‘’Saya ini dekat mas dengan Al Qur’an.   Setiap saat kitab suci ini tak pernah jauh dari saya.  Selalu saya bawa kemana pun saya pergi.’’

Ia memang mempunyai Al Qur’an saku yang dibawa kemana pun ia pergi. Ia juga punya Al Qur’an digital yang kini semakin ngetren, diinstal di HP dan laptopnya. Bahkan, di perpustakaan pribadinya ia memiliki sejumlah Al Qur’an terjemahan berbagai bahasa. Ya, dia memang ‘dekat’ dengan fisik Al Qur’an, tetapi belum tentu dekat dengan isi Al Qur’an. Apalagi hikmah yang terkandung di dalamnya.
Kedekatan kita dengan Al Qur’an bukan diukur secara fisikal, melainkan pada tataran penerapan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.     Karena kesalah-kaprahan dalam memahami kedekatan inilah, umat Islam mengalami kemunduran dalam peradaban dunia.   

 Dulu, umat Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW yang diteruskan oleh para sahabat dan penerusnya, bisa menjadi pusat peradaban dunia.  Bahkan negara superpower seperti Romawi dan Persia pun akhirnya tenggelam digantikan zaman keemasan Islam, selama ratusan tahun.

Sayangnya sejak abad ke 14 umat Islam mengalami kemunduran luar biasa, sekitar 700 tahun, sampai kini.   Salah satu penyebabnya adalah SDM Islam tidak dibangun berdasarkan petunjuk-petunjuk Al Qur’an.    Kitab ini hanya dijadikan pajangan-pajangan di rak-rak perpustakaan, diinstal di HP dan laptop, dilombakan bacaan indahnya dan dibaca khatam ‘cepet-cepetan’, bahkan tidak sedikit yang cuma menjadikannya sebagai mantera azimat alias pusaka penyelamat.

Allah sudah sangat jelas mengajarkan di dalam firman-Nya, bahwa Bacaan Mulia yang diturunkan di bulan suci Ramadan ini penuh dengan hikmah. Dan berisi petunjuk-petunjuk untuk menjadi solusi atas segala macam masalah manusia. Di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan atas petunjuk tersebut. ‘‘... bulan Ramadan, adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai PETUNJUK bagi manusia dan berisi PENJELASAN-PENJELASAN mengenai petunjuk itu...’’ [QS. Al Baqarah: 185].
Sayangnya, yang terjadi bukan menggali petunjuk-petunjuk itu dalam berbagai seminar atau kajian-kajian intensif, melainkan lebih kepada membaca indah, khatam bolak-balik tanpa memahami maksudnya, atau sekedar menjadi mantera-mantera tersebut. Apalagi di bulan Ramadan. Cobalah bandingkan seberapa banyakkah orang-orang yang mengkaji Al Qur’an terkait dengan isi dan hikmah yang terkandung di dalamnya?   Bandingkan dengan orang-orang yang membacanya sekedar untuk mengejar target khatam berkali-kali. Sedikit sekali.

Lebih jauh, sebagian kita malah menjadikan Al Qur’an itu sebagai ‘sumber kesaktian’ tanpa memahami makna yang seharusnya.   Misalnya, seorang kawan  demikian kuatnya berpegang pada ayat Al Qur’an yang mengatakan bahwa energi Qur’an ini sangat besar, sehingga jika diturunkan ke gunung, gunung itu bisa hancur berantakan.  
'’ Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk hancur berantakan disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN itu Kami buat untuk manusia supaya mereka BERPIKIR.’’ [QS. Al Hasyr: 21]
Ada kesalahan mendasar yang dilakukannya dalam memahami ayat ini. Yakni, ia mengabaikan informasi Allah, bahwa cerita di atas adalah sebuah perumpamaan.   Dia menanggapinya secara harfiah. Karena itu, ketika ada seorang kawannya yang membawa mushaf Al Qur’an ditaruh di atas sebuah gunung, gunung itupun tidak hancur.   Karena, ayat di atas memang sudah menjelaskan bahwa itu adalah sebuah perumpamaan, dan kita disuruh berpikir untuk mengetahui maksudnya.

Bahwasanya  energi Al Qur’an memang sangat besar,  dan bisa mengubah dunia seperti yang telah terjadi ratusan tahun yang lalu. Tetapi, energi tersebut bukan terletak di tulisan atau lembaran-lembarannya secara harfiah seperti itu. Sehingga, lantas ada yang menggunting lembaran-lembaran kitab Al Qur’an untuk dijadikan jimat. Atau, malah ada yang membakarnya, dan abunya diminum segala. Dan dia sudah merasa memperoleh energi dari dalam Al Qur’an. Bukan begitu.   Energi yang besar di dalam kitab suci ini bukan terdapat di tulisannya itu, melainkan di dalam maknanya.

Barangsiapa memahami maknanya, dan kemudian menjalankannya dalam kehidupan nyata, maka sungguh dia telah memperoleh energi ilahiah yang luar biasa besarnya.  Dia akan memiliki kemampuan hebat untuk mengubah peradaban. Baik secara fisikal maupun secara moral.  Dialah pemimpin yang telah memperoleh petunjuk Sang Maha Berilmu dan Maha Berkuasa dalam segala tataran wilayah perbuatannya.
’Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal kebajikan. Bagi mereka ada pahala yang besar.’’ [QS. Al Israa’: 9]         Wallahu a'lam bishshawab.
(disarikan dari  : Tafakur di bulan Ramadhan)