Senin, 04 Februari 2013

DIALOG DENGAN JIN......MUNGKINKAH ?





Oleh  :  pak Agus Balung


Seorang shahabat yang bernama Ibnu Mas’ud berkata: “Pada suatu malam, kami bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba kami kehilangan beliau, kami berusaha mencarinya di lembah-lembah dan lorong-lorong. Kami sempat beranggapan bahwa beliau telah diculik atau disembunyikan. Dan malam itu kami lalui dengan kegelisahan. Tapi ketika pagi tiba, Rasulullah SAW datang dari arah Gua Hira’. Kami pun bertanya: ‘Kami semalam kehilangan engkau dan kami mencari-cari, tapi tidak menemukanmu sehingga kami melalui malam dengan kegelisahan’. Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepadaku juru da’wah jin, maka aku pergi bersamanya lalu aku bacakan al-Qur’an kepada mereka’. Ibnu Mas'ud berkata: ‘Kami bersama Rasulullah SAW pun pergi menelusuri jejak, beliau menunjukkan kepada kami jejak mereka dan juga puing-puing api obor mereka ...’.” (HR. Muslim). 
Dari hadits di atas kita bisa menyimpulkan bahwa telah terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan juru da’wah jin, lalu Rasulullah SAW diajak untuk mengajarkan al-Qur’an kepada kaumnya yang membutuhkan pengetahuan lslam.  Itulah keistimewaan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW dan apakah keistimewaan itu bisa juga dimiliki oleh orang lain selain Rasulullah?
Tidak ada dalil dari al-Qur’an maupun al hadist yang menjelaskan bahwa manusia bisa berdialog dengan jin dalam bentuk aslinya, apalagi kalau hal itu terjadi face to foce. Tapi kalau bisikan dan suara, hal itu bisa terjadi. Orang tersebut, tidak melihat sosok jin yang sebenarnya, tapi ia mendengar suaranya atau ucapannya. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia) ...”. (QS. Al-An’am: 112).
 Syetan manusia (para dukun, tukang sihiq tukang ramal) tidak melihat wujud syetan jin dalam bentuk yang sebenarnya, tapi dialog melalui bisikan atau suara.

DIALOG MANUSIA DENGAN JIN SECARA LANGSUNG
Tapi kalau dialog dengan jin yang menampakkan diri dengan menyerupai manusia atau lainnya, maka hal itu bisa saja terjadi.   Dan kebenaran dari keiadian itu tidak hanya disebutkan dalam al-Hadits tapi juga dicatat dalam lembaran al-Qur’an. Tidak hanya Rasulullah SAW. yang mampu berdialog dengan jin yang menampakkan diri, tapi shahabat atau semua orang mukmin juga bisa melakukannya.  Dan bahkan orang kafir dan orang musyrik pun bisa melaksanakannya.
Allah berfirman menceritakan dialog antara orang kafir Quraisy dengan raja syetan (lblis) yang menampakkan diri di Perang Badar sebagai tokoh mereka waktu itu, Suraqah bin Malik, “Dan ketika syetan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: ‘Tidak ada seorang pun manusia yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu’. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syetan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhn ya saya berlepas daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat (malaikat), sesungguhnya saya takut kepada Allah’. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal: 48).

Begitu juga Abu Hurairah, la pernah berdialog dengan jin yang menampakkan diri sebagai manusia. “Ketika dia  ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga hasil  zakat Ramadhan, datanglah seseorang lalu mengambil zakat itu.  Dia pun menangkapnya seraya mengancam: “Demi Allah, saya akan melaporkan hal ini ke Rasulullah. la membela diri dengan mengiba: ‘Saya dan keluargaku sangat membutuhkan makanan ini’. Maka dia pun melepaskannya, dan di pagi harinya Rasulullah SAW bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan tawananmu semalam?’ Dia pun menceritakan apa yang terjadi. Lalu Rasulullah bersabda, ‘la telah membohongimu, dan ia pasti akan kembali lagi’. Dan ternyata benar, ia kembali lagi. (kejadian itu berulang sampai tiga kali). Dan yang terakhir kalinya dia (Abu Hurairah) diajari jin tersebut agar selalu baca ayat kursi saat menjelang tidur, agar tidurnya terjaga dari gangguan syetan.  Ketika hal itu diceritakan ke Rasulullah SAW, beliau bersabda, ‘Adapun kali ini ia benar padahal ia adalah pembohong, tahukah kamu siapa yang kamu ajak dialog selama tiga kali itu? Ia adalah Syetan.” (HR. Bukhari).

