Kamis, 04 April 2013

ILMU BELA DIRI INSTAN



BELA DIRI INSTAN
Oleh  :  pak Agus Balung

Bela Diri Instan, dikenal juga dengan Bela Diri Isi atau Bela Diri Reflek, atau ada juga yang menyebut dengan Bela Diri Pesanan. Bela diri ini berbeda dengan bela diri pada umumnya, kalau Bela Diri pada umumnya kita harus belajar dan berlatih tahap demi tahap, jurus demi jurus.  Barang siapa yang tekun berlatih, maka dia akan mencapai tingkat keilmuan yang tinggi, dan siapa yang malas berlatih maka dia akan tertinggal jauh.  Nah, berikut ini akan saya angkat suatu testimony seseorang yang pernah belajar “Bela Diri Instan”.   Berikut ini kisahnya.

Ini sebuah kisah nyata. Pelakunya adalah saya sendiri, sebut saja Anto,  Anggap saja ini adalah testimony negatif dari produk yang dijual oleh kelompok Jin (makhluk ghaib) dengan merek label Beladiri Isi. Ya, beladiri yang menjajikan pada yang berlatih memiliki kekuatan ekstra seperti bisa melihat sesuatu di balik tembok, bisa berjurus diluar yang dipelajarinya, kebal senjata, mementalkan orang yang menyerang, menarik orang yang sudah lari dan lain-lain.
Belajar ilmu itu merupakan sarana berteman dengan jin. Saya sudah merasakannya selama 5 tahun. Pertemanan saya dengan Jin tak harmonis dan akhirnya saya “remove” dia dari list pertemanan dalam hidup saya, selama-lamanya.

Anggap saja tulisan ini adalah bentuk pertobatan saya pada Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun. Semoga ada manfaatnya bagi yang belum pernah tersentuh atau add friend dengan Jin. Kalau sudah confirm pertemanan dengan Jin, segera remove sebelum privacy Anda diusik dan ditelanjangi olehnya.

Saya yang ‘Keras’
Saya lahir dan tumbuh di lingkungan yang keras di sebuah daerah Tapal Kuda di Jawa Timur. Bukan keluarga saya yang mebuat saya keras, tapi dari lingkungan pergaulan. Hidup di lingkungan dengan budaya Madura yang dikelililingi oleh orang Arab membuat saya ikut berkarakter sama dengan dua etnik tersebut. Meski tidak semua orang Arab dan Madura keras, secara umum mereka dipersepsikan seperti itu.
Jadilah masa kecil saya penuh dengan pertarungan, dalam arti sesungguhnya alias perkelahian. Hal kecil seperti mengolok-olok bisa berujung pada perkelahain. Itu wajar terjadi karena semasa kecil perawakan saya ceking, namun keberanian saya di tempa di lingkungan yang keras itu.
Dulu saya sering nekad menantang berkelahi teman yang berat badannya 5 kali lipat dari saya. Benar-benar Bonek, yaitu  Bondo Nekad (Bekal nekad).

Awal Berhubungan dengan Jin.
Perkelahian yang kerap terjadi membuat hidup saya terasa terancam. Ancaman itu saya respon dengan mencari bekal untuk membela diri. Beberapa kali saya berusaha belajar beladiri namun tidak pernah disiplin. Akhirnya saya terdampar mempelajari beladiri ‘praktis’. Praktis artinya tidak perlu cape-cape berlatih, ilmu beladiri akan “menyusup” dan dalam sekejap kita sudah menguasainya.
Saya tahu, beladiri yang saya kuasai ini tidaklah normal. Meski sedikit diajari teknis dasar beladiri seperti kuncian dan patahan, namun aspek mistislah yang sangat dominan disini. Kesadaran tentang adanya ilmu ‘hitam’ yang sudah merasuk ke dalam diri saya hilang oleh kebanggaan bahwa saya sudah meiliki bekal cukup menghadapi ancaman.

