Sabtu, 12 Desember 2015

MALAIKAT RAQIB & ATID PENCATAT AMAL PERBUATAN MANUSIA DIDUNIA



 MALAIKAT RAQIB & ATID PENCATAT AMAL PERBUATAN MANUSIA DIDUNIA

Oleh : Pak Agus Balung


Saat kita kecil dulu,  guru ngaji kita suka menceritakan bagaimana caranya malaikat Raqib dan Atid mencatat perbuatan manusia. Kedua malaikat itu, konon duduk di pundak kanan dan pundak kiri. Raqib mencatat segala amal kebajikan kita, sedangkan Atid mencatat perbuatan buruk.  Dan kelak kedua buku  catatan itu akan diserahkan kepada Allah saat hari pengadilan di yaumul akhir.

Maka, tak terhindarkan, sejak itu bisa dipastikan kita selalu membayangkan ada makhluk seperti manusia yang sedang duduk dikedua belah pundak kita sambil membawa buku catatan dan pensil.  Setiap orang punya dua malaikat, sehingga jumlah malaikat Raqib dan Atid itu sedemikian banyaknya. Kalau seandainya penduduk dunia sekarang ini berjumlah 5 milyar orang, maka jumlah malaikat Raqib dan Atid berjumlah 10 milyar., bahkan mungkin jauh lebih banyak dari itu.  Tergantung berapa banyak manusia yang pernah hidup di Bumi.

Ketika sudah aqil baligh, kita  mulai mengkritisi cerita-cerita semacam ini. Dan mencoba menelusuri dasar informasinya. Di dalam Al Qur’an dapat ditemukan ayat ayat  yang mungkin menjadi sumber cerita tersebut, tetapi dipahami dengan sudut pandang khas abad pertengahan yang konvensional seperti d iatas. Kita mencoba  menyimpulkan, sebenarnya ayat tersebut kalau ditafsiri dengan sains modern akan memberikan hasil yang sangat jauh berbeda, dan mencerahkan.
‘’Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (Yakni) ketika sepasang malaikat mencatat amal perbuatannya. Yang satu berada di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada satu perkataan pun yang diucapkan melainkan ada pengawas yang selalu hadir’’. [QS. Qaaf: 16-18]

Malaikat adalah makhluk berbadan cahaya, yang bisa bergerak dengan kecepatan 300.000 km/ detik.  Dengan kecepatan setinggi itu, malaikat bisa menempuh jarak berkeliling bumi dengan sangat singkat, yakni 0,13333 detik saja. Atau dalam satu detik bisa mengelilingi bumi sebanyak 7,5 kali. Karena itu, dari sisi kecepatan ini saja, sebenarnya kita tidak perlu membayangkan malaikat Raqib dan Atid terus menerus duduk di pundak manusia untuk mengawasinya. Hanya dalam masa sepersekian detik saja mereka bisa meng-cover semua penduduk Bumi.

Apalagi, jika kita mengkaitkan dengan relativitas waktu,   Bahwa karena laju geraknya mendekati kecepatan cahaya, maka waktu malaikat itu menjadi mulur, seharinya setara dengan lima puluh ribu tahun. Artinya, jika sang malaikat itu mengawasi kita dalam satu hari ‘versi malaikat’, sebenarnya peradaban manusia sudah bergerak selama lima puluh ribu tahun. Jadi, ngapain kita membayangkan malaikat secara tradisional selalu nempel  dipundak kanan-kiri kita.

Dari sisi saintifik, kita juga bisa menjelaskan adanya rekaman perbuatan oleh alam semesta. Bahwa alam ini sebenarnya merekam seluruh aktifitas penghuninya. Ada tiga macam lokasi rekaman itu.

Yang pertama ada di otak kita, sebagai memori alias ingatan. Karena rekaman itulah, Anda bisa mengingat berbagai peristiwa yang  Anda alami. Dan bukan hanya Anda yang mengingat peristiwa itu, melainkan juga orang-orang dekat Anda yang hadir dalam peristiwa tersebut.