DIALOG DENGAN JIN MELALUI MEDIATOR
Atau bisa iuga terjadi dialog antara manusia dengan jin melalui mediator. Seperti orang yang kesurupan. Terkadang mulut orang yang kesurupan dipinjam oleh jin yang merasukinya untuk berdialog dan berkomunikasi dengan manusia. Para ulama’ telah membuktikan kebenaran dari pern;rataan ini, bahkan mereka sendiri telah melakukannya.  Sebagaimana para ustadz/kyai  yang  sering memberikan layanan teraphy  juga sering melakukan dialog dengan jin melalui mulut orang yang sedang kerasukan yang mereka terapi. Walaupun pada kenyatannya tidak semua jin yang merasuk ke tubuh manusia mau diajak dialog.  Dan  ingat,  tidak semua yang dikatakan jin itu benar, kita harus selektif terhadap pernyataan-pernyataan mereka. Sebagai mana yang dilakukan Abu Hurairah saat diajari jin tentang faedah ayat kursi, saat itu  Rasulullah SAW menyatakan, “Shadoqaka wa huwa kadzub” (Kali ini dia benar, dan sebenarnya dia itu pembohong).
 Semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat bagi kita semua, bagi saya dan anda. Amin.

Sabtu, 02 Februari 2013

TAAT PADA ALLAH ADALAH HARGA MATI.....MENGAPA ?




Oleh : pak Agus Balung

 Karakter dasar orang beriman adalah senantiasa mendengar dan taat terhadap apa pun yang menjadi ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mendengar artinya mereka berusaha sungguh-sungguh memahami kehendak Allah dan Rasul-Nya. Sedang ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan dalam menjalankan syariat, baik berupa perintah maupun larangan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dalam al-Qu`ran dan As-Sunnah. Jadi, setelah memahami, tanpa banyak bertanya atau mempertanyakan segera mereka ikuti dengan ketundukan dan kepatuhan untuk menjalankannya.
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nuur: 51)
Kewajiban untuk taat kepada syariat ini dijelaskan oleh Allah dalam ayat yang lain,”“Kemudian Kami jadikan kamu (Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (Al-Jatsiyah : 18)

Mengapa Kita Harus Taat ?