Mulai “Diisi” Jin
Ayam Cemmani (ayam berdarah hitam) dengan harga Rp. 25.000 (harga tahun 1993-an) berhasil saya beli dari tabungan saya. Ini adalah salah satu syarat saya bisa berguru pada “Guru Beladiri Isi”(saya sebut saja begitu, karena tubuh saya diisi oleh kekuatan Jin).
Ritual pengisian berlangsung cepat. Saya diminta memakan hati Ayam Cemmani yang sudah digoreng. Setelah itu Sang “Guru” menghampiri saya dan menusukkan keris ke perut saya. Betapa kagetnya, saya ketika keris iu tertusuk ke perut, namun tidak menimbulkan sakit. Ya, tidak sakit karena keris itu ujungnya tumpul. Seiring keris ditusukkan, kekuatan luar dari jin itu telah resmi menyusup ke dalam tubuh saya. Sejak saat itu saya sudah “resmi” bermitra dengan Jin.

Memakai Jimat Sabuk dan Cincin
Sang “Guru” rupanya tak henti memberi “saran” agar kekuatan saya berlipat ganda. Saya disuruh oleh “Guru” memakai cincin batu kecubung dan sabuk yang katanya terbuat dari kulit rusa. Istilah kerennya Jimat. Tentu saja tidak gratis, saya harus membelinya dengan merengek-rengek pada orang tua terlebih dulu.
Dengan jimat dan cincin itu kepercayaan diri saya melejit naik. Saya tak pernah merasa takut dengan siapapun. Preman di terminal Semarang, Medan dan Surabaya bahkan pernah saya bentak-bentak dan dan saya tantang. Mungkin saat itu premannya masih kelas teri, jadi takut oleh bentakan, hehe.
Di kemudian hari, saya baru tahu bahwa saya dibohongi total oleh orang yang saya anggap “Guru” itu. Menurut pengakuan banyak orang yang tertipu,” guru” tersebut menawar-nawarkan jimat yang tak ada gunanya sama sekali. Dia hanya menipu agar memperoleh uang dari kebodohan saya dan orang lain.

Puasa Mutih
Tak puas menguras uang saya yang saaat itu saya masih baru lulus SMA, “Guru” itu menyuruh saya mengamalkan dzikir dan puasa mutih. Dzikir harus ditujukan ke salah satu “Guru Besar atau “Syekh” sebelum dilantunkan. “Guru Besar atau “Syekh” itu tak lain adalah Jin yang menemani saya (Berdasarkan konsultasi dengan ulama dan Ustadz). Dzikir berupa kalimat bahasa Arab dari asmaul’ husna yang dilafalkan 10,.000 kali setiap hari. Banyak banget, ya.
Ritual yang lumayan berat adalah puasa mutih. Saya harus berpuasa tiga hari berturut-turut dan tidak
boleh buka pada hari terakhir. Berbuka pun tidak boleh makan lauk pauk dari hewan. Pada Malamnya, di hari terakhir puasa, saya harus melafalkan dzikir atau mantra dengan hitungan sepuluh ribu dalam kondisi tidak boleh tidur sampai matahari terbit. Saya sempat beberapa kali mengalami halusisnasi saat berdzikir. Dulu saya anggap saya sudah bertemu “Syekh” yang akan memberi kekuatan pada saya. Hmmm dasar obsesif banget saya saat itu.

Praktek Memanggil Jin dan Berjurus Beladiri
Usaha saya memang tidak sia-sia. Apa yang saya obsesikan bisa saya dapat. Kekuatan jin untuk menyatu dengan badan dan menyuruhnya menggerakkan jurus apa pun dari ilmu beladiri bisa dengan mudah saya lakukan. Dengan mantra tertentu, dalam hitungan detik, bulu kuduk saya merinding dan masuklah jin ke tubuh saya. Lalu saya tinggal “memesan” jurus apa saja.
Saya pernah menyuruh jin untuk menggerakkan saya menirukan gerakan Kungfu Jet Li, Samo Hung, Jacky
Che dan Jurus Pedang Ninja. Saya pun semakin yakin karena kawan-kawan “seperguruan” juga melakukan hal yang sama. Jurus yang “dipesan” itu benar-benar mirip dengan apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang ada dalam film. Meski tubuh kita kaku, gerakan “pesanan” itu bisa lentur. Bahkan gerakan Split (merentangkan kakli sampai kepala menyentuh tanah) bisa saya lakukan dalam kondisi “ditunggagi” jin. Semua ini berlangsung dalam kondisi tidak sadar.
Apa yang terjadi setelah sadar? Pastinya tubuh kita terasa nyeri, pegal dan kadang darah yang keluar mulai terasa sakit. Ya, pasti akan pegal dan nyeri karena jin itu sesudah keluar dan kita seperti diri sendiri lagi yang sebenarnya tak wajar melakukan geakan tanpa latihan. Untung saja tidak ada bagian tubuh saya yang rusak sampai saat ini.

