Minggu, 17 Maret 2013

AMALAN DOA PENDEK PENGUSIR JIN




Oleh  :  pak Agus Balung

Berdasarkan kisah di dalam Al-Quran, jin juga telah membuat Nabi Ayyub menjadi sangat menderita di masa lalu dan melalui pembacaaan doa-doa permohonan yang terus –menerus. Dan  nabi Ayyub berhasil menyelamatkan dirinya dari penindasan setan dari kalangan jin itu.
Ayat Kursi (Al-Baqarah:255) dan Qul A’udzu (Katakan: Aku berlindung, [dalam surat al-Falaq dan an-Nas]) telah menyediakan sarana bagi umat Islam untuk mengangkat ruh mereka ke tingkat-tingkat kesadaran yang lebih tinggi sehingga mereka dapat dengan mudah melindungi diri mereka dari gangguan Jin.

DOA MOHON PERLINDUNGAN

رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ  | رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِوَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ | وَحِفْظاً مِّن كُلِّ شَيْطَانٍ مَّارِدٍ
Rabbi Annii Massaniya as-SYaithoonu binusybin Wa Adaba, Rabbi A’udzu bika min Hamazaati-s-Syayaathiini, Wa A’udzu bika Rabbi an Yakhdurun. Wa khifzhon min kulli Syaithoonin Maarid.   (Q.S. Shaad:41; al-Mu’minuun:97-98; Shaffaat:7)
Artinya :
“Sesungguhnya, aku diganggu setan dengan penuh ketidaknyamanan dan penderitaan!(41). Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan-setan(97). Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku(98)…dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap setan yang paling durhaka.

Efek jika doa ini diarahkan pada orang-orang yang berada dalam pengaruh kuat jin

Jika Anda membaca doa permohonan ini pada orang-orang yang berada di bawah pengaruh setan , maka akan Anda lihat kemudian jin-jin yang mengontrol mereka tidak punya pilihan lain selain menghindar dan menjauh .
Jika tidak, orang yang terlibat (dikuasai jin) itu akan menjadi basah kuyup oleh derasnya keringat yang bercucuran, merasa tidak nyaman dan sangat menderita dan dia akan kehilangan kekuatan artikulasi (pengucapan). Pada saat dia hendak berbicara, dia malah akan berkomat-kamit menggumamkan kata-kata yang tidak jelas atau tidak ada maknanya sama sekali.


Efek pembacaan doa ini jika diarahkan terhadap diri sendiri

Jika seseorang membaca doa ini untuk kepentingan melindungi diri sendiri, maka setelah mendzikirkannya/membacanya sebanyak puluhan kali bahkan lebih (sebanyak dan semampunya), dia kemudian akan menjadi sangat tegang dan merasakan suhu tubuhnya naik. Selanjutnya, dia merasa sangat mengantuk, dan sebagai akibatnya, dia menghentikan dzikirnya jika tidak kuat menahan godaan.
Atau ada kemungkinan lain, seperti dia akan menampilkan tindakan-tindakan liar dan kasar. Ini karena dia berada dalam pengaruh jin yang mengirim impuls-impuls (rangsangan untuk bertindak) ke otaknya dan menghendaki dia agar berhenti membaca doa sehingga dia akan menghentikan tindakan ini sepenuhnya.
Namun, jika orang ini tetap terus bisa menyadarkan dirinya dan meneruskan doanya, semua pengaruh (jin) ini akan berkurang dan orang itu akan merasa rileks, jadikan amalan rutin hingga gangguan jin itu hilang sama sekali.

Nah, selamat mencoba.

Sabtu, 16 Maret 2013

BELAJAR DARI BURUNG





Oleh  :  pak Agus Balung


Al-Qur`an merupakan kitab suci yang di dalamnya banyak mengandung kisah dan pelajaran (ibrah) yang sangat berharga. Kisah atau kejadian itu merupakan salah satu uslub (cara) dalam mendidik umat manusia.