Yang kedua, adalah genetika kita. Sistem informasi genetika yang berada di dalam inti sel tersebut selalu merekam segala informasi yang melibatkannya. Perbuatan yang terjadi berulang-ulang akan terekam di dalam genetika, sebagai kecerdasan genetik. Sehingga tubuh kita menjadi memiliki kebiasaan merespon kejadian secara khas. Mulai dari tingkat molekuler, seluler, sampai pada tataran organik secara utuh. Karakter dan bahasa  tubuh yang khas pada setiap orang adalah perwujudan dari rekaman genetik itu.  Dan, kelak rekaman genetik ini bisa menurun kepada anak-anaknya sebagai kecenderungan khas terhadap sesuatu. Termasuk diwariskannya penyakit tertentu, diabetes mellitus misalnya.

Yang ketiga, adalah rekaman alam semesta. Dalam sudut pandang fisika gelombang, tubuh maupun alam sekitar kita ini tak lebih hanyalah lautan energi alias samudera frekuensi. Tubuh kita, mulai dari pikiran, perasaan, denyut jantung, dan triliunan sel tubuh semuanya bekerja secara kelistrikan yang menghasilkan frekuensi elektromagnetik. Sehingga tubuh kita selalu memancarkan medan elektromagnetik itu kemana-mana. Setiap berbuat apa pun, pada dasarnya kita melakukan perubahan medan elektromagnetik yang menyelimuti tubuh kita.

Nah, perubahan medan itulah yang direkam oleh alam sekitar. Sebagai ilustrasi, dimana pun kita berada, disitu sebenarnya terdapat gelombang radio atau televisi dari berbagai belahan dunia. Ada CNN, Al Jazirah, ABC, BBC, TVRI, Metro TV, TV One,  Trans TV,  dan lain sebagainya. Gelombang itu telah menempuh jarak ribuan kilometer, dan tidak pernah lenyap. Mereka tetap ‘mengambang’ di alam semesta, dan bisa ditangkap dimana pun kita berada, dengan menggunakan peralatan yang sesuai.
Kalau seseorang tidak bisa menangkap atau melihat gelombang itu, masalahnya bukan karena gelombang itu tidak ada. Melainkan, karena ia tidak menggunakan alat yang tepat. Misalnya menggunakan antena biasa. Cobalah menggunakan antena parabola dengan kualitas terbaik, maka berbagai macam gelombang yang berseliweran di sekitar kita pun akan bisa dideteksi semua.

Suatu saat nanti, sangat boleh jadi, bakal diketemukan teknologi yang bisa menangkap gelombang dari berbagai kejadian yang sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Itu bukanlah angan-angan yang tidak mungkin terjadi. Persoalannya, hanyalah seberapa bagus kualitas peralatan yang kita gunakan untuk memutar kembali rekaman alam semesta itu. 
Nah….maka, betapa mudahnya bagi Allah kelak mengadili manusia, karena segala perbuatannya yang memang sudah terekam oleh lingkungan sekitar dimana pun ia berada..

Wallahu a’lam bisshawab

(disarikan dari  : Tafakur Ramadhan)

 (Tulisan ini adalah sebuah revisi dari artikel yang saya posting pada blog saya As Syifa Nur Alif tanggal 7 Oktober 2012 dengan judul  :  : ALLAH PERLU BERAPA BANYAK MALAIKAT RAQIB & ATID UNTUK MENCATAT PERBUATAN MANUSIA DIDUNIA.)

Sabtu, 31 Januari 2015

SEPUTAR SYARAF KEJEPIT - 3



APA ITU SYARAF KEJEPIT (HNP) ……REVISI

Oleh  :  Pak Agus Balung

Syaraf kejepit, yang dalam bahasa medisnya adalah HNP  (Hernia Nucleus Pulposus), adalah seuatu jenis penyakit yang sangat akrab dengan siapapun.  Artinya, siapapun orangnya berpotensi terkena Syaraf Kejepit, baik itu yang tua, muda, gagah, sehat, tidak pandang bulu. Siapapun bisa saja berkemungkinan terkena syaraf kejepit.


Mereka yang sangat berkemungkinan terkena syaraf kejepit, adalah mereka yang pernah mengalami kecelakaan, terjatuh ataupun sekedar terpeleset, dan mereka yang sering melakukan over gerak, seperti atlet misalnya, ataupun para serdadu, bahkan ibu rumah tangga yang banyak melakukan pekerjaan rumah tangga bisa saja terkena syaraf kejepit.  Akan tetapi potensi tertinggi didominasi oleh factor kecelakaan. Orang yang mengalami kecelakaan, kalau itu tidak berdarah, tidak bocor, tidak patah tulang, biasanya dianggap remeh oleh orang. Justeru dengan kondisi yang demikian ini, si korban kecelakaan sekian tahun kedepan akan bermasalah dengan kesehatannya sehubungan dengan syaraf kejepit akibat kecelakaan sekian tahun yang lalu.
 