Mulai Resah
Kekuatan yang saya miliki dan interaksi saya dengan Jin mulai meresahkan. Saya sering melakukan gerakan tanpa bisa saya control. Bahkan bisikan Jin itu menggiring saya melakukan hal-hal yang syirik, ingin menandangi kekuatan Tuhan. Astaghfirullah.
Saya mulai resah. Saya ingin hidup normal dan tidak bayang-banyangi oleh bisikan syetan. Saya bertekad menghilangkan ini.

Meminta Dihilangkan
Keresahan itu membuat saya datang lagi ke “guru”. Saya meminta doa-doa untuk bisa lepas dari kendali jin. Saya diberi doa singkat untuk lepas dari kendali jin oleh “Guru”
Entah karena ketepatan doa atau karena kesibukan saya yang sudah memasuki perkuliahan, pengaruh itu hilang. Saya juga sudah tidak lagi peduli dengandzikir dan mantra yang harus dibaca ribuan kali itu. Saya lebih peduli dengan kuliah, praktikum dan ujian di Kampus. Ilmu dan jin itu menghilang dengan sendirinya. Mungkin Jin nya gak tahan dengan jadwal kuliah yang padat dan materinya sulit. Tuhan selalu sayang dengan saya.

Belajar Beladiri
Obsesi menguasi beladiri akhirnya kesampaian juga. Saya bergabung di kelompok beladiri yang berlatar belakang agama. Gerakan Tai Chi yang lembut disertai pernafasan membuat saya tertarik. Sayang sekali, obsesi ini kandas. Setelah setahun belajar beladiri mirip Tai Chi ini, saya kecewa setelah melewati prosesi mirip ritual saat saya dulu disusupi jin. Batal Maning, Batal Maning…
Saya tidak putus asa. Meski usia saat itu memasuki limit 30 tahun, saya tetap mencari tempat beladiri. Akhirnya saya mendapatkan tempat yang tepat. Jauh dari ilmu jin dan membuat saya konsisten berlatih hingga saat ini. Saya pun dipercaya oleh Guru Beladiri saya sekarang untuk melatih orang lain beladiri Thifan Po Khan Tsufuk, rumpun ilmu beladriri Kungfu dari Cina.

Menyembuhkan Kesurupan
Alhamdulillah, apa yang saya alami dengan pertemanan (kaya’ FB dan Kompasiana) dengan Jin tetap membawa hikmah. Ini terjadi saat saya diminta untuk menangani kesurupan mahasiswa. Saya sungguh merasa kasihan melihat orang kesurupan. Mukanya pucat, pikirannya tidak sadar dan badannya kaku. Orang yang kesurupan sudah tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Dia sudah menjelma Jin meski badannya manusia.
Saya awalnya gugup menangani ini. Namun berbekal pengalaman dulu mempermainkan jin keluar masuk badan saya, saya percaya saya bisa. Tentu saja atas pertolongan dan kekuatan-Nya. Sampai saat ini sudah empat kali saya bisa membantu orang yang kesurupan bisa sadar kembali. Memang tidak bisa sembuh total, namun dalam kondisi darurat kesadaran dirinya bisa kembali.

Demikian pengalaman saya semoga dapat menjadkan pelajaran bagi  kita semua

HATI YANG BENING....DAN SELALU TERSENYUM




Oleh  :  pak Agus Balung

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok manusia yang sempurna. Di medan perang beliau adalah seorang jenderal profesional yang menguasai taktik dan strategi bertempur.  Di tengah masyarakat, beliau adalah teman, sahabat, guru, dan sosok pemimpin yang menyenangkan. Di rumah, beliau adalah seorang kepala rumah tangga yang bisa mendatangkan rasa aman, kasih sayang, sekaligus kebahagiaan.