Di antara pelajaran yang bisa diambil dari al-Qur`an yaitu berhubungan dengan burung. Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) beberapa kali menyebut dan menceritakan hewan ini dalam berbagai peristiwa. Dan dari peristiwa atau apa yang dilakukan oleh hewan ini telah menginspirasi manusia untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Di bawah ini terdapat beberapa kisah atau pelajaran dari burung:

1. Berkaitan dengan seekor burung gagak yang menggali tanah untuk memperlihatkan kepada Qabil bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Setelah membunuh saudaranya, Qabil membawa mayatnya kemana-mana karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sampai kemudian Allah SWT mengirimkan dua ekor burung gagak yang berkelahi. Salah satunya mati, dan yang hidup menggali tanah dengan cakarnya untuk menguburkan bangkai burung yang dibunuhnya. Ini dijelaskan dalam Surat Al-Ma’idah [5] ayat 31.
Setelah Qabil melihat burung gagak menguburkan kawannya, ia pun menggali kubur bagi saudaranya dan menutupinya dengan tanah.

2. Berkaitan dengan penemuan pesawat terbang yang terinspirasi oleh burung sebagaimana fiman Allah SWT dalam Surat An-Nahl [16] ayat 79.
Penelitian terhadap burung mengungkapkan bahwa ia dirancang khusus untuk terbang. Tubuhnya diciptakan dengan kantung udara dan tulang berongga untuk mengurangi massa tubuh dan berat keseluruhan. Sifat cairan kotorannya memastikan agar kelebihan air dalam tubuhnya dibuang. Bulu-bulunya berbobot sangat ringan bila dibandingkan dengan volumenya. Bulu-bulu dengan atribut-atributnya itu menahan mereka di udara. Sedang sayap aerodinamis dan metabolisme merespon kebutuhan energinya. Sifat-sifat ini adalah beberapa bukti bahwa burung adalah desain produk yang bisa dicontoh.
Kemudian instrumen tersebut dipakai para ilmuwan untuk membuat pesawat. Mereka meniru kesimbangan bobot dan tenaga pendorong yang digunakan burung dan memperhatikan sistem aerodinamisnya. Sehingga dengan percobaan bertahun-tahun, akhirnya ditemukan kendaraan yang mirip burung.


3. Di antara kisah dan kejadian unik tentang burung yang ditayangkan al-Qur`an adalah kisah burung hud-hud dengan Nabi Sulaiman ‘Alaihi sallam. Burung ini telah melakukan kerja pengintaian terhadap aktivitas suatu kaum yang kemudian diitiru dalam aktivitas spionase dewasa ini. Kerja burung ini dijelaskan dalam surat An-Naml [27] ayat 22 dan 23.

Deretan ayat di atas menjelaskan kekuasaan Allah SWT melalui burung. Peristiwa tersebut memberikan kesadaran dan dorongan bagi manusia untuk mendapatkan pelajaran yang berharga. Terbukti, rahasia keajaiban burung itu kemudian dikuak oleh berbagai penelitian modern dengan akurasi yang benar. Lalu, hasil penelitian itu disebut ilmu pengetahuan. Ini membuktikan bahwa apa yang diungkap oleh al-Qur`an dipastikan ada rahasia di balik pengungkapan itu.

Subhanallah…….

Rabu, 13 Maret 2013

THE MAGIC OF....."AIR MANI"




Oleh   :  pak  Agus Balung




Cairan yang disebut “air mani”, ternyata tidak semata mengandung “sperma” saja.  Cairan ini tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan, dengan fungsinya masing-masing.

Salah satu zat yang bercampur di dalam air mani itu adalah zat gula. Zat ini diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma. Dan energi ini amat penting, agar sperma mampu melakukan perjalanan panjang menuju sel telur. Bila diukur, perjalanan itu mencapai 12 kilometer. Subhanallah.
Zat gula itu juga diperlukan untuk menetralkan asam di pintu masuk rahim. Diketahui, betapa terdapat penghalang yang tidak sedikit ketika air mani masuk ke rahim, saluran telur dan hingga ke telur. Nah, zat gula itulah yang bertugas menghadang para penghalang itu

Masih ada manfaat lain dari kandungan gula itu. Yakni, melicinkan jalan agar memudahkan pergerakan sperma. Dengan demikian, perjalanan sperma itu bisa sukses menuju sel telur. Inilah perjalanan sunnatullah yang dahsyat.
Maha benar firman Allah:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (Al-Insan : 2).
Di ayat lain:
“Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (As-Sajadah : 7-8).