Gejala yang dirasakan oleh mereka yang terkena syaraf kejepit adalah, tidak tahan bediri lama, serasa ada urat yang tertarik pada bagian tubuh tertentu,  lalu kesemutan, panas seperti terkena cabe, baal, mati rasa, nyeri yang sangat menyiksa, sehingga bergerak sedikit saja sangat sulit dikarenakan rasa nyeri yang amat sangat. Bahkan ada beberapa penderita syaraf kejepit begitu terjaga dari tidur, memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk penyesuaian agar bisa turun dari pembaringan.  Bahkan dalam kasus tertentu ada beberapa penderita yang menyatakan sudah keluar masuk tempat praktek dokter, dan dokterpun bingung dia sakit apa, seperti pasien saya yang di Jambi, seorang lelaki berusia 35 tahun, berputra 1, secara fisik gagah, hampir setiap minggu pergi kedokter berobat dengan keluhan salah satu seperti tersebut diatas, dokter dan keluarganya heran, fisik gagah begitu, sakit apaan sih. Dan obat yang diberikan oleh dokter paling paling cuma pereda nyeri dan vitamin, habis obatnya sakit datang lagi, begitu seterusnya, penderitaan berkepanjangan.
 
Finalnya, kondisi yang demikian itu berlangsung secara terus menerus tanpa ada penanganan yang tepat, maka bagian tubuh tertentu tadi akan  merasa mati rasa, kemudian akan menjadi semakin kecil.  Bahkan tidak jarang berakibat pada kelumpuhan. Mengapa, karena dengan kondisi syaraf yang terjepit, maka suplai dan sirkulasi darah kebagian tubuh tertentu menjadi terhambat, tidak lancar.

 Penanganan medis biasanya awal kali dilakukan MRI (Magnetic Resonance Image) untuk memastikan normal tidaknya struktur tulang, dan ada tidaknya HNP,  kalau ternyata hasil MRI menyatakan positif HNP, biasanya dokter menyarankan untuk operasi, dan biasanya dokterpun  akan bilang bahwa hasilnya fifty-fifty, bisa oke, tapi bisa juga tidak. Artinya kalau operasinya gagal, maka resikonya adalah kelumpuhan, dan faktanya memang begitu.

Lalu bagaimana dengan teraphynya ?  Teraphynya adalah dengan cara mereposisi syaraf yang kejepit pada lokasi atau titik dimana syaraf itu kejepit. Biasanya titik titik syaraf yang kejepit itu didaerah Lumbar, kalau dimedis disebut dengan “L”,  bisa di L-1 sampai L-7, atau bisa juga didaerah cervical, tulang leher. Yang jelas, kepastian  tentang ini bisa didapat dari rekam medis, MRI.  Lumbar, yaitu tulang diantara tulang belakang dibagian bawah tulang punggung dan diatas tulang ekor.

 Untuk melengkapi dan membantu teraphy reposisi syaraf tersebut diatas, bisa digunakan energy kita. Energy kita transfer fokuskan pada titik syaraf yang kejepit, atau kebagian tubuh yang sakit. Insya Allah, energy ini sangat efektif untuk mengurangi rasa sakit dan membantu proses reposisi syaraf.  Teraphy  reposisi syaraf yang kejepit secara manual ini sangat efektif untuk mereposisi syaraf, yaitu dengan cara mengangkat syaraf yang kejepit dititik lokasi, tentunya dengan metode tertentu.  Namun apabila anda berkeinginan untuk teraphy medis,  silahkan saja, biasanya teraphy medis selain yang sebut diatas, yaitu operasi, adalah fisio terahpy, metode ini paling tidak sangat membantu untuk mengurangi rasa nyeri, namun tidak menyembuhkan, karena cuma syarafnya dipanasi saja.
 
Demikianlah semoga yang sedikit dan sederhana ini bermanfaat bagi anda. Amin.




Rabu, 19 November 2014

SEPUTAR SYARAF KEJEPIT - 2



TERSIKSA  PADA SAAT BATUK

Oleh  :  pak  Agus Balung

Keluhan yang disampaikan oleh tamu dari Cengkareng, Jakarta Barat,  ini  adalah sakit pada pinggang merambat pada  kedua kaki, dan yang paling menyiksa selain yang telah disampaikan tersebut diatas,  adalah sakit  yang amat sangat  dan merasa tersiksa pada saat batuk.