Beliau adalah sosok yang romantis. Beliau biasa memanggil istrinya, ‘Aisyah, dengan panggilan yang indah: Ya Humaira (wahai si merah jambu). Wanita mana yang tidak tersanjung saat dipanggil suaminya dengan panggilan ini? Telinga siapa yang tidak ingin mendengar sapaan seperti ini?

Tapi keindahan itu tercipta bukan karena beliau ahli merayu, melainkan karena hati beliau memang bersih, bening, dan indah. Dari hati yang indah itulah keluar kata-kata, perilaku, dan sikap yang indah. Dari keindahan hati itulah terpancar segala keindahan dari setiap yang dipandang dan ditemuinya.
Memang, betapa indah hari-hari kehidupan di mata Rasulullah. Romantisme tidak hanya berlaku bagi istri-istrinya, juga anak-anak, bahkan nenek-nenek dan semua makhluk Allah Subhanahu wa Ta`ala lainnya pun merasakannya.

Begitu dekatnya Rasulullah dengan unsur-unsur di alam sekitar. Setiap berhadapan dengannya beliau kerap menyapanya dengan ungkapan: Rabbiy wa Rabbukallaah (Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah).
Ketika melihat sekuntum bunga yang mulai terbuka kelopaknya, kalbunya bergetar, hatinya bersuka cita, dan segera beliau mendatanginya, mencium dengan bibirnya, dan mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Tak lupa beliau mengucapkan: ‘aamu khairin wa barakatin insya Allah (tahun baik dan penuh berkah, insya Allah).

Demikian pula ketika beliau mendapati bulan sabit di awal-awal malam kemunculannya, tak lupa menyambutnya dengan sukacita. Dengan penuh optimis beliau bercakap tentangnya: hilaalu khairin wa baarakatin insya Allah (awal bulan yang baik dan penuh berkah, insya Allah).
Setelah menyambut dengan tahniah (ungkapan kegembiraan), beliau juga tak lupa berdoa: Allahumma ahillahu ‘alaina bilyumni wal iimaani wassaalamati wal islaami (Ya Allah, jadikan permulaan bulan ini membawa keuntungan, iman, keselamatan, dan Islam).

Apa bedanya bulan yang ditatap Rasulullah empat belas abad yang lampau dengan bulan yang kita lihat setiap malam? Bukan bulannya yang beda, tapi cara pandangnya yang berbeda. Rasulullah memandangnya dengan cahaya iman, sedang kita mungkin memandangnya dengan hati yang masih ragu. Rasulullah melihat di balik bulan ada kebesaran Allah, sedang kita melihat bulan tidak lebih dari sekadar materi. Beliau melihat bulan dari perspektif waktu yang akan datang (dengan visi), sedang kita melihatnya sakadar dengan “menghitung hari”.

Mari kita tatap masa depan dengan penuh harapan. Tak usah berkecil hati, sekalipun tantangan sebesar dan sebahaya Gunung Merapi. Kita masih punya Tuhan, pemilik dan penguasa alam semesta. Di tangan-Nya tergenggam seluruh nyawa, sekaligus kehendak-Nya. Sekali diputar, semuanya akan berubah.

Tersenyumlah, sebagaimana Rasulullah tersenyum ketika menyapa matahari terbit setiap pagi, dan bulan yang mengorbit setiap malam.  Tersenyumlah dan sapalah istri atau suami dengan sukacita sebagaimana beliau selalu melahirkan kebahagiaan kepada keluarga dan sesama manusia.
Subhanallah…..

Senin, 01 April 2013

AMALAN (WIRID) MULTI FUNGSI.....YANG PALING AMPUH




Oleh  :  pak Agus Balung


Berikut ini saya angkat obrolan di pos ronda pojok perempatan jalan dikampung, antara saya dan teman saya, Ardi, tentang amalan (wirid) yang mana yang paling ampuh, amalan milik saya atau milik dia. Semoga ini menambah wawasan kita semua, wawasan saya dan anda, para pembaca semua. Insya Allah, amin.

Saya  : “Eh…..Ardi, aku dikasih wiridan bagus oleh habib Al Ihsan (bukan nama sebenarnya). Katanya, wiridan ini di dapat dari mimpi bertemu Nabi. Nabi yg ngasih langsung melalui mimpi. Kamu  mau gak wiridannya? Mumpung baru diupload, belum banyak yg tau!”
Ardi : “Nama wiridannya apa? Khasiatnya apa?”