Kata dalam bahasa Arab “sulala”, yang diterjemahkan sebagai “sari”, berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti “bagian dari suatu kesatuan”. Ini menunjukkan bahwa al-Qur’an merupakan firman dari Yang Berkehendak, yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.
Subhanallah,maha suci Allah
(Sumber : Harun Yahya)

Jumat, 08 Maret 2013

AL HIKMAH.......What is it ....???




Oleh  :  pak  Agus  Balung


Banyak orang yang memberikan penafsiran tentang  “ilmu Hikmah”, sehingga terdapat banyak versi penafsiran tentang ilmu hikmah itu sendiri. Berikut ini saya sampaikan berbagai hal tentang ilmu hikmah ditinjau dari beberapa definisi.
  
Definisi ilmu hikmah menurut beberapa tokoh seperti yang termuat dalam majalah Al Kisah dalam salah satu edisinya, antara lain sebagai berikut :
“ Ilmu hikmah, menurut Ustadz Wijayanto, MA., narasumber acara Sentuhan Qolbu di Trans TV, menurut bahasa berarti kearifan, atau mengetahui rahasia dibalik sesuatu sesuai dengan kaifiyatnya , tata caranya. Artinya, seseorang harus tahu rahasia prosesnya secara menyeluruh. Ketika orang mengambil madu, misalnya sesuai dengan ilmu hikmah, harus tahu ilmu lebah. Jika tidak mengerti ilmu lebah, ia bias celaka, disengat atau jatuh dari pohon.
Menurut Dr. Said Agil Siradj, salah satu ketua PBNU, ilmu hikmah bukan bagian dari tasawuf, juga bukan karamah. Sebab, jika diamalkan sesuai kaifiyatnya, biasanya berhasil- tak peduli apakah yang mengamalkannya orang baik, setengah baik, atau jahat sekalipun. Berbeda dengan karamah, yang merupakan anugerah dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang terpilih, yaitu orang-orang shaleh.
Karena itu, seorang tokoh ilmu hikmah seperti Imam Ali Al-Buni, penyusun kitab legendaries Syamsul Ma’arif dan Manba’u Usul al-Hikmah, tidak mesti identik sebagai sufi. Meskipun, ada juga beberapa ulama sufi yang menguasai ilmu hikmah. Ibnu Sina dikenal sebagai ulama sufi pecinta wafaq, atau rajah, yaitu rangkaian beberapa huruf Arab yang diyakini dapat mendatangkan kekuatan dengan izin Allah SWT. Demikian pula dengan Imam Ghazali, yang juga menguasai ilmu hikmah dan menciptakan rajah-rajah kecil.
Menurut Syekh Abdullah Sahat At-Tasturi, ilmu hikmah ialah ilmu awa-il, ilmu kuno yang diturunkan oleh Allah SWT khusus kepada Hurmus, tokoh yang konon pertama kali menterjemahkan nilai-nilai gaib menjadi kenyataan.“

Lalu Definisi “Ilmu Hikmah” menurut para ulama dan berdasarkan syar’i,  adalah sebagai berikut ini   :

Dari definisi ilmu hikmah dari Ustadz Wijayanto, M.A, Dr. Said Agi Siradj, Syekh Abdullah Sahat At-Tasturi tersebut, Mari kita bandingkan dengan definisi ilmu hikmah dari Al-Qur’an dan Sunnah disertai dengan penjelasan para ulama yang telah diakui keradibilitas ilmunya.
Dalam kosa kata bahasa Indonesia, kata Hikmah mempunyai beberapa arti. Pertama, kebijaksanaan dari Allah. Kedua, sakti atau kesaktian (kekuatan ghaib). Ketiga, arti atau makna yang dalam. Keempat, manfaat.

Sekarang marilah kita simak definisi ilmu al­-Hikmah secara lengkap. Yang meliputi definisi secara bahasa, istilah syari’at dan pendapat para ulama tafsir dalam masalah ini.