Yang menjadi masalah bukan sakit pada batuknya, namun pada saat pak Marsiman (begitu beliau memperkenalkan diri)  ini batuk,   maka pada saat yang bersamaan timbul rasa sakit yang amat sangat pada paha sebelah kiri bagian dalam, seperti merasa ketarik  dari bagian atas lutut  mengarah kebagian bawah perut sebelah kiri. Saking sakitnya, sampai sampai beliau takut untuk batuk.

Menurut penuturan putranya,  pasien saya , yang kebetulan tetangga satu komplek,  dua minggu yang lalu belaiu jatuh dari plafon bangunan setinggi empat meter.  Walaupun demikian, Alhamdulillah, menurut medis tidak ada luka yang serius, terutama pada tulang.

Selain keluhan keluhan  pokok tersebut diatas, pak Marsiman juga menuturkan, saat beliau melek mata, bangun dari tidur,  membutuhkan waktu empat menit untuk dapat turun dari pembaringan,  hal mana dipergunakan untuk mengatur posisi tubuh yang serba sakit.
Keluhan beliau ini mengingatkan saya pada pasien saya beberapa tahun yang lalu, pasien dari Kutai, Kalimantan Timur, Bu Ardi, istri dari pejabat Disnaker setempat. Bu Ardi ini begitu bangun dari tidur, membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk dapat turun dari tempat tidur. Lebih parah dari kondisi pak Marsiman.

Apa yang disampaikan oleh pak Marsiman ini memepertegas  suatu kesimpulan, bahwa trauma  karena jatuh, atau kecelakaan, walaupun tidak bocor, walaupun darah tidak berceceran, walaupun tulang tidak patah,  pasti akan ada efek pada sisten syaraf.  Efek ini pasti, soal lama tidaknya efek tersebut bisa dirasakan, tergantung dari parah tidaknya trauma tersebut.
  
 

Jumat, 14 November 2014

SEPUTAR SYARAF KEJEPIT - 1





SELURUH BADAN SAKIT SEMUA

Oleh  :  pak Agus Balung


Pagi itu datang seorang tamu  lelaki hampir paruh baya  dari Purwakarta,  datang kerumah dengan diantar oleh ibundanya.   Ibunya bilang putranya minta dibekam. Katanya  dada kadang sakit, napas pendek.  Setelah melalui serangkaian  bincang bincang santai namun serius, terungkaplah bahwa  keluhan  intinya  adalah hampir seluruh badan pak Beto, demikian nama beliau,  merasa gak enak, sakit semua.

Dengan kondisi  tubuh yang sedemikian itu beliau merasakan efek negative secara psikis, dan yang pasti berdampak pula pada etos kerja beliau yang ternyata seorang perancang proyek,  walau tidak sebesar proyek Hambalang,  beliau tidak sekedar perancang, namun juga sekaligus pelaksana  proyek dengan dibantu beberapa pekerja anak buahnya.
Setelah melalui proses teraphy, ternyata memang terbukti,  dimulai dari ujung kaki sampai ke leher sakit semua.  Walau hanya Cuma sekedar disentuh jari dengan sedikit tekanan saja, dibagian tubuh manapun, beliau merasa kesakitan.  Saya ulangi,  Cuma saya sentuh dengan sedikit tekanan saja. Masya Allah.
Hal ini bisa dimungkinkan karena syaraf yang ‘agak’ kusut, sehingga sirkulasi darah dalam tubuh tidak lancer. Dengan tidak lancarnya sirkulasi darah dalam tubuh, maka berakibat  bagian badan  tertentu merasa pegal pegal, kadang timbul nyeri,  dan finally……badan merasa gak enak secara keseluruhan.  
Dan dititik titik  tertentu saja yang tingkat sakitnya tergolong “amat sangat” saat dilakukan teraphy,  yaitu  dibagian paha, pinggul, pinggang, belikat, bahu dan leher. Dan itu mengindikasikan dititik titik tersebut syaraf itu bermasalah.
Dari pengakuan beliau terungkap bahwa beliau saat belia hobby main bola. Nah, terjawab sudah salah satu penyebab keluhan beliau.  Dan yang pasti solusinya bukan bekam, sebagaimana yang beliau minta pada saya saat datang kerumah, dan memang tidak saya lakukan.