Saya : “Namanya wiridan Mustajabah Gunung Salak (bukan nama sebenarnya). Khasiatnya, barangsiapa yg membaca 1000x bisa begini begitu, dan kalo membaca 5000x bisa begini begitu!”

Ardi  : “Cuma itu saja khasiatnya?”

Saya : “Iya. Kalo kamu mau, tapi ada syaratnya…”

Ardi  : “Apa syaratnya?”

Saya  : “Syaratnya harus begini, dan gak boleh begitu…”

Ardi  : “Sudah..?    itu saja…?

Saya  : “Sudah.”

Ardi  : “Wah, wah, wah….Wiridan yang kamu punya rupanya masih kalah sama wiridan punya aku!”

Saya  : “Nah lho…masak, sih…. Emang wirid kamu itu gimana?”

Ardi  : “Wiridan kamu  berasal dari habib yang dikasih sama Nabi ketika mimpi. Kalo wiridan aku  berasal dari orang yang jauh lebih mulia dari habib kamu, dapatnya gak dari mimpi, tapi dalam keadaan terjaga…!   Langsung diturunkan dari  langit…!
Wiridan kamu bacanya kebanyakan, 1000x s/d 5000x padahal khasiatnya cuman begitu. Kalo wiridan aku cukup dibaca 100x atau sesukanya berapa aja, dan khasiatnya jauh lebih besar dan beratnya lebih berat dari langit dan bumi….!!
Bacanya juga gak perlu pake syarat-syaratan,  yang penting dia muslim….udah!”

Saya  : “Wah…mantab amat wiridan kamu !   Kasih tau aku donk  !   Atau  kita tukeran sama wiridan aku, ya…”

Ardi  : “Wah, gimana ya…aku  gak butuh wiridan kamu sih, maaf, …itu sama aja Mobil Lamborghini dituker sama sepeda anak anak  roda tiga…!   Eh…omong2, Kalo kamu mau, aku kasih…gratisss!”

Saya : “Hehehe,  bener nih……apa tuh..?”

Ardi  : “Wiridannya yaitu membaca kalimat ‘Laa ilaha illallah’.”

Saya  : “Jiiaaahh……kalau itu juga aku tau!”

Ardi  : “Kalo kamu  tau koq masih nanya?   Terus koq masih mengambil wiridan yang lain yang dibuat-buat  dan gak berharga ?”

Saya  : “Tapi ini kan dari habib Al Ihsan?”

Ardi  : “Ok, sekarang aku tanya….Lebih utama mana habib Al Ihsan dibanding Rasulullah?”

Saya  : “Ya pasti….Rasulullah, semua orang pasti tau”

Ardi  : “Nah, berarti wiridan aku lebih utama dari wiridan amu, karena wiridan aku berasal dari orang yang lebih mulia dari habib kamu, Habib Al Ihsan ! Bahkan dapatnya langsung dari atas langit, yaitu dari wahyu Allah.”

Saya : “Glek….glek….glek, …(saya terapksa menelan ludah)….  iya…ya, bener juga ya”


Ardi  : “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Musa berkata: Ya Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk berdzikir dan berdo’a kepada-Mu. Allah berfirman: Katakanlah hai Musa: “Laa ilaha illa Allah”.   Musa berkata lagi: Ya Tuhanku, semua hamba-Mu mengucapkan ini. Allah pun berfirman: Hai Musa, andaikata ketujuh langit dan penghuninya, selain Aku, serta ketujuh bumi diletakkan pada salah satu daun timbangan, sedang Laa ilaha illa Allah diletakkan pada daun timbangan yang lain, maka Laa ilaha illa Allah niscaya lebih berat timbangannya.” (Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan menyatakan bahwa hadits ini Shahih)
Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari ‘Itban: “Sesungguhnya Allah mengharamkan kepada neraka orang yang berkata: Laa ilaha illa Allah (Tiada sesembahan yang hak selain Allah), dengan ikhlas dari hatinya dan mengharapkan (pahala melihat) Wajah Allah.”

Wallahu a’alam bisshowab