 Menurut kamus bahasa Arab,  al-Hikmah mempunyai banyak arti. Di antaranya, kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-­Qur’anul karim.
 Sedangkan Imam al-Jurjani rahimahullah dalam kitabnya memberikan makna al-Hikmah secara bahasa artinya ilmu yang disertai amal (perbuatan).  Atau perkataan yang logis dan bersih dari kesia-siaan. Orang yang ahli ilmu Hikmah disebut al-Hakim, bentuk jamaknya (plural) adalah al-Hukama. Yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya sesuai dengan sunnah Rasulullah.”
Al-Hikmah juga bermakna kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional). Al-Hikmah juga merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.
Para ulama tafsir rahimahumullah juga mempunyai definisi masing-­masing tentang ilmu al­Hikmah. Yang mana antar pendapat tersebut saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain.
Imam Mujahid mengartikan al-Hikmah, “Benar dalam perkataan dan perbuatan”.
 Ibnu Zaid memaknai, “Cendekia dalam memahami agama.”
 Malik bin Anas mengartikan, “Pengetahuan dan pemahaman yang dalam terhadap agama Allah, lalu mengikuti ajarannya.”  
Ibnul Qasim mengatakan, “Memahami ajaran agama Allah lalu mengikutinya dan mengamalkannya.”  
Imam Ibrahim an-Nakho’i mengartikan, “Memahami apa yang dikandung al-Qur’an.”
Imam as-Suddiy mengartikan al-Hikmah dengan an-Nubuwwah (kenabian).
Ar-rabi’ bin Anas berkata, “Rasa takut kepada Allah.”
Hasan al-Bashri memaknai, “Sifat wara’ (hati­-hati dalam masalah halal dan haram).”
Imam al-Qurthubi berkata, “Semua makna di atas saling berkaitan satu sama lain, kecuali pendapat as-­Suddi, ar-Rabi’ dan al-Hasan. Ketiga pendapat mereka saling berdekatan satu sama lain. Karena al-Hikmah sumbernya dari al-Ahkam. Yang artinya mumpuni dalam perkataan dan perbuatan. Dan semua makna yang disebutkan di atas adalah bagian dari al-Hikmah. Al-Qur’an itu hikmah, sunnah Rasulullah juga hikmah.”
Imam at-Thabari rahimahullah menambahkan, “Menurut kami, makna hikmah yang tepat adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah yang tidak bisa dipahaminya kecuali melalui penjelasan Rasulullah.
Jadi kesimpulannya adalah  :  Dengan demikian  al-Hikmah disini berasal dari kata al­-Hukmu yang bermakna penjelasan antara yang haq dan yang bathil. Seperti kalimat al-Jilsah berasal dari kata al-Julus. Kalau dikatakan bahwa si Fulan itu orang yang Hakiim, berarti dia itu orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan.”

Jika kita memperhatikan makna al-Hikmah dalam ayat-ayat al-Qur’an, maka akan kita jumpai mayoritas makna al­-Hikmah adalah al-Hadits atau as-Sunnah. Mayoritas kata al­-Hikmah dalam ayat al-Qur’an disandingkan dengan kata al­Kitab yang maksudnya adalah al-Qur’an.

Definisi  “al Hikmah” menurut al Quran dan al Hadist :
Perhatikanlah ayat-­ayat berikut, misalnya:
 “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni’mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-­Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS. al-Baqarah: 151).

 “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Ahzab: 34).
Di surat lain, Allah juga berfirman :
 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (QS. at. Jumu’ah: 2).

Dari ragam definisi ilmu al-­Hikmah tersebut, kita bisa memahami bahwa yang dimaksud dengan ilmu al-­Hikmah adalah ilmu yang mempelajari al-Qur’an dan al-­Hadits, yang mencakup cara bacanya dengan benar, pemahaman maksud dan apa yang dikandungnya, lalu mempraktikkannya dalam perkataan dan perbuatan. Apabila perkataan dan perbuatan kita berlandaskan pada dua kitab tersebut, maka kita tidak akan salah atau tersesat dari jalan yang benar.
Rasulullah bersabda, “Telah aku tinggalkan pada kalian dua hal. Kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah (al-Qur’an) dan sunnah nabi-Nya (al-Hadits).” (HR. Malik, no. 1395).

Dan ternyata tidak ada satupun ayat atau hadits shahih yang menjelaskan bahwa maksud dari ilmu al-Hikmah adalah ilmu kesaktian atau kadigdayaan, yang menjadikan pemiliknya kebal senjata tajam, tidak terbakar oleh api, bisa menghilang, mampu menerawang atau meramal, bisa melihat jin dan syetan, serta tujuan kesaktian lainnya.
 Apalagi kalau dalam proses mendapatkan ilmu seperti itu dengan puasa atau shalat serta wirid bacaan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah.