Untuk menjawabnya mari kita renungi kembali kejadian kita di dunia ini. Allah berfirman dalam al-Qur`an. “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?    Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu, Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.” (Al-Insaan : 1-2)
Tidak ada satupun manusia yang sebelumnya punya keinginan untuk menjadi manusia. Bagaimana mungkin kita punya keinginan kalau pada waktu itu kita belum ada, belum menjadi sesuatu yang dapat disebut apa pun. Demikian juga Allah tidak pernah meminta pendapat atau persetujuan kita sebelum Dia menciptakan kita, sebab bagaimana mungkin bisa dimintai pendapat kalau kita sendiri belum ada. Kita hadir ke dunia mutlak karena kehendak Allah. Allah yang punya rencana untuk menghadirkan kita ke dunia. Bukan kita. Untuk apa kita diciptakan dan bagaimana seharusnya kita hidup hanya Allah yang mengetahuinya.
Agar bisa memahami kehendak Allah itu, maka dengan kasih sayang-Nya kita diberikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani supaya bisa memahami. Dan agar bisa menjalani hidup dengan baik, maka diturunkanlah al-Qur`an sebagai pedoman dan diutuslah nabi untuk menjelaskannya dan memberikan contoh pengamalannya. Manusia tidak mungkin bisa menjalani kehidupan ini dengan baik tanpa berpedoman kepada ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Seperti orang yang berjalan di kegelapan malam, walaupun matanya terbuka tetapi kalau dia tidak melihat cahaya maka dia akan terantuk-antuk dan tidak pernah sampai ke tujuan. Seperti rambu-rambu lalu lintas, ada jalan yang harus kita ikuti dan ada jalan yang tidak boleh kita lewati. Karena itu, perintah dan larangan Allah sesungguhnya adalah koridor jalan yang akan mengantarkan kita sampai kepada tujuan.
Allah Mahatahu segalanya. Tidak ada yang tersembunyi dari pengetahuan Allah, baik yang gaib maupun yang nyata. Dia yang menciptakan kita juga tahu persis segalanya tentang kita, lahir maupun batinnya. Jasmani maupun ruhaninya.
Di sisi lain, walaupun manusia adalah makhluk paling sempurna dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang lain, dia tetap terbatas pengetahuannya. Manusia hanya tahu sebatas yang diajarkan Allah kepadanya. Dia yang Mahatahu tentang makhluk ciptaan-Nya, juga tahu bagaimana seharusnya manusia menjalani hidup. Manusia senantiasa membutuhkan bimbingan Allah. Karena itu, sebagai makhluk yang terbatas kemampuannya, di hadapan Allah yang pengetahuan-Nya tak terbatas, tidak ada sikap yang lebih baik kecuali tunduk, patuh, dan taat sepenuhnya terhadap apa pun ketetapan-Nya.
Mari kita ambil perumpamaan. Seandainya kita sakit, kemudian kita konsultasi ke dokter. Dokter mengatakan bahwa kita menderita sakit maag yang akut. Dokter menyarankan agar kita meninggalkan makanan tertentu: yang pedas atau yang masam. Juga tidak boleh terlambat makan. Kalau kita ingin sembuh tentu kita akan menuruti perintah dokter itu. Mengapa demikian?   Sebab kita menganggap dokter lebih tahu tentang penyakit kita.
Perintah dan larangan Allah adalah wujud kasih sayang-Nya kepada kita. Allah memberi kita perintah karena Allah tahu betul bahwa apa yang diperintahkan-Nya itu bermanfaat bagi manusia. Allah memerintahkan kita shalat, puasa, menolong orang lain, berbuat jujur, menjaga kebersihan jasmani dan ruhani, dan perintah-perintah yang lain karena semua itu dibutuhkan manusia. Semua yang diperintahkan adalah membawa kebaikan, keselamatan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Demikian juga larangan-Nya, semata-mata untuk mencegah kita dari kehancuran. Allah melarang kita mendekati zina, berjudi, minum khamr, melakukan korupsi, dan larangan-larangan yang lain karena semua itu akan membawa kehancuran bagi kehidupan manusia.
Allah berfirman dalam al-Qur`an surat Al-A’raf : 33,”Katakanlah (Muhammad): ”Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa,  melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar,  (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan alasan untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
Oleh karena itu, adanya perintah dan larangan itu harus kita sambut dengan penuh kesyukuran karena dengan itu kita bisa mendapatkan apa yang bermanfaat dan terhindar dari apa yang membahayakan.
Syariat Allah Ta’ala juga merupakan wujud keadilan-Nya. Ketika Allah menurunkan perintah dan larangan, sesungguhnya Dia tidak punya kepentingan apa pun selain untuk mewujudkan kasih sayang dan keadilan bagi kehidupan manusia. Seandainya semua manusia taat, sesungguhnya ketaatan itu tidak ada manfaatnya sama sekali bagi Allah. Sebaliknya, jika semua manusia ingkar, sama sekali Allah tidak dirugikan. Teramat mudah bagi Allah untuk membinasakan semua manusia yang ingkar dan menggantikannya dengan makhluk baru yang semuanya tunduk kepada-Nya.
Hal itu berbeda dengan ketetapan yang dibuat oleh manusia. Manusia adalah makhluk yang memiliki syahwat dan keinginan, sehingga ketetapan manusia akan mudah dipengaruhi keinginan syahwatnya sendiri. Manusia senantiasa dipengaruhi oleh kepentingan dirinya, keluarganya, maupun golongannya. Hanya manusia-manusia yang taat kepada Allah sajalah yang bisa mewujudkan keadilan di muka bumi. Meninggalkan syariat Allah akan menyebabkan terjadinya kezaliman di muka bumi.
Wallahu a’lam bish shawab.

Jumat, 01 Februari 2013

ALL ABOUT ....PERDUKUNAN DAN BAHAYANYA





Oleh  :  pak Agus Balung


Pendahuluan

Allah berfirman, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang telah diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada Thoghut. Padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thoghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.“ (QS. An-Nisa‘: 60).
Ada beberapa pakar tafsir yang menafsirkan kata “Thoghut“ pada ayat di atas dengan “Dukun“. Di antara mereka adalah Ibnu Abbas, Said bin Jubeir, Ikrimah, Abul ‘Aliyah dan Imam Qotadah. (Lihat Tafsir al-Qurthubi: 5/ 248).