Rabu, 12 November 2014

PAHALA ORANG YANG TERANIAYA



Pahala Orang Teraniaya


Oleh  :  pak Agus Balung

Dalam kitab Ushfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri, dikisahkan, Ibrahim bin Azham, sebelum masuk Islam, memiliki 72 orang budak (hamba sahaya). Namun setelah masuk Islam, ia memerdekakan seluruh budaknya, kecuali satu orang.

Hal itu disebabkan si hamba sahaya ini suka minum minuman keras dan mabuk-mabukan. Pada suatu hari, sang budak kembali mabuk-mabukan. Tanpa disadarinya, ia bertemu dengan tuannya, yakni Ibrahim bin Azham. Si budak pun meminta diantarkan pulang.

"Wahai fulan, tolong antarkan aku ke rumahku," ujarnya. Ibrahim pun mengantarkannya. Namun bukan diantar ke rumah, melainkan ke kuburan. Mengetahui tempat yang dituju adalah kuburan, marahlah si budak tersebut.

Ia pun memukul Ibrahim dengan keras hingga jatuh tersungkur. "Bukankah aku minta diantar ke rumah. Kenapa kau antar aku ke kuburan?" kata dia. Ibrahim pun lantas segera bangkit dan berkata kepada si budak.

"Wahai orang yang pecah kepalanya, wahai orang yang sedikit otaknya, ini (kuburan) adalah rumah yang sebenarnya. Yang lain hanyalah majazi," ujar Ibrahim. Mendengar jawaban itu, bukannya tambah sadar, si budak malah makin marah. Ia pun kembali memukuli Ibrahim.

Ibrahim pun berkata: "Semoga Allah mengampunimu dan aku membebaskanmu." Tapi, lagi-lagi si budak justru memukulinya berkali-kali dengan penuh amarah. Ibrahim terus mendoakan si budak agar perbuatannya diampuni Allah SWT dan diberi petunjuk ke jalan Islam.

Akhirnya datanglah seseorang menghentikan perbuatan buruk si budak itu. "Wahai fulan, apa yang kamu lakukan? Mengapa engkau memukuli tuanmu?" kata laki-laki yang menghentikan perbuatan buruknya tadi. Kesadaran mulai menghinggapi pikirannya. "Siapa ini?" kata dia.

Laki-laki itu pun menceritakan, orang yang dipukulinya itu adalah tuannya, Ibrahim bin Azham. Si budak yang sudah dimerdekakan ini pun kemudian meminta maaf atas perbuatannya tadi. Ia lalu berkata: "Wahai tuan, maafkan kesalahanku." Ibrahim pun memaafkannya.

Si budak yang telah dimerdekakan ini berkata: "Wahai tuan, aku telah memukuli dan menyakitimu. Namun, engkau selalu saja berdoa yang terbaik untukku dan berkata semoga Allah mengampuniku."

Ibrahim berkata, "Bagaimana aku tak mendoakanmu, sebab karena perbuatanmu itu yang bisa mengantarkanku ke surga. Maka sudah selayaknya aku memohon doa kepada Allah agar Ia mengampunimu," ujarnya.

Dari kisah di atas dapat diambil kesimpulan, seburuk apapun perbuatan orang kepada kita, selayaknya kita tak membalasnya dengan keburukan pula. Sebaliknya kita dianjurkan mendoakannya dan berharap yang bersangkutan mendapat petunjuk  Allah SWT.

Sebab, jika kita membalas perbuatannya dengan keburukan pula, kita ikut berbuat zalim. Agama mengajarkan, bila melihat kemungkaran, kita harus mengubahnya (menghentikannya) dengan kekuasaan yang dimiliki.

Jika kita tak mampu, hentikan dengan lisan, dan bila tak mampu juga, cukuplah dengan hati untuk membenci perbuatan buruk itu. Kisah di atas juga mengajarkan agar kita tak semena-mena menganiaya (menzalimi) orang lain.

Misalnya mencuri, membunuh, membohongi, atau mengambil hak orang lain. Sebab, doa orang teraniaya itu sangat mustajab dan dikabulkan Allah.
Dan bagi mereka yang bersabar atas perbuatan zalim akan mendapatkan pahala dan surga dari Allah.
Wallahu a'lam.
(Sumber  :  Republika.com)