Jadi  bisa disimpulkan bahwa :
Ilmu hikmah bukanlah ilmu sihir yang melibatkan bantuan jin atau syetan. Sehingga bisa di transfer dari satu orang ke orang lain, dipamerkan di tempat-tempat keramaian, dijadikan sebagai bahan pertunjukan, dipelajari dalam waktu sekejap, dimiliki dengan ritual-ritual khusus, dikuasai dengan media jimat, wifik, rajah atau benda pusaka, atau diperjual belikan dengan mahar-mahar tertentu.

Ilmu Hikmah adalah ilmu panduan, yang membimbing kita kita mengenal ajaran-­ajaran Allah dan sunnah­-sunnah Rasul-Nya, sehingga kita bisa mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperintahkan dan mana yang dilarang. Dengan ilmu hikmah seperti itulah, kita akan menjadi orang yang benar dalam perkataan dan perbuatan. Itulah sejatinya ilmu Hikmah.  

Jadi akan salah sekali dan fatal akibatnya jika  penjelasan dalam majalah Al Kisah dalam salah satu edisi khususnya, tentang ilmu hikmah,  yang mengemukakan bahwa.   ” Dulu, orang Hindu banyak yang sakti. Mereka mampu membangun Candi Pram­banan, misalnya, dengan peralatan dan tek­nologi yang belum secanggih seperti se­karang. Mereka menggunakan ilmu apa kalau bukan ilmu kesaktian? Itu semua tentu berupa tenaga dalam.     Misalnya, membenamkan batu dalam waktu yang tepat dan cepat.   Ingat, ilmu hikmah tidak ada kaitannya dengan akidah. Jadi, kalau orang Hindu bisa sakti, orang Buddha dan Konghucu pun tentu bisa sakti.”
Penjelasan dalam majalah Al Kisah tersebut diatas sesungguhnya masih terjebak dalam pemikiran dan keyakinan yang keliru bahwa ilmu hikmah adalah semacam ilmu kesaktian yang bisa didapat oleh orang baik dan orang jahat.

Juga akan sangat keliru jika Syekh Abdullah Sahat At-Tasturi, mengatakan “ilmu hikmah ialah ilmu awa-il, ilmu kuno yang diturunkan oleh Allah SWT khusus kepada Hurmus, tokoh yang konon pertama kali menterjemahkan nilai-nilai gaib menjadi kenyataan.” Na’udzubillah !!
Syekh Abdullah Sahat At-Tasturi sangat fatal mengatakan bahwa ilmu hikmah  itu semacam ilmu ghaib yang khusus diturunkan pada Hurmus.
 Siapa sebenarnya Hurmus ?

 Tokoh Hurmus Ini sama sekali tidak ada diceritakan dalam Al-Qur’an, Jika Tokoh Hurmus ini adalah orang Khusus yang pertama kali menterjemahkan nilai-nilai ghaib yang diberikan Allah maka tokoh Hurmus akan menjadi sangat-sangat penting untuk diketahui manusia dan sudah pasti akan diceritakan dalam Al-Qur’an dan juga pasti akan dikhabarkan oleh rasulullah dalam hadits-haditsnya. Kenyataannya Tokoh Hurmus ini sama sekali tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah. Kita khawatir tokoh Hurmus ini dimunculkan oleh Iblis untuk menyesatkan manusia dengan menganggungkan ilmu kesaktian ghoib yang dibisikkannya pada para wali-wali setan yang mengaku punya segudang ilmu kesaktian.

Ketahuilah : Ilmu Hikmah bukanlah Ilmu Ghaib melainkan ilmu syari’at yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Seperti yang telah dijelaskan oleh para ulama (yang telah kita  rangkum) bahwa ilmu hikmah itu adalah pintar dalam memahami agama Allah dengan pengetahuan dan pemahaman yang dalam lalu mengikuti ajarannya dan mengamalkannya. Memahami apa yang dikandung al-Qur’an dan sunnah dengan rasa takut kepada Allah dan bersifat wara’ (hati­-hati dalam masalah halal dan haram)”

Wallahu a’lam bis shawab