Definisi Dukun

Dukun adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna, dsb). (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 362).
Dukun adalah orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi di masa depan, ia mengaku mengetahui rahasia-rahasia atau hal-hal yang ghoib. (Kitab at-Ta‘rifat: 183).
Dukun adalah orang yang memberi kabar kepada kita tentang hal-hal di sekitar kita yang berkaitan dengan masa depan, ia mengaku bahwa dirinya mengetahui rahasia-rahasia ghoib. (Kamus Lisanul Arab: 309-310).


Sejarah Perdukunan

1. Dukun di Era Nabi Musa as.
Raja Fir‘aun telah menjadikan jasa dukun sebagai kekuatan untuk melindungi kekuasaan dari setiap gerakan yang mengancamnya. Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, untuk menghadapi kekuatan Nabi Musa, ia mengerahkan 80.000 dukun piaraannya. Meskipun begitu, ia tidak bisa menandingi mukjizat Nabi Musa ‘alaihis salam.

2. Dukun di Era Nabi Yusuf as.
Ketika Raja yang berkuasa di era Nabi Yusuf bermimpi tentang 7 ekor sapi gemuk dimakan 7 ekor sapi kurus. Pagi harinza para dukun dan peramal kerajaan dikumpulkan untuk ditanya tentang arti mimpi sang Raja. Tapi ternyata mereka tidak tahu tafsirnya. Yang tahu malah Nabi Yusuf. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 2/ 481).

3. Dukun di Era Nabi Muhammad saw.
Imam al-Khottobi berkata, “Praktik perdukunan merajalela dan menjamur di masa Jahiliyyah –khususnya bangsa Arab- karena terputusnya risalah kenabian di zaman mereka.“ (Kitab Fathul Bari: 10/ 217).

4. Dukun di Era Millenium
Di era Millenium ini, jumlah dukun masih banyak, bahkan makin canggih. Tampilan mereka lebih trendi. Tidak hanya menggunakan kemenyan dalam praktiknya, tekhnologi terkini juga mereka manfaatkan. Maraknya dukun di era ini bukan karena terputusnya wahyu, tapi karena jauhnya masyarakat dari ajaran wahyu (al-Qur‘an dan as-Sunnah).


Karakter Dukun

1. Dukun Hitam
Dukun yang menawarkan diri ke masyarakat jasa yang destruktif dan membahayakan. Menyakiti orang, menyerang lawan, bahkan membunuh. Seperti praktik santet (teluh), pelet (guna-guna), atau yang sering disebut dengan sihir.

2. Dukun Putih
Dukun ini menawarkan jasa yang ‘bermanfaat‘ bagi masyarakat. Meramal, mencari barang atau orang hilang, mengobati penyakit dan yang sejenisnya. Namun cara menolong yang mereka pakai tidak sesuai syari‘at, bahkan beretentangan.

3. Dukun Abu-Abu
Dukun yang menawarkan jasa apa saja. Baginya, yang penting order lancar, dapur ngebul, dikenal banyak orang dan didatangi banyak pasien. Terkadang destruktif, terkadang ‘konstruktif‘. Jasa yang dijual sesuai permintaan. Mereka tak segan-segan untuk mencelakakan pasien, bahkan membunuhnya.


Klasifikasi Dukun

1. Dukun yang ‘menguasai‘ Jin.
Dukun yang telah melakukan ritual dan olah spiritual tertentu untuk mengundang datangnya Jin, lalu datanglah jin kepadanya dan siap berkhidmah untuknya. Ia merasa telah menguasai jin tersebut. Sebenarnya tidak, karena jin tak akan bantu seseorang kecuali ada maunya. Jin mau menyetir dukun tersebut dengan berpura-pura tunduk kepadanya.

2. Dukun yang dikuasai Jin.
Dukun yang didatangi jin untuk menawarkan bantuan kepadanya, terkadang tidak ada ritual khusus yang ia lakukan. Jin datang melalui bisikan, kesurupan, atau lewat benda tertentu serta dengan menampakkan diri dalam wujud tertentu.

3. Dukun palsu.
Dukun yang mengandalkan intrik, tipudaya atau pengamatan dan pengalaman harian. Dikatakan palsu karena jauh dari nuansa klenik atau mistik, tak ada kekuatan ghoib yang terlibat, seperti kesan masyarakat pada umumnya. Dan tak jarang mereka menggunakan trik-trik khusus yang dipadu dengan peralatan tekhnologi atau memanfaatkan cairan kimia tertentu dalam aksinya guna meyakinkan pasien.


Bahaya Praktik Perdukunan

1“Dukun adalah utusan syetan sebagaimana rasul dan nabi sebagai utusan Allah“. (Dr. Sulaiman al-Asyqor).
2. Menyebabkan ummat berpaling dari sunnah Rasulullah, lalu mengikuti sunnah dukun.
3. Menjadikan pengguna jasanya bergantung (bertawakkal) kepadanya, dan berpaling dari tawakkal pada Allah.
4. Masyarakat lebih percaya pada kekuatan mantra dukun, daripada ayat-ayat suci al-Qur‘an (firman Allah).
5. Kekuatan syetan lebih dipercaya dan diagungkan daripada Kekuatan Tuhan.


Hukum Praktik Perdukunan

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang dia katakan, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad (al-Qur‘an dan al-Hadits).“ (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Mu‘awiyah bin al-Hakam berkata, “Wahai Rasulullah, ada beberapa hal yang biasa kami lakukan di masa Jahiliyyah; kami biasa mendatangi dukun-dukun.‘ Rasulullah menimpali, ‘Janganlah kalian datang ke dukun‘.“ (HR. Muslim; Bab diharamkannya praktik perdukunan dan mendatangi dukun).
Rasulullah bersabda, “Bukan golongan kami, orang yang berpraktik sebagai dukun atau minta bantuan dukun“. (HR. al-Bazzar).


Ciri-ciri Praktik Perdukunan

1. Bertanya nama pasien dan ibunya
2. Minta barang second hand (baju, kaos, celana dalam, sarung, sapu tangan dan sejenisnya)
3. Perlu bagian tertentu dari anggota tubuh (rambut atau kuku)
4. Minta hewan dengan jenis dan corak tertentu
5. Membaca mantra yang tak bisa dipahami, atau mencampurnya dengan ayat suci
6. Menulis rajah atau wifiq untuk pasiennya
7. Memberi Jimat, gembolan (pegangan) ke pasiennya
8. Menyuruh pasien mengisolir diri di tempat tertentu
9. Melarang pasiennya menyentuh air dalam kurun waktu tertentu
10. Memakai jimat atau menjadikannya sebagai media praktik
11. Menerawang kondisi masa lalu pasien (Nyongklok)
12. Melakukan proses pengobatan jarak-jauh
13. Berkholwat (berduaan) dengan pasiennya yang lain jenis



Bahaya Minta Bantuan Dukun
1.      Memalingkan kita dalam beribadah kepada Allah
2. Mengikis rasa tawakkal kita kepada Allah
3. Shalat lima waktu kita tidak akan diterima Allah selama 40 hari, 40 malam
4. Kita diajak menjadi budak syetan
5. Jika kita membenarkan ocehan dukun, berarti kita telah kufur pada ajaran al-Qur‘an dan al-Hadits


2.      Kiat Menghindari Dukun
1. Ketahuilah bahwa dosa minta bantuan dukun itu sangat besar, agar kita mengerti resiko yang akan kita tanggung jika kita ke dukun.
2. Yakinlah bahwa dukun itu bukanlah manusia sakti, mereka manusia biasa seperti kita. Hanya saja mereka sedang dalam kendali syetan.
3. Minta bantuan ke dukun sama dengan minta bantuan ke syetan.
4. Ketahuilah bahwa yang bisa menyembuhkan kita dan menolong kita dalam berbagai macam permasalahan hidup hanyalah Allah. Bukan dukun. Karena dukun sendiri hidupnya juga bermasalah.
5. Carilah pengganti dari praktik perdukunan.
6. Sambunglah tali Allah dengan banyak beribadah kepada-Nya, sehingga kita tidak segan untuk memohon kepada-Nya di saat kita memerlukannya atau butuh bantuan-Nya.


Penutup
Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian mendatangi dukun. Mereka itu tidak ada apa-apanya.“ (HR. Bukhari).
“Suatu saat, ada sekelompok orang datang ke Rasulullah. Di antara mereka ada yang menggenggam sesuatu di tangannya, dan di letakkan di balik punggung. Orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, tebaklah apa yang aku sembunyikan‘.
Rasulullah menjawab, “Aku bukanlah dukun. Karena para dukun dan praktik perdukunan yang mereka lakukan akan berada dalam neraka.“ (HR. Tirmidzi).

Allahu a’lam bis shawab